Hubungan Cinta Makin Pelik: Lebih Baik ‘Break’ atau Putus?

Foto: www.shutterstock.com
Last updated:

Bagaimana kamu menggambarkan status hubunganmu saat ini? Rumit? Di titik nadir? Atau baik-baik saja. Jika jawabanmu adalah yang terakhir, selamat! Akan tetapi jika saat ini kamu masih sayang dengan si dia, tapi pengen ‘istirahat’ sebentar—apa yang sebaiknya dilakukan? Sambil mengunyah KitKat, mari membaca penjelasan tentang: lebih baik ‘break’ atau putus?

Alasan Seseorang Ingin ‘Break

Hubungan apa pun pasti diwarnai tanda ‘likes‘, ‘jempol ke bawah’, dan kolom komentar diisi dengan kata-kata sayang atau pedas. Baca: ada naik-turunnya.

Break terjadi karena rasanya hampir tak sanggup, atau mulai muncul pertanyaan hubungannya mau dibawa kemana,” jelas Menurut Psikolog Klinis, Veny Mulyani, S.Psi, M.Psi. “Mulai merasakan ketidakcocokan secara value, prinsip, visi/misi, sikap dan sebagainya,” paparnya.

Selaras dengan itu, Kei Savourie, seorang Relationship Coach dan founder KelasCinta, juga berpendapat biasanya break terjadi ketika hubungan dilanda konflik, adanya masalah yang tidak bisa diselesaikan. “Dan berharap break akan bisa membantu menenangkan diri dan meredakan emosi. Begitu ‘kan, teorinya. Tapi kenyataannya nggak gitu.”

Menurut Kei, break ini biasanya diajukan “pihak yang ingin putus, namun belum berani mutusin. Jadi dia mutusin secara halus ya.” Selain itu, ada kemungkinan lain: “Berharap hubungan menjadi baik ternyata sedang dekat dengan orang lain,” jelasnya melalui WhatsApp.

Seberapa Penting Mengambil Break?

“Saya tidak menyarankan break. Pikirkan baik-baik lanjut atau benar-benar berakhir,” tegas Veny yang juga bekerja di RS Columbia Asia melalui pesan singkat. “Lebih baik ambil ‘me time’ ya, tapi tidak memutuskan atau break.”

Veny juga mengutarakan bahwa hubungan tidak perlu istirahat, tapi manusianya secara personal. “Manusianya yang butuh istirahat, saat benar-benar jengah dengan aktivitasnya. Mungkin lelah karena bekerja; itu sangat mempengaruh ke hubungan. Cenderung akan emosi dan lebih sensitif.”

Seandainya pun kamu dan dia memutuskan untuk ‘istirahat’, “Jangan berlama-lama bahkan berbulan-bulan. Cukup istirahatkan fisik dan mental serta merenung selama seminggu. Saya lebih prefer dengan me time, daripada break,” saran Veny.

Kei mengamininya, “Kalau di KelasCinta tidak setuju break, karena hanya memperparah renggangnya hubungan. Kalau mau memperbaiki ya, silakan secepat mungkin. Daripada break putus aja sekalian.”

Jangan Lakukan Break Jika…

Seperti yang disebutkan di atas, seringkali ‘break‘ ini sebenarnya adalah sebuah alasan bahwa hubungan tersebut sedang dalam fase bermasalah. Dan berharap break bisa menjadi solusi agar hubungan kembali lagi ke sedia kala ketika tidak bertemu selama seminggu, misalnya. Rindu dan merasa kehilangan mungkin bisa membuat hubungan harmonis? Benar ‘kan, ya?

Break itu hanya menunda putus. Dan break bukanlah solusi yang tepat,” tegas Kei.

Mengapa demikian? “Break langkah yang tidak tepat, karena diinginkan satu pihak yang ingin putus lalu pihak yang satunya digantungi bahkan dicueki nggak jelas,” cetusnya. “Pihak yang digantungi berharap hubungan akan baik, kenyataannya tidak menyelesaikan masalah,” imbuh Kei. “Percuma ujung-ujungnya bakal putus juga. Itu nggak fair pada satu pihak, ya. Hanya keinginan satu orang.”

Selain itu, Kei menyampaikan setelah hilang kontak seminggu atau dua minggu, mungkin emosi kembali reda. Akan tetapi efeknya bisa berbeda bagi hubungan.

“Setelah emosi reda, masalah pun hilang, tapi justru merasa lebih nyaman sendiri dan berpikir ‘Ohya sendiri ternyata enak juga’ nggak diganggu, nggak berantem,’” jelasnya. “Lama-lama terbiasa sendiri. Akhirnya makin lama makin menjauh. Bukan menyelesaikan masalah.”

Lalu, Solusi Terbaik Apa Sebaiknya Dilakukan?

Tidak ada cara break yang baik dilakukan. “Break dampaknya negatif. Jalan yang tepat ya, jangan dilakukan,” terang Kei. Acap kali hubunganmu sedang bermasalah dan bingung harus berbuat apa. Menurutnya, lebih baik lakukan evaluasi hubungan.

“Kalau ada masalah ya, segera diselesaikan. Bila ingin meredakan emosi bisa dengan melakukan evaluasi hubungan,” tukasnya. “Lakukan aja, misalnya dalam sehari, 24 jam. Sekiranya masalahnya berat, boleh hingga 3 hari.”

Jangan lakukan break selama berbulan-bulan. Menurut Kei itu sama saja dengan menunda masalah. Kalau ada masalah “harus segera diselesaikan, kalau tidak akan berlarut-larut hingga hubungan semakin jauh dan merenggang.”

Satu hal lagi, Kei membagikan bahwa kebiasaan break ketika pacaran sebaiknya tidak dipelihara. Takutnya, kamu dan dia menerapkan hal ini begitu hubungan kalian lebih serius, alias menikah. “Kalau udah menikah gimana, masa  iya mau nggak omongan selama berminggu-minggu? Ini akan membuat suasana rumah jadi tidak aman. Alhasil, masing-masing mencari kenyamanan di luar,” tegasnya.

Jadi, bagaimana menurutmu, apakah hubunganmu dan dia mau dilanjutkan? Pikirkan baik-baik. Bila perlu lakukan konsultasi dengan ahli jika dirasa hubungan tersebut masih bisa diselamatkan. Dan untuk mengurangi rasa stres akibat hal ini, coba konsumsi makanan ini.