Bagaimana Menghadapi Gombalan Maut? Ini Kata Psikolog

Gombalan Maut
Foto: www.freepik.com

Ketika melakukan pendekatan atau saat menjalin sebuah relasi, tidak jarang seseorang bisa melontarkan gombalan maut untuk menarik perhatian lawan bicaranya. Sebagian orang pun mungkin akan menanggapinya dengan senang hati. Namun, bagaimana jika gombalan maut tersebut diucapkan terus-menerus?

Untuk mengetahui jawabannya, LIMONE telah menghubungi Debora Basaria, M.Psi., Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Untar dan Psikolog di Klee.id yang akan membahas terkait cara menanggapi gombalan maut dan mencegahnya agar tidak menimbulkan dampak negatif.

Apa Definisi dari Gombalan Maut?

Gombalan Maut
Foto: www.freepik.com

Menurut Debora, arti dari “gombalan maut sebetulnya sama dengan rayuan. Yaitu suatu untaian kalimat dengan tujuan menyenangkan hati, membujuk, atau untuk mengajukan suatu permohonan agar dikabulkan oleh lawan bicaranya,” terangnya.

“Biasanya kalimat akan disusun dengan kata-kata yang indah dan diucapkan dengan nada merdu atau mesra, bisa juga dengan nada menyanjung lawan bicaranya,” lanjutnya.

Sebetulnya, terdapat banyak motif dan alasan mengapa seseorang menuturkan rayuan kepada orang lain. “Di antaranya adalah untuk membuat suasana menjadi lebih akrab (cair) dengan lawan bicaranya, bisa untuk untuk menarik perhatian dari lawan bicara, atau juga untuk mendapatkan kesenangan tertentu,” paparnya.

Selain itu, “bisa juga untuk mendapatkan tujuan tertentu, untuk meningkatkan kepercayaan diri baik untuk individu itu sendiri maupun lawan bicaranya. Serta ada juga yang bertujuan untuk bisa mendapatkan hubungan intim dengan lawan bicaranya,” imbuh Psikolog yang satu ini.

Apa Saja Faktor yang Bisa Memengaruhi Seseorang Ketika Mendapatkan Rayuan?

Foto: www.freepik.com

Ketika membicarakan apakah lawan bicara akan luluh atau bisa memenuhi hal yang disampaikan, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak hal. “Yang utama adalah Individu yang menyampaikan rayuan, misalnya apakah dikenal baik dan isi dari rayuan yang disampaikan,” tuturnya.

“Di luar itu adalah kondisi dari individu yang diberikan rayuan. Misalnya kondisi emosinya, situasi, dan kondisi saat ia mendengarkan rayuan. Serta bagaimana kemampuannya dalam mencerna atau memahami rayuan,” lanjutnya.

Debora juga menambahkan bahwa “faktor kepribadian dari si individu itu sendiri juga bisa memengaruhi. Apakah ia merupakan individu yang mudah terbujuk, tidak enakan, atau mungkin termasuk people pleasure. Nah ini bisa saja memengaruhi mau tidaknya individu memenuhi rayuan yang disampaikan,” katanya.

Mengapa Kita Bisa Merasa Senang Ketika Mendapatkan Rayuan?

Gombalan Maut
Foto: www.freepik.com

Terkadang, kita merasa senang ketika mendapatkan gombalan maut dari seseorang. Menurut Debora, hal ini disebabkan “karena memang isinya atau rayuan yang disampaikan cenderung memberikan pujian dan penghargaan atas diri individu tersebut,” ujarnya.

“Misalnya ‘kamu cantik sekali bagai bidadari yang turun dari langit’. Pasti ketika mendengar ini disampaikan langsung atau ditujukan pada individu, area emosi di otak akan ter-trigger secara positif, dan mengeluarkan hormon senang,” ungkapnya.

Sehingga nantinya akan “membuat terjadinya perubahan secara fisiologis dan psikologis. Secara fisiologis misalnya dapat terlihat senyum mengembang. Sementara  secara psikologis, individu bisa merasa percaya diri karena dibilang cantik,” paparnya.

Bagaimana Cara Menyikapi Gombalan Maut?

Foto: www.freepik.com

Ketika seseorang menerima gombalan maut, “sebaiknya yang perlu dilakukan adalah mencerna isi dari rayuan yang disampaikan. Apakah isinya proper (baik dan santun) atau malah isinya ada kesan melecehkan,” sarannya.

“Hal ini akan membantu individu untuk menampilkan respons yang sesuai. Misalnya untuk menanggapi rayuan apakah dengan rasa senang, atau malah menegur karena merasa isi rayuan tidak pantas dan membuat ia merasa tidak nyaman,” tuturnya.

Namun, haruskah kita percaya dengan gombalan maut tersebut? “Terkait dengan percaya atau tidak, itu kembali lagi tergantung pada isi dari rayuan yang disampaikan. Semakin banyak kemiripan dengan dirinya, maka individu cenderung akan mempercayai,” jawab Debora.

“Namun ketika ketidaktepatan atau ketidaksesuaian dirasakan besar, biasanya respons yang disampaikan adalah misalnya ‘Masa sih? Yang bener, nih? Ah kamu cuma nyenengin aku aja nih, ya ‘kan? Ah, gombal banget kamu mah aku nggak percaya,’” imbuhnya.

Debora menegaskan bahwa ketika menerima gombalan maut, maka hal yang wajib untuk diperhatikan adalah “siapa yang memberikan rayuan dan kemudian isi dari rayuan yang disampaikan. Coba untuk mencerna terlebih dahulu yang disampaikan sebelum merespons,” ujarnya.

Apakah Benar Gombalan Maut Akan Sangat Berdampak Pada Remaja?

Gombalan Maut
Foto: www.freepik.com

Sesungguhnya, efek yang bisa ditimbulkan dari gombalan maut adalah dua hal, yakni efek positif atau negatif. “Jika isi dari rayuan adalah mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu yang positif, atau untuk mengembangkan diri bersama, maka ini sesuatu yang berdampak positif untuk remaja,” jelasnya

Namun, jika isi rayuan “misalnya untuk melakukan hubungan intim di luar pernikahan dengan rayuan atas nama cinta atau untuk mencoba melakukan seperti mengonsumsi alkohol dan lain-lain, serta jika individu tergoda untuk melakukan, maka ini akan memberikan efek negatif dalam kehidupan remaja. Seperti terjadi kehamilan atau terjerat adiksi dan masalah hukum,” paparnya.

Lantas, mengapa semakin bertambahnya usia maka gombalan maut akan dianggap biasa saja? “Ini bisa terjadi karena semakin bertambahnya usia, kemampuan berpikir individu semakin lebih tajam dalam mencerna isi dari rayuan,” jawab Debora.

Serta individu juga “punya pemahaman yang lebih baik terhadap diri sendiri, dalam hal kelebihan dan juga kekurangan. Selain itu, individu juga umumnya sudah memiliki banyak pengalaman yang membuat ia bisa lebih hati-hati dan lebih tepat dalam merespons,” katanya.

Bagaimana Jika Kita Tidak Merasa Senang Ketika Mendapatkan Rayuan?

Foto: www.freepik.com

Ketika mendapatkan gombalan maut, mungkin sebagian orang merasa tidak senang dengan hal tersebut. “Jika kita tidak senang dengan rayuan yang diutarakan atau merasa tidak nyaman, maka sebaiknya disampaikan secara langsung apa yang dirasakan,” anjur Debora.

Hal ini perlu dilakukan “agar tidak menjadi suatu miskomunikasi. Dan harapannya adalah kedua belah pihak bisa lebih saling mengenal secara lebih baik, apa yang disuka dan tidak disuka. Sehingga hubungan atau relasi kedua belah pihak tetap baik dan tidak ada konflik,” lanjutnya.

Bagaimana Jika Gombalan Maut Berujung Pada Permintaan yang Merugikan?

Gombalan Maut
Foto: www.freepik.com

Ketika rayuan tersebut berujung pada permintaan yang merugikan dan sudah terlanjur terjadi, “memang yang bisa muncul adalah rasa menyesal karena sudah kehilangan. Misalnya sesuatu yang sifatnya material maupun immaterial,” ungkapnya.

“Maka yang bisa dilakukan adalah mencoba untuk mencari pertolongan dengan membicarakan dengan misalnya orang tua atau orang yang dipercayai. Sehingga bisa sama-sama mencari solusi atas dampak yang terjadi,” saran Debora.

Sementara untuk mencegah agar kita tidak mendapatkan rayuan yang merugikan, maka Debora menyarankan untuk “tidak langsung merespons atau tidak impulsif. Tetapi coba cerna terlebih dahulu isi dari rayuan yang disampaikan. Serta bisa katakan akan memikirkan lebih dahulu hal yang disampaikan,” anjurnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Ketika mendapatkan gombalan maut, sebagian orang akan meresponsnya dengan penuh bahagia atau justru menegurnya.

Debora pun menyampaikan pesannya bahwa ”untuk remaja khususnya, mohon untuk benar-benar mempertimbangan dengan baik, untung ruginya satu permintaan yang diajukan oleh seseorang. Dan coba untuk tidak melakukan konformitas yang merugikan,” tutupnya.