Tanya Ahli: Haruskah Anak Tetap Imunisasi saat Pandemi?

imunisasi saat pandemi
Foto: www.istockphoto.com
Terakhir diperbarui:

Iya atau tidak: membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi di masa pandemi? Untuk mendapatkan jawabannya, LIMONE menghubungi dr. Martinus Martin Leman, D.T.M.H, Sp.A, seorang Dokter Anak di RS Sentra Medika Cibinong.

Mengapa Penting Memberikan Vaksin Anak Tepat Waktu?

imunisasi saat pandemi
Foto: www.pexels.com

“Vaksin harus diberi tepat pada waktunya karena pada dasarnya vaksin itu dibuat jadwalnya oleh para ahli berdasarkan penelitian di mana penelitian itu sudah memperhitungkan kapan masa terbaik untuk pemberian vaksin. Masa terbaik ini berkaitan dengan kondisi tubuh yang sedang membuat perkembangan antibodi,” jelas Dokter Martin.

Dokter Martin menambahkan bahwa jadwal pun dibuat berdasarkan penelitian yang cukup lama untuk memastikan hasil yang diperoleh itu akan menimbulkan antibodi yang maksimal.

Selain itu, alasan mengapa vaksin sebaiknya diberikan tepat adalah karena vaksin itu akan berkesinambungan pemberiannya sehingga memang ada urutan yang diperhitungkan secara ilmiah yang akan memberikan hasil akhir kadar antibodi paling optimal.

Jika kamu mendapati bahwa jadwal vaksin tertentu di Indonesia berbeda dengan negara lain, itu juga ada alasannya. Pasalnya, selain faktor ilmiah tadi, jadwal imunisasi dibuat juga dengan mempertimbangkan faktor teknis serta epidemiologi dan jenis vaksin yang diberikan.

Penjelasan di atas mungkin membuat kamu bertanya-tanya: apa yang terjadi jika pemberian vaksin terlambat?

“Ada beberapa vaksin yang bila ditunda akan menjadi masalah, ada vaksin yang ditunda tidak jadi masalah. Jadi balik lagi ke jadwal tadi yang itu sudah diperhitungkan dampak dan manfaatnya,” jelasnya.

Lebih lanjut Dokter Martin menerangkan bahwa ada beberapa vaksin yang bila diberikan secara terlambat tetap dapat memberikan hasil yang cukup baik. Namun ada beberapa vaksin yang memberikan efek imunitas yang lebih rendah sehingga tidak direkomendasikan lagi bila sudah terlembat.

“Hal lain yang juga menjadi pertimbangan adalah karena urutannya. Jadi kalau ada satu yang mundur, biasanya vaksin-vaksin di belakangnya yang bisa seharusnya diberikan lebih lanjut, jadi bergeser. Dampak yang tidak diinginkan adalah dikhawatirkan paparan kuman atau infeksi secara alamiah sudah terlanjur terjadi sebelum vaksinnya diberikan. Sehingga anak keburu terkena penyakit sebelum waktu vaksin tersebut diberikan.

Apakah Imunisasi Harus Tetap Dilakukan Saat Pandemi?

Foto: www.xframe.io

“Justru harus tetap diberikan, justru tidak boleh ditunda sebetulnya,” tegasnya.

Pasalnya, walaupun dalam situasi pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, penyakit-penyakit yang ada yang selaama ini dicegah dengan imunisasi tetap saja ada. Campak tetap ada. Difteri tetap ada. Tetanus ada. Semua itu tetap ada dan tetap jadi ancaman.

“Jadi, tidak berarti dengan adanya pandemi COVID-19 lalu penyakit-penyakit itu tidak ada lagi. Justru menjadi bahaya kalau sekarang tidak diberikan karena terjadi kekosongan atau masa di mana tidak diberikan vaksin dan terjadi kemungkiann infeksi dari penyakit-penyakit tersebut,” paparnya.

“Yang ada kita belum selesai menghadapi pandemi ini, bisa bertambah dengan wabah-wabah baru penyakit-penyakit yang sebetulnya sudah bisa dicegah dengan imunisasi.” tambahnya.

Dokter Martin menerangkan bahwa beberapa waktu lalu sudah sempat ada indikator kasus di mana ditemukan beberapa peningkatan kasus difteri dan ini berkaitan dengan tutupnya beberapa posyandu, berhentinya pelayanan imunisasi sekitar satu bulan.

“Dan ini dampaknya tampak sekali dari jumlah kasus yang lebih banyak dari biasanya. Ini harus segera ditindaklanjuti. Dalam arti vaksin harus tetap dijalankan kembali agar tidak ada wabah tambahan, misalnya wabah difteri, wabah morbili atau campak, saat kita sedang berjuang melawan pandemi COVID-19 ini,” tekannya.

Bagaimana Jika Orang Tua Memilih untuk Menunda Imunisasi Saat Pandemi?

imunisasi saat pandemi
Foto: www.rawpixel.com

Menurut Dokter Martin, jika orang tua menunda vaksinasi dasar, dampaknya anak-anak mereka akan berada posisi rentan, yaitu mudah terkena penyakit-penyakit yang sebetulnya bisa dicegah dengan imunisasi.

“Bisa dibayangkan betapa repotnya bila terjadi infeksi yang menyebabkan anak sampai berat dan dirawat dalam situasi seperti ini. Contohnya sekarang sedang dalam masa pandemi COVID-19 ini, seorang anak yang mengalami tidak diimunisasi difteri lalu akhirnya terkena difteri, maka ia akan harus dirawat di rumah sakit dalam suasana penuh pandemi. Akan menjadi sebuah kondisi yang sangat menyulitkan baik bagi orang tua maupun bagi dokter yang menangani,” paparnya.

Selain itu, “juga sebetulnya ada beberapa temuan di mana anak-anak itu relatif tidak mudah terkena COVID-19, diduga salah satunya karena anak-anak itu memiliki kekebalan secara umum yang lebih tinggi. Kekebalan atau daya tahan tubuh yang lebih tinggi ini secara tidak langsung dipengaruhi dengan riwayat imunisasi-imunisasi vaksin-vaksin penyakit lain sebelumnya,” katanya.

Eits, bukan berarti vaksin COVID-19 ini sudah ada atau tidak perlu. “Namun dengan dia sudah memiliki kekebalan tubuh secara umum yang ditimbulkan oleh vaksin-vaksin lainnya yang sebelumnya dia dapat, membuat kondisi tubuhnya relatif lebih memiliki kadar antibodi yang tinggi. Ini yang satu hal diduga menjadi penyebab kenapa pada anak-anak relatif jarang terkena virus ini,” bebernya.

Ada beberapa penelitian yang menemukan bahwa anak-anak yang imunisasinya lengkap pada waktu kecil (pada waktu bayi), menjadi jauh lebih kecil kemungkinannya terkena COVID-19. “Ya, salah satunya adalah karena imunitas secara keseluruhan yang lebih tinggi daripada orang lain atau orang dewasa atau orang lanjut usia yang tidak memiliki imunisasi yang baik.

Bagaimana Jika Orang Tua Menunda Imunisasi Anak karena Takut Pandemi?

Foto: www.rawpixel.com

“Penundaan imunisasi dengan alasan takut karena COVID-19 sebetulnya menjadi hal yang tidak berdasar,” ucap Dokter Martin.

“Memang pada awal pandemi COVID-19 ada beberapa imbauan bahwa anak untuk tidak perlu ke rumah sakit bila tidak betul-betul perlu. Tetapi anjuran itu ‘kan pada saat awal ketika rumah sakit belum mempersiapkan diri menjalani protokol kesehatan agar tidak terjadinya penularan di rumah sakit,” jelasnya.

Nah, setelah tidak sampai satu bulan, rumah sakit sudah mempersiapkan prosedur dan protokol agar tidak terjadi kontaminasi di rumah sakit. Contohnya dengan melakukan pemisahan poli klinik anak sehat dan anak yang sakit, dan pembatasan dan penyeleksian dari orang yang datang ke rumah sakit. 

“Jadi sebetulnya memang kita memaklumi jika awal-awal itu orang takut ke rumah sakit untuk memberikan vaksinasi. Namun setelah rumah sakit berbenah menyiapkan protokol dan sudah disiapkan prosedur-prosedur vaksinasi yang aman, sebetulnya tidak usah lagi dikhawatirkan,” sarannya.

Jika masih khawatir, Dokter Martin menganjurkan agar orang tua mengecek juga apakah rumah sakit yang akan dituju sudah memilah memisahkan antara anak yang sakit dengan anak yang imunisasi.

Selain itu, saat di rumah sakit, orang tua maupun pasien juga harus menyiapkan agar tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan penularan, misalnya tidak bergerombol di rumah sakit, melakukan pendaftaran secara online, memastikan dokternya ada jam berapa dan sebagainya.

“Sehingga berjalan efektif. Bagaimana pun tidak dianjurkan untuk menunda lagi imunisasi supaya tidak terjadi lagi masalah yang lebih besar dari pandemi ini,” ujarnya.

Bagaimana Mengatasi Rasa Takut Tersebut?

Foto: www.rawpixel.com

Oh, Dokter Martin mengatakan bahwa rasa takut tertular COVID-19 yang dirasakan orang tua adalah sesuatu yang manusiawi dan sangat bisa dimaklumi. “Namun yang memang harus dilakukan adalah jangan karena ketakutan itu, kita tidak melakukan apa pun,” tambahnya.

Untuk mengatasi rasa takut ini, Dokter Martin membocorkan beberapa trik berikut ini:

1. Ketika mau imunisasi pastikan rumah sakit sudah melakukan pemilahan ruangan ruangan imunisasi dan ruangan anak sakit. Kemudian ruang tunggunya juga sudah dipisahkan. 

2. Persingkat sebisa mungkin kunjungan ke rumah sakit. “Caranya dengan melakukan pendaftaran online terlebih dahulu sehingga berkas sudah siap, memastikan dokternya ada jam berapa, sehingga jangan sampai datang ternyata tidak ada. Dan bila memungkinkan untuk tidak usah berlama-lama menunggu di rumah sakit. Misalnya trik yang bisa dilakukan adalah ketika ternyata antreannya masih lama, bisa saja menunggunya di mobil sehingga ketika sudah waktunya dekat bisa baru datang ke tempat poliklinik,” ujarnya.

3. Jangan bergerombol atau bermain-main dengan pasien lain, bersentuhan dengan pasien lain, dan menghindari memegang benda-benda yang tidak perlu. Misalnya si Kecil malah main-main naik turun tangga, main-main di tempat bermain dan sebagainya, sehingga risiko paparan menjadi lebih tinggi. 

“Tenaga medis, baik itu dokter maupun perawat saya rasa semua sudah melakukan protokol dengan menggunakan APD dengan mensterilkan, mendisinfektan setiap ruangan setiap kali dipakai, sehingga tidak terjadi kontaminasi,” terangnya.

Oh satu lagi: “Dan yang paling penting bisa juga sebisa mungkin berkomunikasi dengan dokter yang menangani selama ini. Sehingga orang tua memperoleh kenyamanan dan kesepakatan bagaimana melakukan tindakan yang terbaik dan aman,” sarannya.

Kesimpulan

imunisasi saat pandemi
Foto: www.freepik.com

Meski dunia, termasuk Indonesia, sedang dilanda pandemi COVID-19 dan ada imbauan dari pemerintah untuk membatasi aktivitas di luar rumah, tapi imunisasi anak saat pandemi sebaiknya tetap harus dilakukan.

“Yang pertama tentunya kami tidak merekomendasikan untuk menunda imunisasi bila tidak ada indikasi medis. Penundaan imunisasi hanya dibenarkan bila memang ada indikasi medis, misalnya anaknya sakit, anaknya demam, atau jadwalnya memang belum ada,” tekannya.

“Namun kalau memang seperti yang dikatakan orang tua memiliki alasan tertentu yang akhirnya anaknya membuat anak tidak imunisasi, ya tentunya harus menghindari anaknya terpapar penyakit,” sarannya.

Di sini, penerapan protokol kesehatan memiliki peranan sangat penting.

“Sebetulnya dengan melakukan social distancing, lalu tetap di rumah, rajin cuci tangan, tidak pegang-pegang muka dan mata sering-sering, itu secara tidak langsung juga menurunkan penularan semua jenis penyakit yang menular melalui udara, airborne, maupun droplet. Meski memang mencegah segala penyakit, namun tidak memberikan kekebalan terhadap penyakit-penyakit itu di masa yang akan datang,” Dokter Martin mengingatkan.

Jadi bagaimana jika orang tua tetap memilih menunda memberikan imunisasi anak di masa pandemi?

“Harus dikomunikasikan juga dengan dokternya bisa ditunda sampai kapan. Ada beberapa vaksinasi yang sangat tidak direkomendasikan untuk ditunda dan tidak diberikan lagi bila sudah lewat waktunya. Misalnya vaksin rotavirus itu setelah 6 bulan ‘kan tidak diberikan lagi. Atau sebaliknya, contoh lain, vaksin tifoid yang biasa diberikan dalam usia 2 tahun bila ditunda satu, dua, atau tiga bulan juga tidak terlalu berdampak terhadap antibodinya kecuali memang dampaknya adalah risiko paparan jadi lebih tinggi,” paparnya.

Kesimpulannya, Dok?

“Jadi baiknya berkomunikasi dengan dokternya. Pastikan imunisasi yang bisa ditunda yang mana, kapan batas terakhirnya, dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah supaya tidak terkena penyakit tersebut,” pungkasnya.