Apa Kamu Sedang Menjadi Korban Ghosting? Ini Cara Menghadapinya

ghosting
Foto: www.rawpixel.com

Belakangan ini, istilah ghosting menjadi populer. Mungkin kamu juga pernah melakukannya, atau bahkan menjadi korban dari peristiwa ini. Namun, apa sebenarnya arti ghosting?

“Istilah ghosting merujuk pada kedua pihak yang sedang menjalin komunikasi atau relasi, di mana salah satu pihak secara tiba-tiba mengakhiri kontak atau hubungan tanpa kejelasan, meskipun pihak lainnya berusaha untuk tetap menjalin komunikasi,” jelas Margareth Ingrid Sonata, M.Psi., Psikolog.

Saat ini, ghosting memang mulai semakin banyak terjadi. Namun bukan berarti bahwa hal tersebut merupakan perilaku yang wajar dan normal. “Karena perilaku ini bisa menimbulkan dampak yang buruk, terutama bagi orang yang di-ghosting. Sayangnya, perilaku ini cenderung dianggap sepele,” tambah Ingrid.

Mengapa Seseorang Bisa Melakukan Ghosting?

ghosting
Foto: www.unsplash.com

Ingrid menuturkan bahwa menurut penelitian, terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan ghosting, di antaranya:

Sarana berkenalan

“Sarana berkenalan seperti aplikasi dating online maupun sosial media juga bisa menyebabkan perilaku ini terjadi. Meski demikian, tidak semua hubungan yang diawali dengan media sosial akan berakhir dengan ghosting,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa “hubungan yang diawali secara tradisional (bertemu langsung), juga dapat mengalami peristiwa ini,” tambah Ingrid.

Komitmen

Sementara faktor lainnya yang menyebabkan ghosting adalah karena kurangnya komitmen dari pihak yang melakukan meninggalkan secara tiba-tiba (ghoster). “Orang yang dikenal sebagai ghoster ini memiliki kekhawatiran untuk berkomitmen, sehingga ghosting dianggap sebagai cara yang mudah untuk memutuskan hubungan,” tuturnya.

Komunikasi

Selain itu, “kurang mampunya berkomunikasi secara langsung untuk mengakhiri hubungan juga dapat menyebabkan seseorang memilih menjadi ghoster,” imbuhnya.

Pihak ghoster biasanya cenderung menghindari rasa tidak nyaman yang timbul jika harus memutuskan hubungan secara langsung. Sehingga ghosting dianggap sebagai solusi.

“Salah satu penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasangan yang terlalu percaya pada takdir dan meyakini bahwa adanya belahan jiwa (soulmate), ketika menemukan ketidakcocokan maka akan memutuskan hubungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ghosting lebih banyak dipilih sebagai solusi untuk mencari orang yang benar-benar cocok,” tambah Ingrid.

Sedangkan pasangan yang meyakini bahwa hubungan dapat terjalin seiring berjalannya waktu dan menyadari pentingnya untuk memupuk kasih, cenderung tidak melakukan peristiwa ini.

Apakah Ghosting Akan Memengaruhi Kehidupan Kita?

ghosting
Foto: www.freepik.com

Pada umumnya, ghosting tidak akan memengaruhi kehidupan ghoster secara signifikan. Karena ini merupakan cara yang mereka lakukan untuk menyudahi sebuah hubungan.

Lantas, apakah kehidupan ghostee (pihak yang di-ghosting) akan terpengaruh?

“Belum tentu. Harus ada beberapa hal yang diperhatikan, yaitu lamanya suatu hubungan yang terjalin antara kedua belah pihak, dan sejauh apa hubungan antara kedua pihak, apakah baru tahap perkenalan, PDKT, atau sudah pacaran,” paparnya.

“Seperti putus pada umumnya, semakin lama hubungan terjalin maka rasa kehilangan akan semakin besar. Apalagi ketika hubungan itu berakhir tanpa penjelasan,” imbuhnya.

“Berdasarkan penelitian, orang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah dan mengalami ghosting, maka akan lebih rentan mengalami isu kesehatan mental. Karena adanya pikiran irasional bahwa merekalah yang bermasalah, sehingga menyebabkan pasangan menghilang secara tiba-tiba,” terangnya.

Padahal ini adalah irrational belief, yakni pemikiran tidak logis yang bisa menimbulkan emosi hingga perilaku negatif

Bagaimana Cara Mengatasi Hubungan yang Ditinggal Secara Tiba-tiba?

Foto: www.freepik.com

Peristiwa ghosting dapat ditandai dengan kondisi di mana suatu hubungan yang biasa terjalin tiba-tiba mengalami putus kontak.

“Hubungan yang awalnya lancar tetapi tiba-tiba chat tidak dibalas, telepon tidak diangkat, bahkan tidak bisa mengontak melalui media sosial. Ini adalah tanda-tanda perilaku ghosting,” papar Ingrid.

Kemudian, bagaimana cara menyikapi ketika kita ditinggal pasangan secara tiba-tiba?

“Terimalah kenyataan bahwa hal ini terjadi. Jangan berpikir ini adalah kesalahanmu atau ada bagian dari diri maupun sikapmu yang salah sehingga kamu mengalami peristiwa ini. Pihak ghoster-lah yang memiliki persoalan sehingga tiba-tiba menghilang,” sarannya.

Kedua, “Terima emosi negatif seperti rasa sedih, frustasi, dan sakit hati. Itu emosi yang normal terjadi karena hubunganmu berakhir. Carilah aktivitas menyenangkan bersama orang-orang yang dekat denganmu untuk membantu proses healing. Hindari untuk mengontak ghoster,” anjurnya.

Karena, ketika menghilang dengan tiba-tiba, maka ghoster secara sadar ingin memutuskan hubungan. Sehingga meski ghostee ingin melakukan kontak, maka ghoster akan terus menghindar. Berakhirnya suatu hubungan secara sepihak tanpa kejelasan ini, tentu sangat menyakitkan.

Akan tetapi ketika terus berusaha untuk mencari kejelasan dengan menghubungi ghoster, maka “bisa menjadi bentuk denial bahwa kamu belum bisa menerima bahwa hubungan yang dijalin telah berakhir. Sebagai ghostee, maka perlu move on,” terang Ingrid.

Lantas, apakah kita tidak bisa bertanya alasan mengapa kita ditinggalkan?

“Seandainya jika pada akhirnya kamu bisa melakukan kontak dan mengetahui alasan mengapa kamu ditinggalkan, atau misalnya ia kembali dan memberitahu alasan mengapa melakukan itu, apakah ada jaminan bahwa perilaku ini (ghosting) tidak akan terulang?” tanyanya.

Ingrid menyampaikan bahwa dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa perilaku ini “merupakan solusi berpotensi untuk diulang. Kemudian apa dengan mengetahui alasan ghosting maka perilaku ini bisa dianggap tidak terjadi? Serta hubunganmu akan kembali? Cobalah renungkan terlebih dulu. Daripada berusaha mencari tahu, maka cobalah untuk menerima bahwa ini telah terjadi,” sarannya.

Apakah Bisa Mencegah Agar Tidak Menjadi Ghosting?

Foto: www.unsplash.com

Peristiwa ditinggal secara tiba-tiba sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja dan pada hubungan yang sudah terjadi dengan lama. “Sulit untuk mencegah peristiwa ini karena pihak ghoster-lah yang memiliki persoalan komunikasi, sehingga nyaman untuk tiba-tiba mengakhiri hubungan,” ujarnya.

Akan tetapi, bukan berarti tidak ada cara untuk melindungi diri terutama ketika masih di tahap PDKT. Untuk itu bisa melakukan beberapa hal untuk mengantisipasi.

“Pertama, jika kita hanya mengenal gebetan atau pasangan tanpa pernah bertemu atau hanya melalui online, perhatikan seberapa besar waktu yang dihabiskan dan bagaimana kualitas kebersamaan. Apakah hanya melalui chat atau telepon, atau bahkan sudah bertemu” ungkapnya.

“Apabila kalian hanya menghabiskan waktu dengan chat, maka lebih waspada. Perhatikan cara gebetan atau pasangan berkomunikasi, seberapa antusiasnya mereka. Memang, biasanya hal ini baru bisa dikenali setelah berhubungan lebih lama saat PDKT. Apabila chat atau mengobrol semakin singkat dan sulit untuk melakukan kontak, maka berhati-hatilah,” pesannya.

Apakah Menjadi Ghoster Merupakan Sebuah Kesalahan?

ghosting
Foto: www.unsplash.com

Menurut Ingrid, ghosting merupakan perilaku di mana pelakunya (ghoster) menghindari konflik.

“Bisa jadi hal ini disebabkan karena memiliki kepribadian yang suka menghindari masalah, atau ketidaknyamanan untuk berkomunikasi secara terbuka. Perilaku ini dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan bagi korban (ghostee),” ucapnya.

Perilaku ini bisa berdampak pada kesehatan mental, rasa sakit hati, dan putus asa dari ghostee. Sehingga perilaku meninggalkan hubungan tiba-tiba tidak bisa dibenarkan sebagai jalan untuk mengakhiri suatu hubungan.

“Daripada melakukan ghosting, belajarlah untuk melakukan komunikasi yang tepat. Mungkin memang bagi pihak yang ingin memutuskan hubungan untuk menyampaikannya akan merasa tidak nyaman, apalagi ketika kamu merasa bahwa gebetan atau pasangan tidak cocok,” kata Ingrid.

Meskipun dalam hubungan yang baru dan bersifat online, “kamu bisa menyampaikannya seperti ini ‘Semakin mengenalmu, ternyata saya merasa kita tidak cocok’, atau ‘Saya tidak punya perasaan khusus (terkait cinta) terhadapmu setelah mencoba mengenalmu,’” sarannya.

Menyampaikan berakhirnya suatu hubungan akan lebih sehat secara mental, baik bagimu atau pasangan. Karena dengan hal tersebut terdapat adanya kejelasan, dibandingkan tiba-tiba menghilang.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Ingrid menuturkan bahwa, “ghosting akan memperlihatkan bagaimana cara kita mengambil keputusan dalam problem solving. Apakah setiap persoalan dapat diselesaikan dengan cara seperti ini, yang terlihat seperti lari dari masalah. Beranikan dirimu untuk mencari solusi yang lebih baik, yang mana hal itu juga menjadi proses pendewasaan,” ujarnya.

Untukmu korban (ghostee), Psikolog Klinis ini memberikan saran:

“Jangan berpikir bahwa kamu yang bermasalah. Karena, masalahnya bukan pada kamu, tetapi mereka yang melakukan ghosting. Wajar untuk merasa sakit hati, tetapi tetap luangkan waktu untuk diri sendiri dan lakukan aktivitas yang menyenangkan bersama orang yang betul-betul peduli, seperti keluarga dan sahabat,” pesannya.