Tanya Spesialis Gizi: Perlukah Kita Mengonsumsi Suplemen?

fungsi suplemen
Foto: www.rawpixel.com

Saat ini kita mungkin sudah tahu bahwa memakai masker pelindung wajah sangat krusial di masa pandemik ini. Namun, jika berbicara tentang suplemen, apakah kita butuh mengonsumsinya agar tubuh tepat sehat? Apa sebenarnya fungsi suplemen? Siapa yang disarankan mengonsumsinya? Ah, 1001 pertanyaan ini LIMONE diskusikan dengan dr. Kurnia Sitompul, M.Gizi, Sp.GK, seorang dokter spesialis gizi klinik untuk menjelaskan fungsi suplemen dan apakah perlu dikonsumsi oleh kamu dan saya.

Apa Definisi dan Fungsi Suplemen bagi Kesehatan?

fungsi suplemen
Foto: www.unsplash.com

Jika kamu pecinta kamus dan selalu penasaran dengan definisi sesuatu, Dokter Kurnia menjelaskan bahwa definisi suplemen berbeda-beda pada setiap negara.

“Di Indonesia, sesuai dengan peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan nomor 17 tahun 2019, bahwa suplemen kesehatan merupakan produk yang dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi, memelihara, meningkatkan dan/atau memperbaiki fungsi kesehatan, mempunyai nilai gizi dan/atau efek fisiologis, mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mineral, asam amino dan/atau bahan lain bukan tumbuhan yang dapat dikombinasi dengan tumbuhan,” jelasnya.

Untuk bentuknya, variasinya ada banyak mulai dari serbuk, kapsul, tablet atau kaplet, efervesen, cairan oral hingga tablet kunyah.

“Sesuai dengan definisinya, maka suplemen berfungsi untuk membantu seseorang untuk memastikan bahwa tubuhnya mendapatkan cukup zat gizi untuk membantu memelihara fungsi fisiologis tubuh serta mengurangi risiko penyakit,” ungkapnya.

Meski begitu, Dokter Kurnia menekankan bahwa suplemen kesehatan sebaiknya tidak digunakan untuk menggantikan nutrisi yang ada dalam makanan. “Dengan mengonsumsi makanan sehat dan seimbang yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pribadi, maka tubuh akan memperoleh makronutrien dan mikronutrien yang diperlukan,” imbuhnya.

Apakah Suplemen Memiliki Efek Samping dan Risiko Saat Dikonsumsi?

Foto: www.rawpixel.com

FYI, suplemen mengandung bahan aktif tunggal atau multipel di dalamnya.

“Kandungan tersebut memiliki efek biologis terhadap tubuh, dapat berinteraksi dengan zat gizi atau obat lain yang masuk ke dalam tubuh. Sehingga apabila suplemen dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dan tanpa pengawasan akan menyebabkan efek samping,” terangnya.

Efek samping yang dapat muncul akibat konsumsi berlebihan disebut sebagai toksisitas. Hal ini terjadi saat suplemen dikonsumsi melewati batas dosis atas yang dianjurkan.

“Sebagai contoh, suplementasi vitamin E dalam dosis lebih dari 1200 mg/hari dapat menyebabkan diare, rasa lemah dan penglihatan kabur. Demikian pula dengan konsumsi asam lemak omega-3, konsumsinya perlu berhati-hati karena dapat mengganggu proses pembekuan darah, sehingga memicu perdarahan pada mereka yang juga mengonsumsi obat-obatan pengencer darah. Selain efek toksisitas, terdapat efek lain terkait komposisi lain yang terkandung dalam suplemen, misalkan pada bubuk protein yang sering di promosikan sebagai pembentuk otot,” tambahnya.

Dokter Kurnia menjelaskan bahwa beberapa penelitian menyatakan, “sekitar 15% suplemen tersebut mengandung anabolic androgenic steroids, yang memiliki efek samping seperti munculnya jerawat, pembesaran payudara hingga gangguan fungsi hati.”

Selain itu, terdapat pula risiko interaksi saat mengonsumsi suplemen. “Kandungan zat biologi aktif dalam suplemen dapat memiliki efek serupa atau berlawanan dengan zat yang terkandung dalam makanan dan obat-obatan tertentu. Interaksi lain seperti gangguan penyerapan, gangguan metabolisme serta gangguan pengeluaran juga dapat terjadi,” paparnya.

Apakah Semua Orang Butuh Mengonsumsi Suplemen?

fungsi suplemen
Foto: www.gettyimages.com

“Berdasarkan penjabaran sebelumnya, maka suplemen disarankan dikonsumsi dalam waktu singkat dan oleh populasi yang berisiko untuk mengalami defisiensi,” tegas Dokter Kurnia.

Menurutnya, suplemen dapat dikonsumsi saat bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh.

Dan jika kamu penasaran siapa saja yang kemungkinan membutuhkan suplemen, berikut di antaranya:

  • Perempuan usia reproduksi dan hamil untuk konsumsi suplemen asam folat dan zat besi.
  • Populasi vegan yang tidak mengonsumsi produk hewani dan usia lanjut dengan gangguan penyerapan makanan, perlu suplementasi vitamin B12.
  • Individu yang menjalani diet untuk menurunkan berat badan yang sangat ketat, membutuhkan suplemen multivitamin.
  • Individu yang secara nutrigenomik mengalami gangguan gen sehingga berisiko untuk mengalami defisiensi nutrien tertentu.
  • Penderita kanker atau penyakit kronik tertentu (contoh stroke) yang diikuti gangguan pola makan, sehingga berisiko mengalami malnutrisi

“Masih ada contoh populasi lain, yang pada dasarnya didasarkan pada ketidakmampuan memenuhi kebutuhan melalui makanan sehari-hari,” tuturnya.

Untuk amannya, sebaiknya berkonsultasi pada dotkter jika ingin mengonsumsi suplemen tertentu. Mengapa? “Suplemen akan menjadi sesuatu yang berguna apabila dikonsumsi pada saat yang tepat, oleh individu yang tepat serta dengan cara yang tepat. Dengan demikian, suplemen tidak akan merugikan secara finansial apabila tepat sasaran, yaitu sesuai rekomendasi,” tegasnya.

Kesimpulan

Foto: www.unsplash.com

“Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah menetapkan angka kecukupan gizi (AKG) untuk makronutrien dan mikronutrien. Yaitu suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas tubuh untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal,” jelas Dokter Kurnia.

Nilai tersebut diperuntukkan untuk menentukan jumlah konsumsi kelompok, “sehingga pada individu berisiko dan yang tidak yakin mampu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral yang diharapkan, dapat berkonsultasi untuk mengonsumsi suplemen,” lanjutnya.

Artinya?

“Perlu dikonsultasikan apakah kita termasuk dalam populasi berisiko, sehingga diketahui jenis vitamin dan mineral yang harus dikonsumsi. Bagi yang membeli suplemen tanpa pengawasan, sebaiknya teliti membaca label komposisi. Mencermati jenis kandungan serta dosis yang terkandung di dalamnya. Dan usahakan untuk mengonsumsi makanan seimbang, dengan 3-4 porsi sayur dan buah setiap hari,” sarannya.

Selanjutnya: Apakah makanan kedelai berbahaya untuk perempuan? Coba cek penjelasan ahli gizi ini.

podcast button