Bagaimana Berdamai dengan Inner Child yang Terluka

inner child
Foto: www.canva.com

Mungkin kebanyakan dari kita sering mencoba untuk membenci diri sendiri karena merasa memiliki banyak kekurangan. Tanpa disadari, terkadang hal-hal tersebut bisa terjadi karena inner child yang ada di dalam diri sedang terluka. Lantas pertanyaannya, apakah bisa mengatasi hal tersebut?

Simak penjelasan dari Try Yulike S. Wuwung, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Anak dari Biro Triantama Sentosa, yang akan menjelaskan terkait inner child dan cara mengatasinya ketika terluka.

Apa Itu Inner Child?

inner child
Foto: www.freepik.com

Try menjelaskan bahwa “inner child adalah bagian atau sisi anak-anak yang melekat dalam diri kita dan tidak ikut ‘tumbuh’ dewasa walaupun usia seseorang sudah dewasa. Selain itu, bisa juga dikatakan sebagai siapa diri kita yang sebenarnya (real self),” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa nantinya, inner child ini juga akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter atau kepribadian seseorang. Serta bagaimana cara ia merespons terhadap lingkungan sekitar,” lanjutnya.

Biasanya, seseorang bisa memiliki inner child karena dipengaruhi oleh peristiwa yang ia alami di masa lalu, terutama di masa kecil. “Misalnya seperti pola asuh yang salah atau adanya kekerasan, pengabaian, dilecehkan, di-bully, atau lainnya,” jelasnya.

Inner child ini ketika seseorang merasa “belum bisa memaafkan, belum mampu berproses atau healing (menyembuhkan) terhadap pengalaman masa lalu kita yang tidak menyenangkan. Terutama yang berkaitan dengan pengasuhan dari masa kecil orang tersebut,” tambahnya.

Apakah Inner Child dapat Berdampak pada Kehidupan Seseorang?

Foto: www.freepik.com

Menurut Try, inner child dapat berdampak pada kehidupan. “Seseorang yang tidak dapat ‘menyembuhkan diri’ atau berdamai dengan masa lalunya, akan membawa ‘luka’ tersebut hingga dewasa,” ungkapnya.

Hal itu nantinya dapat “membentuk kepribadian atau perilaku orang tersebut. Biasanya mereka akan memberikan respons yang kurang tepat atau lebih mudah ‘terpancing’. Terutama ketika dihadapkan pada situasi yang mirip dengan pengalaman yang ia alami di masa lalu,” imbuhnya.

Inner child ini pada akhirnya juga dapat memengaruhi pola seseorang dalam pengasuhan. Misalnya, seperti anak yang punya pengalaman dipukul ketika berbuat salah, cenderung melakukan hal yang sama (memukul) saat menghadapi perilaku anak yang dinilai salah,” ujarnya.

Bagaimana Jika Sisi ‘Anak-anak’ Ini Terluka?

inner child
Foto: www.unsplash.com

Umumnya, sisi anak-anak yang melekat pada diri kita yang telah dewasa ini juga bisa terluka. Biasanya disebabkan saat “memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu, terutama pada masa kecil. Serta kita tidak bisa meregulasi atau memproses dalam diri atas pengalaman tersebut,” paparnya.

“Selain itu, bisa juga disebabkan karena belum bisa untuk memaafkan dan berdamai dengan pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut,” lanjutnya.

Namun, bagaimana mengenali tanda saat inner child sedang terluka?

“Ketika kita memberikan reaksi yang berlebihan atau tidak tepat terhadap situasi yang tidak menyenangkan. Terutama jika kondisi tersebut serupa dengan pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu,” jawabnya.

“Kita juga akan merasa bahwa dunia tidak dapat memberikan rasa aman, sehingga menjadi insecure. Tak jarang pula seseorang yg terluka inner child-nya selalu memiliki pandangan atau pikiran negatif terhadap lingkungan sekitar,” imbuh Try.

Bagaimana Cara Mengatasi Inner Child yang Terluka?

Foto: www.freepik.com

Ketika sisi anak-anak terluka, hal yang bisa kita lakukan adalah dengan berusaha untuk memahami dan mengenali diri sendiri. “Memvalidasi dan menerima secara jujur tentang emosi yang kita rasakan, bagaimana sensasinya terhadap tubuh, dan memprosesnya sehingga emosi negatif yang kita rasakan dapat ‘tersalurkan’ dengan baik,” sarannya.

Tak hanya itu, perlu juga untuk memahami bahwa masa lalu tidak dapat diubah. Tetapi kita bisa mengubah cara pandang dan berpikir kita terhadap pengalaman masa lalu tersebut. 

“Dengan pemahaman tersebut, akan lebih mudah bagi kita untuk berproses terhadap pikiran dan perasaan terhadap pengalaman emosional di masa lalu. Sehingga kita juga dengan mudah dapat berdamai dengan masa lalu,” papar Try.

Jika sampai “memunculkan perilaku yang sudah sangat mengganggu akibat dari inner child yang belum terselesaikan, serta tidak mampu untuk mengatasinya sendiri, maka bisa mencari bantuan profesional untuk mendapat intervensi yang tepat,” anjurnya.

Apakah hanya dengan melupakan pengalaman lampau bisa menyembuhkan inner child yang terluka?

“Tidak, karena melupakan sifatnya hanya sementara. Kita tidak menyembuhkan ‘luka’  yang masih ada dan tersimpan di dalam diri. Sehingga ketika ada peristiwa yang memancing inner child kita di kemudian hari, maka secara refleks tetap dapat memberikan respons yang tidak sesuai,” jawabnya.

Bagaimana Jika Masih Sulit untuk Berdamai?

Foto: www.freepik.com

Psikolog anak yang satu ini menyarankan untuk “mencoba memvalidasi dan menerima emosi yang kita rasakan. Serta mengubah cara berpikir ke arah yang lebih positif terhadap pengalaman masa lalu. Kita juga bisa mencoba untuk menuliskan tentang apa yang kita rasakan, ‘berdialog’ dengan diri kita (anak kecil) yang pada saat itu terluka, butuh kasih sayang, dan rasa aman,” anjurnya.

Kemudian, dengarkan sisi dari anak-anak kita tersebut, memahaminya, dan memberinya kasih sayang. Jika masih mengalami kesulitan dan merasa sangat mengganggu kehidupan sehari-hari maka, dapat meminta bantuan profesional agar mendapat intervensi yang tepat,” lanjutnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Berproses untuk mengubah cara berpikir kita terhadap masa lalu yang menyakitkan memanglah tidak mudah. “Tapi ketika kita bersedia dan membuka diri untuk menjalani prosesnya, maka akan lebih mudah untuk mengobati ‘luka’ yang tersimpan,” ujar Try.

“Sehingga nantinya kita lebih mampu untuk memberikan respons yang tepat terhadap lingkungan sekitar, terutama pada pengasuhan ke anak kita nantinya. Tetaplah bersabar pada diri sendiri, tidak memaksakan diri, tetap mencintai diri sendiri, dan jangan pantang menyerah selama menjalani proses (healing) yang mungkin ada ‘naik-turun’-nya,” pesannnya.