Sering Pusing dan Lesu? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Hb Rendah Menurut Dokter

hb rendah
Foto: www.freepik.com

Sedang mengalami pusing, tidak bersemangat, dan lesu? Mungkin kamu perlu waspada karena hal tersebut merupakan gejala dari Hb rendah. Ketika kamu memiliki gejala tersebut, maka perlu segera berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah risiko lain yang ditimbulkan.

Simak penjelasan dari dr. Nurul Hidayati, Dokter dari MM Clinic Skin Center Aesthetic Surakarta, terkait penyebab dan cara mengatasi Hb rendah yang dialami.

Apa Itu Hb Rendah?

hb rendah
Foto: www.canva.com

Menurut Dokter Nurul, “Hb rendah atau yang dikenal dengan istilah anemia merupakan suatu keadaan di mana terjadinya penurunan kadar hemoglobin (Hb) di dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Sehingga kebutuhan oksigen jaringan tidak terpenuhi,” ujarnya.

Pasalnya, kadar Hb normal pada wanita dewasa adalah berkisar antara 12-16 g/dL. Sementara untuk kadar Hb normal pada pria dewasa sekitar 14-18 g/dL. Dan untuk kadar Hb normal pada anak-anak berkisar 11-13 g/dL.

Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Hb Rendah?

Foto: www.freepik.com

Dokter Nurul menuturkan bahwa terdapat beberapa penyebab seseorang mengalami Hb rendah, yakni:

Kehilangan darah

“Perdarahan yang bisa mengakibatkan anemia antara lain mimisan, batuk darak, BAB berdarah, dan gusi berdarah. Selain itu, penyebab lainnya adalah menstruasi yang banyak dan lama, buang air kecil berdarah, serta perdarahan di sekitar kulit seperti lebam-lebam di kulit. Perdarahan yang berlangsung lama ini bisa mengakibatkan anemia,” jelasnya.

Berkurangnya produksi sel darah

Anemia juga bisa disebabkan karena berkurangnya produksi sel darah merah di sumsum tulang. “Apabila terjadi gangguan pada sumsum tulang seperti pada anemia aplastik, leukemia dan penyebaran sel tumor ganas ke sumsum tulang, maka terjadi penurunan produksi sel darah merah di sumsum tulang sehingga terjadi anemia,” paparnya.

Meningkatnya pemecahan sel darah merah

Kemudian, Hb rendah juga bisa disebabkan karena meningkatnya destruksi atau pemecahan sel darah merah (anemia hemolitik). “Dalam keadaan normal, sel darah merah berumur 120 hari setelah dibentuk di sumsum tulang. Setelah berumur 120 hari, sel darah merah akan dihancurkan di limpa dan hati,” ungkapnya.

“Pada penyakit tertentu seperti pada infeksi malaria, penyakit talasemia, atau karena obat tertentu, sel darah merah dihancurkan lebih cepat dari seharusnya sehingga keadaan ini menimbulkan anemia yang disebut dengan anemia hemolitik. Anemia hemolitik juga dapat terjadi akibat penyakit autoimun seperti pada penyakit lupus yang diderita oleh seorang pasien,” imbuh Dokter Nurul.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko anemia pada seseorang, yaitu:

  • Diet atau konsumsi makanan yang tidak seimbang seperti rendah zat besi, vitamin B12 dan asam folat.
  • Mengalami gangguan pencernaan yang menyebabkan gangguan penyerapan zat gizi dari makanan.
  • Kehilangan darah akibat tindakan operasi, cedera atau kecelakaan, perdarahan melalui kulit, saluran cerna, saluran  kemih, dan perdarahan dari alat genital.
  • Menderita penyakit infeksi atau perradangan kronik, seperti penyakit ginjal, kanker, diabetes, penyakit rematik, infeksi HIV/AIDS, lupus, penyakit radang usus, penyakit hati, penyakit jantung, penyakit tiroid atau gondok, serta menderita keganasan baik kanker darah atau kanker lain.
  • Memiliki riwayat keluarga yang menderita anemia akibat kelainan genetik seperti talasemia.

Bagaimana Gejala dari Hb Rendah?

hb rendah
Foto: www.freepik.com

Sesungguhnya, gejala Hb rendah dapat bergantung pada derajat keparahan dan kecepatan terjadinya anemia.

“Gejala anemia muncul sebagai akibat berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan, sehingga gejala anemia dapat muncul pada berbagai sistem atau organ di dalam tubuh. Gejala utamanya adalah pucat, lesu, lemah, kram otot, sesak pada saat beraktivitas, jantung berdebar, dan pusing,” terangnya.

Sementara pada anemia berat atau anemia yang disebabkan oleh perdarahan akut, “gejala yang terjadi bisa lebih berat dan mengancam jiwa, seperti penurunan kesadaran, gangguan irama jantung, gagal jantung, sampai kematian,” ungkapnya.

Dokter Nurul menegaskan bahwa Hb rendah atau anemia bukan suatu penyakit. “Akan tetapi merupakan gejala atau tanda adanya suatu penyakit atau kelainan yang harus dicari penyebabnya sehingga dapat segera ditangani,” ujarnya.

Adakah Risiko yang Ditimbulkan dari Anemia?

Foto: www.freepik.com

Hb rendah atau anemia ternyata dapat menimbulkan risiko. Berikut beberapa akibat yang dapat terjadi pada penderita anemia antara lain:

Sistem saraf

“Anemia bisa menimbulkan rasa pusing, sakit kepala, gangguan keseimbangan, rasa kesemutan, dan pada anemia yang berat dapat menimbulkan penurunan kesadaran sampai terjadi kematian,” paparnya.

Sistem jantung dan pembuluh

Selain itu, anemia juga dapat berakibat pada sistem jantung dan pembuluh. “Anemia menyebabkan hipotensi postural, denyut nadi meningkat lebih cepat, dan pada keadaan anemia berat dapat menimbulkan gagal jantung,” katanya.

Saluran pernapasan

Tak hanya itu, anemia dapat menimbulkan risiko pada sistem pernapasan. Pasalnya, Hb rendah bisa menyebabkan sesak napas ketika sedang beraktivitas. Pada keadaan anemia berat, sesak napas juga dapat timbul ketika sedang beristirahat.

Sistem pencernaan

“Anemia dapat memberikan gejala gangguan saluran cerna seperti mual dan muntah,” ujar Dokter Nurul.

Sistem otot

Ternyata, anemia juga dapat menyebabkan rasa lemah, lelah, letih, lesu, serta kram otot karena gangguan pasokan oksigen ke otot. “Hal ini membuat kita seakan tidak mampu atau tidak bersemangat untuk melakukan berbagai aktivitas, termasuk melakukan pekerjaan yang ringan,” terangnya.

Kulit dan kuku

Dokter Nurul juga menambahkan bahwa anemia dapat menyebabkan kulit menjadi pucat dan kuku menjadi rapuh.

Sistem kekebalan tubuh

Mengalami Hb rendah ternyata bisa berakibat pada sistem kekebalan tubuh. “Anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga penderita Hb rendah juga cenderung lebih sering menderita infeksi,” katanya.

Bagaimana Cara Mengatasi Hb Rendah?

hb rendah
Foto: www.canva.com

Untuk pengobatan atau cara mengatasi anemia, hal ini dapat disesuaikan dengan penyebabnya. “Namun pada kasus anemia berat, maka dapat langsung dilakukan transfusi darah. Pada anemia yang terjadi akibat kekurangan zat gizi seperti kekurangan zat besi maka diberikan suplemen zat besi,” tuturnya.

“Pada anemia yang disebabkan penyakit kronik atau pada keganasan, akan dilakukan pengobatan terhadap penyakit, radang, atau keganasan yang mendasari terjadinya anemia. Sementara anemia yang terjadi akibat kelainan genetik yang diturunkan seperti talasemia, maka perlu dilakukan pemeriksaan pada semua anggota keluarga dan kedua orang tua,” lanjut Dokter Nurul.

Selain itu, terdapat beberapa makanan yang dapat dikonsumsi untuk menaikkan kadar Hb, seperti:

  • Makanan mengandung zat besi, seperti daging sapi, ikan, tofu, edamame, telur, brokoli, bayam, kacang hijau, dan selai kacang
  • Kurma
  • Makanan mengandung vitamin C, seperti jeruk, stroberi, kiwi, dan mangga.
  • Hati ayam
  • Makanan mengandung asam folat, seperti polong-polongan, asparagus, sayuran hijau, dan buah bit.
  • Makanan yang mengandung beta karoten, seperti wortel, ubi jalar, bayam, dan paprika

Bagaimana dengan mengonsumsi suplemen, apakah diperbolehkan?

“Suplemen untuk menaikkan kadar Hb boleh dikonsumsi dengan anjuran dari dokter. Namun sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen untuk menaikkan hb. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi overdosis. Pasalnya, mengonsumsi suplemen zat besi tanpa anjuran dokter bisa berisiko mengakibatkan overdosis,” jawab Dokter Nurul.

Apakah Bisa Mencegah Kadar Hb Agar Tidak Menjadi Rendah?

Foto: www.canva.com

Salah satu upaya pencegahan anemia adalah “dengan melakukan pemeriksaan darah secara berkala di laboratorium. Sehingga dapat diketahui adanya anemia atau adanya penyakit yang berisiko untuk terjadinya anemia sedini mungkin,” ujarnya.

Terdapat beberapa cara untuk mencegah agar Hb tidak turun, antara lain:

  • Makan asupan tinggi zat besi di antaranya daging, ayam tanpa lemak, sayuran berwarna hijau tua, dan kacang-kacangan.
  • Meningkatkan konsumsi makanan yang kaya vitamin C. Karena vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi agar lebih optimal.
  • Konsumsi makanan yang kaya vitamin B12 dan asam folat. Makanan tinggi vitamin B12 di antaranya daging sapi dan ayam, hati, ikan, kerang, susu, telur, sereal, dan biji-bijian.

Kesimpulan

Foto: www.xframe.io

Menurut Dokter Nurul, salah satu upaya pencegahan anemia adalah dengan melakukan pemeriksaan darah secara berkala di laboratorium. “Sehingga dapat diketahui adanya anemia atau adanya penyakit yang berisiko untuk terjadinya anemia sedini mungkin,” tuturnya.

“Untuk pencegahan anemia karna kekurangan gizi, maka dapat dilakukan dengan menjaga diet yang seimbang atau mengonsumsi suplemen sesuai petunjuk dokter. Sehingga kebutuhan tubuh terhadap zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan sel darah merah bisa terpenuhi,” lanjutnya.

Selain itu, “bagi penderita penyakit infeksi atau radang kronik disarankan untuk melakukan pengobatan secara teratur. Sehingga anemia akibat penyakit kronik yang dideritanya dapat teratasi, dan jangan sampai terjadi kondisi yang memburuk,” sarannya.

Apabila kamu mengalami gejala kekurangan hemoglobin (anemia) atau memiliki gangguan kesehatan yang berisiko menyebabkan kekurangan hemoglobin, “segeralah ke dokter untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan yang sesuai,” pesan Dokter Nurul.