Mengapa Sejumlah Influencer Enggan Memakai Masker?

Foto: www.rawpixel.com

Oke, sebenarnya tidak hanya orang beken yang sepertinya tidak memakai masker, orang biasa juga banya yang memilih untuk tidak mengenakannya saat berada tempat publik atau mengobrol dengan orang asing (staf resto, pengemudi online). Namun, berhubung mereka memiliki banyak follower yang menjadikan mereka sebagai sumber inspirasi, ini membuat kita bertanya-tanya, “mengapa, oh mengapa, para influencer memilih tidak memakai masker?” Oleh karena tidak hanya ingin mengerti, tapi juga menemukan solusi, LIMONE menghubungi Maharani K.,M.Psi.,Psikolog, seorang psikolog klinis.

Baca artikel ini sampai habis untuk mengetahui mengapa seseorang, terlebih orang terkenal, enggan memakai masker di saat pandemik ini.

Apa yang Membuat Seseorang Mau Memakai Masker Seperti Anjuran Ahli?

menolak memakai masker
Foto: www.unsplash.com

Faktor kepatuhan/ketaatan, menurut Maharani, memegang peranan penting bagi seseorang untuk mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah/para ahli.

Obedience/compliance (kepatuhan) adalah sebuah sikap disiplin dari diri seseorang untuk mematuhi anjuran/aturan tertentu, dengan penuh kesadaran. Jadi, sikap patuh ini adalah pilihan bebas dari masing-masing individu, dan dilandasi dengan adanya keinginan secara sadar untuk bersikap patuh dan menaati anjuran kesehatan,” jelasnya kepada LIMONE melalui pesan singkat.

Artinya, individu memilih untuk melakukan, mematuhi, merespon secara kritis terhadap aturan, hukum, norma sosial, permintaan maupun keinginan dari seseorang, bukan dengan suatu paksaan, lanjutnya.

Dan kepatuhan dapat dilihat jika seseorang mempercayai (belief), menerima (accept) dan melakukan (act) sesuatu atas permintaan atau perintah orang lain.

“Jadi, kalau seseorang sudah sampai tahap melakukan social distancing dan memakai masker wajah, di situ ada unsur kepercayaan bahwa anjuran tersebut memang penting dan perlu untuk dilakukan. Menerima bahwa anjuran tersebut baik adanya bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya, dan tindakan nyata dari orang tersebut untuk mengikuti anjuran/saran ahli,” paparnya.

Selaini itu, situasi yang berubah dengan cepat (PSBB, dsb) dan mendadak ini, menurut Maharani, juga meningkatkan kemungkinan seseorang untuk bertindak menaati anjuran/aturan yang ditetapkan. “Dalam hal ini, desire (keinginan) juga memegang peranan penting dalam menentukan seseorang mengikut/tidak anjuran kesehatan dari ahli,” tegasnya.

Apa Sebenarnya yang Terjadi Saat Seseorang Tidak Memakai Masker?

Foto: www.rawpixel.com

“Ada sebuah istilah mengatakan bahwa, ‘change behavior in response to the command of others— perubahan sikap dan tingkah laku seseorang untuk mengikuti permintaan atau perintah orang lain’. Ada yang mengatakan kepatuhan (obedience) merupakan salah satu jenis dari pengaruh sosial, yaitu ketika seseorang menaati dan mematuhi permintaan orang lain untuk melakukan tingkah laku tertentu, karena adanya unsur power,” jelasnya.

Apakah hal ini berhubungan dengan sesuatu yang disebut ‘superiority?’

Power ini diartikan sebagai suatu kekuatan atau kekuasaan yang memiliki pengaruh terhadap seseorang atau lingkungan tertentu. Jadi bisa dikatakan begitu, bahwa ini adalah salah satu bentuk superiority, karena mengandung unsur power di dalamnya, dari seorang ahli/pemerintah, kepada rakyat.”

Maharani menerangkan bahwa kepatuhan sendiri memiliki empat unsur utama, yaitu:

  1. Adanya pihak yang memiliki otoritas yang menuntut kepatuhan.
  2. Adanya pihak yang dituntut untuk melakukan kepatuhan.
  3. Adanya obyek atau isi tuntutan tertentu dari pihak yang memiliki otoritas untuk dilaksanakan oleh pihak lain, dan
  4. Adanya konsekuensi dari perilaku yang dilakukan. 

“Jadi ketaatan memang terkadang mengandung unsur-unsur superiority dari pihak yang superior kepada pihak yang inferior. Namun, tujuan dari power tersebut bisa positif bisa pula negative. Meskipun, dalam hal anjuran kesehatan ini, lebih mengarahkan pada sisi positif agar tatanan masyarakat menjadi lebih sehat, lebih baik dan harmonis di situasi pandemik,” jelasnya.

Mengapa Ada yang Memiliki Pikiran Bahwa Dirinya “Tidak Akan Pernah Terjangkit Seperti Orang Lain?”

Foto: www.rawpixel.com

Untuk poin satu ini, Maharani menerangkan ada tiga faktor yang mempengaruhi pola pikir ‘aku tidak terjangkit penyakit tersebut’, yakni karakter, kepercayaan, lingkungan.

Faktor Karakter

Dalam hal ini termasuk emosi, temperamen dan semua unsur dalam kepribadian seseorang yang akan mempengaruhi pola perasaan dan cara berpikirnya.

“Seseorang yang memiliki kepribadian over PEDE misalnya, akan berpikir bahwa dirinya tidak akan terjangkit, karena dia sehat, karena dia bergaul dengan orang-orang atau lingkungan yang sehat pula, sehingga merasa tidak perlu menaati aturan pemerintah soal kesehatan,” jelasnya.

Faktor Kepercayaan

“Kepercayaan, keyakinan atau belief juga sangat penting,” katanya.

“Misalnya ketika kita percaya dan menyadari bahwa pandemik harus disikapi dengan serius, karena bukan hal remeh yang main-main, maka kita akan dengan ikhlas mengikut anjuran pemerintah tersebut,” jelasnya.

“Irasional juga akan berpengaruh, misalnya percaya bahwa akan ada sosok-sosok penyelamat datang menyelamatkannya dari penyakit, maka tidak perlu menaati anjuran ahli dan pemerintah.” 

Faktor Lingkungan

Tentunya, nilai-nilai di dalam lingkungan seseorang akan berpengaruh pada diri orang tersebut. Jika seseorang bergaul dengan orang—atau lingkungannya, cenderung menaati anjuran pemerintah, maka ia akan tergerak untuk mengikutinya.

“Keyakinan-keyakinan yang dianut di lingkungan sekitar tempat ia tinggal akan sangat berpengaruh terhadap diri seseorang,” tekannya.

Lalu, bagaimana dengan faktor ‘pilihan’?

Maharani menerangkan bahwa kepatuhan atau ketaatan dapat menentukan sikap seseorang dalam menentukan sebuah pilihan atau sikap yang akan diambilnya. “Dalam hal ini kontrol diri memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan pilihan sikap tersebut,” imbuhnya.

Menurutnya, ada tiga jenis kontrol diri, yakni over control, under control, dan appropriate control.

Over control adalah reaksi yang sangat kurang, pasif terhadap suatu anjuran/stimulus/perintah akibat terlalu menahan diri. Sedangkan under control adalah bersikap atau bereaksi berlebihan terhadap suatu stimulus, jadi akhirnya bersikap secara over atau berlebihan. Sementara itu, appropriate control adalah kontrol diri yang tepat dalam menyikapi sebuah situasi atau permasalahan.

“Nah, orang-orang yang berpikir dirinya tidak akan terjangkit, mungkin berada dalam control diri yang under, atau over, sehingga itu mempengaruhi sikap, perilaku dan cara berpikirnya. Bawah dirinya tidak akan terjangkit, karena caranya bereaksi terhadap suatu masalah yang tidak tepat,” paparnya.

Dalam Hal Public Figure, Apakah Mereka Menyadari Tindakan Mereka Mempengaruhi Banyak Orang?

menolak memakai masker
Foto: www.freepik.com

“Mungkin iya, mungkin juga tidak,” jawab Maharani.

“Karena ini adalah tanggungjawab personal dari si public figure tersebut, mau memberikan dampak positif atau negatif pada masyarakat dan para follower-nya,” tambahnya.

“Bisa jadi public figure tersebut merasa memiliki otoritas sepenuhnya sebagai seorang public figure, sehingga muncul sikap egosentris yang tidak memedulikan lingkungan sekmaitar, maupun dampak yang ditimbulkan dari sikap dan pilihannya. Sehingga tidak ada rasa bersalah ketika sikapnya membawa dampak negatif bagi masyarakat,” jelasnya.

Penjelasan lain, menurut Maharani, seorang influencer atau selebriti, bisa jadi memilih untuk (misalnya tidak memakai masker atau melakukan social distancing) karena ingin mencari sensasi sesaat atau menaikkan pamornya. Yakni, dengan mengambil sikap yang berbeda dari orang-orang kebanyakan di sekitarnya.

“Setelah itu dia pasti akan jadi bahan perbincangan di tengah masyarakat, dan ini bisa membawa keuntungan untuk menaikkan namanya di tengah situasi pandemik seperti ini,” ujarnya.

“Sekali lagi, dalam setiap pengambilan keputusan diperlukan kesadaran sepenuhnya, keyakinan yang utuh, serta faktor kepribadian dan lingkungan sangatlah berpengaruh. Jadi, setiap pilihan tentu diambil dengan kesadaran sepenuhnya, meskipun dampak yang ditimbulkan di belakangnya terkadang tidak dipikirkan oleh public figure tersebut,” tekannya.

Adakah yang Bisa Dilakukan oleh Para Follower yang Idolanya Melakukan Hal Tersebut?

menolak memakai masker
Foto: www.unsplash.com

Jawabannya: ada. Caranya?

“Sekarang social media sangatlah canggih dan terbuka. Kita bisa memberikan kritik atau masukan dalam bentuk kata-kata yang asertif, dan ajakan yang persuasif agar public figure ini juga memiliki kesadaran yang sama untuk turut menjaga kesehatan masyarakat melalui anjuran ahli medis. Misalnya mengkritik lewat Instagram, twitter, dan sebagianya,” Maharani memberikan ide.

“Yang kedua, kita harus memiliki kesadaran dan pilihan untuk lebih memilih sosok-sosok public figure yang menginspirasi dan membawa dampak positif pada diri kita. Jadi, ketika kita bergerak bersama-sama, lama-lama pamor dari public figure ini juga akan hancur karena sikapnya sendiri, yang membawa pengaruh kurang sehat pada masyarakat,” tambahnya.

Kira-kira apa yang membuat mereka mungkin mau berubah pikiran dan mengikuti anjuran ahli medis?

“Tentu dibutuhkan unsur penerimaan, kesadaran, kemauan, barulah akan berbuah pada action nyata untuk mengikuti anjuran ahli medis,” tegasnya.

Jika unsur-unsur pendahulunya tidak ada, “dia dan tetap kekeuh, yakin menganggap bahwa dirinya sehat dan tidak akan terjangkit, maka tidak ada yang bisa dilakukan agar orang tersebut menaati anjuran ahli medis,” bebernya.

Kecuali…

“Kecuali jika sudah betul2 mendapat paksaan atau hukuman, atau jika sudah mengalaminya sendiri, dalam hal ini benar-benar terjangkit. So, pengaruh lingkungan sekitar untuk mendorong orang tersebut dan menumbuhkan keyakinan serta keinginannya untuk taat pada anjuran sangatlah penting. Jadi, diharapkan pola pikirnya akan berubah, kemauannya mulai muncul, dan timbul aksi nyata dalam tindakan sehari-harinya untuk mengikuti anjuran para ahli,” tandasnya.

Kesimpulan

Pakai masker dan jaga jarak, meski idolamu memilih untuk tidak melakukannya. Lalu, mari lebih bijak memilih idola. Karena seperti yang dikatakan banyak orang di media sosial, ‘stop making stupid people famous!’

Selanjutnya: Ini panduan bijak menggunakan media sosial di 2020.