Facelift vs Ultrasound vs Radiofrekuensi: Pilih Tindakan Peremajaan Kulit yang Mana?

facelift
Foto: www.gettyimages.com

Sudah bertualang ke berbagai tempat, tapi kamu belum kunjung menemukan sesuatu yang disebut “fountain of youth“. Sebenarnya, ada cara lain sih, untuk membuat kulit terlihat terus muda. Di antaranya, minta digigit drakula dan menjadi vampir, atau melakukan Botox. Namun, meski “Frozen” (pertama dan sekuelnya) adalah judul salah satu film terlaris sepanjang masa, mungkin kamu tidak mau wajahmu terlihat membeku. Jadi, apa yang bisa dilakukan? Perkenalkan: Facelift. Karena untuk menjelaskan hal ini dibutuhkan bantuan ahli, LIMONE menghubungi dr. Irene Dorthy Santoso, Sp.DV, seorang Dermatovenereologist dan Staf Pengajar Bagian Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.

“Sebelum membahas lebih dalam terkait lifting pada wajah, penting untuk diketahui bahwa lifting wajah dibedakan menjadi tindakan yang bersifat invasive dan non-invasive. Untuk lifting yang bersifat invasive disebut facelift, sedangkan yang non-invasive termasuk ultrasound dan radiofrekuensi,” ujarnya melalui email. Oke, sudah jelas, ya? Sekarang mari membedah apa itu facelift dan apakah kamu butuh melakukannya.

Apakah Facelift?

facelift
Foto: www.gettyimages.com

Mengutip Cambridge Dictionary, Irene menjelaskan bahwa facelift merupakan operasi medis untuk mengencangkan kulit yang tampak longgar sehingga wajah terlihat lebih muda.

Facelift, yang dikenal dengan tarik wajah, atau rhytidectomy, berasal dari dua kata bahasa Yunani, yakni rhytis (kerutan) dan ektomi (sayatan). Ini merupakan tindakan kecantikan yang bertujuan menghilangkan kerutan yang dilakukan melalui metode pembedahan. Umumnya dikerjakan pada bagian wajah (meliputi pipi, mulut, ataupun rahang) dan leher,” terang Irene.

Yep, sayatan. Berarti saat melakukan perawatan ini terjadi kegiatan operasi yang menurut Irene biasanya dilakukan sebagai prosedur rawat jalan dengan pembiusan. “Untuk jenis pembiusannya tergantung seberapa agresif tindakan facelift tersebut dilakukan. Waktu pengerjaan pun beragam sekitar 2-6 jam, tergantung tingkat kesulitan tindakan,” paparnya.

Ada banyak jenis facelift, yakni: SMAS lift, MACS lift, subperiosteal lift, mid-facelift, deep plane facelift, traditional lift, thread lift, composite facelift. “Pemilihan tindakan jenis facelift mana yang akan dikerjakan, tergantung pada kondisi wajah dan keinginan pasien,” kata Irene.

Apa Manfaat Facelift?

Foto: www.rawpixel.com

Seperti yang kita tahu, seiring dengan proses penuaan, maka kulit kehilangan elastisitasnya. Irene menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena penurunan produksi kolagen. Alhasil, tampilan kulit lebih kendur, massa otot berkurang, dan tulang tengkorak mengecil. Proses penuaan pun akan menyebabkan timbulnya garis halus dan keriput, pipi turun atau kendur, mata berkantung, leher mengendur, serta rahang bergelambir. “Dan ini merupakan hal-hal yang tidak dapat dihindari,” tegas Irene.

Nah, di sinilah facelift berbicara. Seperti yang disebutkan sebelumnya, manfaat utama dari facelift adalah menghilangkan dan mengencangkan kulit yang kendur. Di samping itu juga untuk dapat membentuk pipi dan mengangkat sudut mulut. Intinya, “dengan melakukan facelift diharapkan tampilan wajah yang lebih mulus dan awet muda tanpa kerutan dan kendur.”

Bagaimana dengan Metode Ultrasound & Radiofrequency?

Foto: www.rawpixel.com

Jika facelift adalah pengangkatan wajah dengan cara bersifat invasive, maka ultrasound dan radiofrekuensi adalah cara yang bersifat non-invasive.

“Seperti yang disebutkan di awal, terdapat alternatif lain bagi kita yang ingin wajahnya lebih kencang dan kerutan menghilang tanpa tindakan operasi, yakni dengan non-invansive skin tightening,” jelas Irene.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa non-invasive skin tightening dapat dibedakan menjadi dua bagian besar, yakni ultrasound dan radio-frequency.

Begini penjelasannya. Ultrasound termasuk salah satu prosedur non-invasive peremajaan kulit menggunakan gelombang ultrasound untuk merangsang pembentukan kolagen baru, sehingga akan memberikan efek lifting pada kulit. “Energi panas yang dihantarkan ke kulit dapat mencapai >600C di berbagai kedalaman kulit. Saat ini yang popular digunakan adalah HIFU (High Intensity Focused Ultrasound), di mana gelombang ultrasound ini dapat menembus ke kedalaman kulit hingga lapisan SMAS (Superfisial Musculoaponeurotic System),” paparnya.

Itu ultrasound. Sementara radiofrekuensi pada bidang kecantikan merupakan tindakan dengan menggunakan gelombang elektromagnetik yang menghasilkan panas dengan suhu kisaran 40-450C untuk menstimulasi produksi kolagen dan elastin. Setelah melakukan perawatan ini, kerutan kulit akan berkurang, kulit semakin mengencang, dan sirkulasi aliran darah semakin meningkat.

Radiofrekuensi ini bekerja pada berbagai kedalaman lapisan kulit yakni dermis (untuk skin tightening dan lifting) dan subkutis (dapat berfungsi untuk fat reduction dan membantu untuk treatment body shaping). Radiofrekuensi sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yakni monopolar, unipolar, bipolar, dan multipolar radiofrekuensi. “Berbagai jenis radiofrekuensi ini dibedakan berdasarkan kemampuan kerjanya untuk mengencangkan kulit hanya pada lapisan atas atau bekerja hingga lapisan dalam kulit,” terang irene.

Bagaimana Menentukan Tindakan Apa yang Paling Cocok untuk Kita?

facelift
Foto: www.gettyimages.com

Dokter Irene menegaskan bahwa perawatan skin tightening merupakan prosedur yang bersifat sangat individual, di mana keinginan antara satu orang dengan orang yang lain belum tentu sama.

“Secara umum, dalam menentukan prosedur apa yang cocok, diperlukan diskusi terlebih dahulu dengan dokter yang akan mengerjakannya,” ujarnya. Saran Irene? “Pasien baiknya jujur terkait keinginan dirinya, dan bagaimana harapannya terhadap prosedur yang akan dikerjakan.”

Proses yang terjadi biasanya adalah dokter akan memberikan beberapa pilihan tindakan beserta dengan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing tindakan tersebut. “Ketika diskusi, diharapkan pasien memiliki pandangan yang positif, serta harapan yang realistis,” Irene mengingatkan.

Dirinya kembali menjelaskan bahwa pemilihan tindakan atau prosedur juga tergantung pada area yang akan dirawat, kualitas kulit (tingkat kekenduran kulit ataupun kerutan), dan harapan pasien (hasil yang diharapkan) pasca tindakan. “Keputusan pemilihan tindakan yang akan dilakukan tentunya tetap menjadi hak pasien, akan tetapi dengan mempertimbangkan berbagai masukan dokter pada tahap konsultasi,” lanjutnya.

“Dan tergantung tindakan apa saja yang ingin dikerjakan, beberapa perawatan lifting dan skin rejuvenation lainnya bisa digabungkan. Tapi tentunya tidak dilakukan pada saat yang bersamaan,” tegasnya.

Apakah Hasil Dua Metode Ini Sama dan Berapa Lama Bertahan?

Foto: www.rawpixel.com

Jawaban singkatnya: tergantung. Lebih jelasnya, begini: Hasil untuk setiap metode bervariasi, tergantung jenis perawatan, bagian yang dilakukan perawatan, usia pasien, serta jenis alat yang dipilih.

Apakah perlu dilakukan pengulangan atau tidak? “Kembali lagi merupakan pilihan dari pasien, apakah sudah cukup puas dengan hasilnya saat ini atau ingin tampilan yang lebih muda lagi,” jawabnya.

Menurut Irene, umumnya facelift akan bertahan hingga 5-10 tahun. “Akan tetapi bukan berarti dalam 5-10 tahun tersebut tidak terjadi penuaan sama sekali. Untuk lebih memaksimalkan facelift biasanya dapat dibantu dengan beberapa tindakan peremajaan kulit non-invasive lainnya,” ujarnya menambahkan.

Sedangkan untuk tindakan ultrasound, tergantung pada merek dan jenis ultrasound-nya. Ada yang bisa bertahan selama satu tahun, tapi ada pula yang perlu diulang setiap tiga bulan. Sementara untuk radiofrekuensi, perawatan dapat diulang setiap 1-2 minggu. Dan untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal, disarankan untuk melakukan radiofrekuensi minimal sebanyak enam kali.

Adakah Efek Samping dari Metode Peremajaan Kulit Ini?

Foto: www.gettyimages.com

Irene menjelaskan bahwa ada beberapa efek samping dari facelift. Di antaranya:

  • Hematom
  • Infeksi
  • Mati rasa
  • Nekrosis kulit atau kematian jaringan
  • Pelebaran atau penebalan bekas luka
  • Kerusakan syaraf wajah

Sementara, efek samping dari ultrasound dan radiofrekuensi adalah:

  • Kulit akan terlihat agak memerah, tapi akan menghilang dalam beberapa jam
  • Beberapa pasien akan merasakan bengkak ringan yang bersifat sementara yang akan menghilang dalam 72 jam, atau rasa kesemutan saat disentuh. Ini akan menghilang dalam rentang waktu antara dua hari hingga dua minggu (untuk ultrasound)
  • Memar atau mati rasa pada area sekitar kulit

Selain itu, beberapa efek samping lain yang mungkin terjadi, meski sifatnya jarang terjadi pada prosedur ultrasound dan radiofrekuensi, yakni:

  • Luka bakar
  • Cedera syaraf
  • Memar

Siapakah yang Tidak Dianjurkan Melakukan Facelift?

Foto: www.unsplash.com

Dokter Irene menegaskan bahwa tindakan facelift, ultrasound, dan radiofrekuensi baiknya tidak dikerjakan pada perempuan hamil dan menyusui, ataupun anak-anak.

Sementara jika kamu penasaran tentang adakah area tubuh yang sebaiknya tidak dilakukan ultrasound dan radiofrekuensi, ini jawabannya. Dua tindakan ini sebaiknya tidak dilakukan pada:

  • Luka terbuka
  • Jerawat parah atau acne cystic
  • Terdapat implan aktif (alat pacu jantung atau defibrillator) atau pun implan logam
  • Sebaiknya hindari juga area dengan dermal filler ataupun keloid
  • Penyakit jaringan ikat atau autoimun

Dan berbicara tentang harga, “secara umum harga tindakan facelift berkisar antara belasan hingga ratusan juta, tergantung jenis tindakan dan operator yang mengerjakan,” tuturnya. Sementara untuk ultrasound, tergantung jenis alat yang dipakai; bisa berkisar antara juta hingga puluhan juta. Dan untuk tindakan radiofrekuensi, tergantung pada jenis alat yang dipakai; biasanya berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan.

Apa yang Harus Kamu Tahu Sebelum Melakukan Facelift?

Foto: www.gettyimages.com

Berniat melakukan facelift? Sebelum memutuskan apa pun, Irene menyarankan untuk mengajukan berbagai pertanyaan kepada dokter. Jangan malu dan ragu. Jika kamu bingung pertanyaan seperti apa yang sebaiknya diajukan, Irene memberikan kisi-kisinya. Tanyakan tentang:

  • Apa saja pilihan tindakan yang dapat dilakukan?
  • Adakah kemungkinan hasil, risiko ataupun komplikasi yang dapat terjadi?
  • Berapa biaya yang dibutuhkan?
  • Apakah perlu melakukan pengulangan? Berapa lama atau berapa kali untuk mendapatkan hasil maksimal?
  • Berapa lama terapi untuk bisa melihat hasil tindakan?
  • Tindakan apa saja yang dapat digabungkan dengan terapi yang hendak dipilih?

Semakin berniat mencoba melakukan facelift? Silakan menghubungi dokter kulit terpercaya.

Dan ini tindakan medis untuk mengencangkan dagu, namanya kybella.