Ahli Membaca Ekspresi Pasangan? Kemampuan Ini Bisa Membuat Hubungan Langgeng

kemampuan membaca emosi
Foto: www.gettyimages.com
Terakhir diperbarui:

Kabar baik untuk kamu yang memiliki kemampuan membaca emosi pasangan. Pasalnya, kemampuan ini sangat bermanfaat dalam menguatkan hubungan kalian berdua. Namun, hal yang sama tidak berlaku jika emosi yang dikeluarkan pasangan adalah perasaan marah atau benci, kata sebuah studi baru.

Apa yang Dilakukan Studi ini?

Sebuah tim psikolog dari Universitas Rochester dan Universitas Toronto mencoba mencari tahu kapan kemampuan membaca emosi (yang disebut "akurasi empatik") berguna dan menjadi ancaman. Studi juga menganalisa apakah persepsi yang akurat dalam hubungan romantis bisa mendorong pasangan untuk mengubah perilaku atau kebiasaan.

Untuk studi ini, para peneliti melibatkan 111 pasangan yang telah berhubungan selama kira-kira tiga tahun. Di sebuah seting laboratorium, mereka mendiskusikan aspek apa yang ingin diubah dari pasangan (termasuk karakter, perilaku, dll). Setiap partisipan mendapatkan kesempatan untuk menjadi pihak yang meminta dan diminta untuk berubah.

Hasilnya? Ada beberapa kesimpulan penting, di antaranya:

  • Pasangan yang secara akurat mengartikan appeasement emotions (seperti rasa malu) memiliki hubungan yang lebih baik.
  • Pasangan (satu atau kedua belah pihak) yang merasakan emosi negatif, entah emosi tersebut dirasakan secara akurat atau tidak oleh pasangannya, memiliki hubungan yang lebih lemah.
  • Akurasi membaca emosi orang lain tidak meningkatkan motivasi untuk memperhatikan permintaan pasangannya untuk berubah.

Mengapa Kemampuan Membaca Emosi Memengaruhi Hubungan?

Mengapa kemampuan membaca appeasement emotions lebih memberikan dampak positif bagi hubungan?

"... Hal tersebut bisa diartikan oleh pasanganmu bahwa kamu peduli pada perasaannya dan menyadari bahwa meminta dia untuk berubah bisa jadi adalah sesuatu yang menyaktikan," jelas Bonnie Le, salah satu peneliti.

Baca Juga :  Bisakah Mengetahui Kepribadian dari Kesan Pertama saat Kencan Pertama? Kata Studi "Iya"

Sementara "jika pasanganmu marah atau menunjukkan rasa benci—ini disebut emosi dominan—ini bisa memberikan sinyal yang sangat berbeda, informasi negatif yang bisa melukai pasangan jika mereka bisa mengidentifikasinya." Dan hal ini juga bisa "menggoyang kepercayaanmu dalam sebuah hubungan."

Tidak ada hubungan yang sempurna (bahkan mungkin hubungan Cinderella dan Prince Charming) dan konflik adalah sebuah bagian pasti dari sebuah hubungan. Nah, jika kamu ingin meminta pasangan agar mengubah sesuatu (kebiasaan borosnya, gaya hidup tidak sehat, dll), ada sebuah cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi konflik. Namanya, komunikasi langsung.

Penelitian memperlihatkan bahwa komunikasi langsung, entah sifatnya positif atau negatif, lebih ampuh mendorong seseorang untuk berubah dalam jangka waktu yang pajang. Namun yang perlu kamu perhatikan adalah nada emosional ketika meminta pasangan berubah.

"Bukanlah sesuatu yang negatif ketika merasa sedikit segan dan malu ketika membicarakan isu-isu tertentu karena pasangan bisa melihat bahwa kamu peduli dan penting untuk dia melihat perasaan tersebut," kata Le.

Dengan memperlihatkan perasaan tersebut, kamu memberikan sinyal kepada pasangan bahwa dengan melakukan ini mungkin dia akan terluka, tapi kamu peduli dan tidak berkomitmen tidak akan merusak hubungan. "Dan jika pasangan mengenali ekspresi tersebut, hal ini akan membuat hubungan kalian lebih positif."

Selanjutnya: Apa Artinya "Komitmen" dalam Hubungan? Ini Penjelasan seorang Psikolog.