Pasangan Berperilaku Ambigu = Pasif-Agresif? Ini Kata Psikolog

ambigu
Foto: www.freepik.com

Saat ditanya pasangan ingin makan apa, mungkin secara tidak sadar kamu akan menjawab ‘terserah’. Meski hal ini terasa sepele, namun jika sering bersikap atau berkata ambigu ternyata juga dapat memengaruhi kualitas sebuah hubungan.

Simak penjelasan terkait perilaku-perilaku ambigu dari Indah Ayu Kurniasih, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog dari Biro Psikologi Dinamis dan platform Selftalk Project.

Apa Itu Ambigu? Apakah Sama Dengan Ketidakjujuran?

ambigu
Foto: www.canva.com

Indah menuturkan bahwa arti dari ambigu menurut KBBI sendiri adalah bermakna lebih dari satu. “Jadi, suatu hal yang bisa diinterpretasikan beberapa makna. Sehingga kadang-kadang hal tersebut meninggalkan suatu keraguan, kekaburan makna, dan ketidakjelasan,” paparnya.

“Kalau misalnya ada seseorang yang terkadang perhatian, namun terkadang menghilang dan membuat kita bingung sebenarnya ia adalah teman atau pacar. Ambigu ini dapat diartikan sebagai bentuk ketidakjelasan yang terjadi dalam sebuah hubungan,” lanjutnya.

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa ambigu merupakan suatu bentuk ketidakjujuran dari seseorang. Tetapi “sebenarnya, kalau ambigu itu mungkin lebih tepatnya diartikan sebagai ketidakpastian yang tinggi. Bisa jadi memang di situ ia mengaburkan fakta yang sebenarnya,” ungkap Indah.

Namun jika pertanyaannya apakah perilaku ini sama dengan bentuk ketidakjujuran, jawabannya “bisa jadi. Tetapi untuk arti yang lebih jelas mungkin seperti tidak adanya kepastian yang tinggi dan mengaburkan fakta atau data yang sebenarnya,” paparnya.

Mengapa Seseorang Bisa Berperilaku Ambigu?

Foto: www.freepik.com

“Salah satu penyebab yang paling banyak terjadi adalah untuk menghindari konflik. Jadi tidak ingin menimbulkan masalah, sehingga seperti menutupi apa yang ingin disampaikan dengan berbagai cara yang pada akhirnya tidak to the point tapi ada interpretasi yang berbeda,” terangnya.

Atau misalnya “karena tidak tahu atau tidak terbiasa untuk mengekspresikan perasaan secara terbuka sehingga bisa jadi karena tidak terbiasa untuk jujur dengan apa yang dirasakan. Serta tidak bisa mengungkapkan secara terbuka, atau ia terbiasa untuk memendam sesuatu dan tidak membicarakan yang sebenarnya terjadi,” lanjutnya.

Hal-hal tersebut bisa menjadi penyebab seseorang berperilaku atau berbicara ambigu. Karena ambigu berarti terdapat keraguan atau suatu hal yang tidak pasti.

Apakah Sikap Tidak Pasti Dapat Berdampak pada Hubungan?

ambigu
Foto: www.canva.com

Indah menuturkan bahwa pasti ada dampaknya. “Karena ‘kan terdapat ketidakjelasan dan ketidakpastian dalam suatu hubungan. Yang namanya ketidakpastian itu akan membuat kita tidak nyaman. Nah, ketidaknyamanan itu jika terjadi terus-menerus terkadang jadi merasa tidak dipahami dan tidak dihargai,” tuturnya.

“Atau bahkan lama-lama semakin jauh secara emosi. Jadi tidak merasa dekat dengan pasangan, karena seperti tidak bisa jujur dan tidak bisa terbuka. Sedangkan kita harus terbuka jika ingin menciptakan suatu hubungan yang berfungsi,” ungkap Indah.

“Jadi dampaknya itu pasti terjadi. Sebab yang namanya ketidakjelasan itu membuat orang akan merasa tidak nyaman. Jika terjadi secara terus-menerus maka akan terasa tidak nyaman untuk menjalankan hubungan,” tambahnya.

Ketika seseorang sering mendapatkan kata-kata atau sikap yang ambigu dari pasangannya, “terkadang rasanya seperti dipermainkan. Banyak ketidakjelasan dan biasanya merasa dimanipulasi. Sehingga pasti itu akan menimbulkan rasa yang tidak nyaman dan sakit hati,” ujar Psikolog Klinis yang satu ini.

“Tidak jarang, efeknya juga akan merugikan diri sendiri dan juga merasa bersalah terhadap diri sendiri. Namun, dampaknya akan berbeda-beda pada tiap orang. Karena kita ‘kan manusia juga memiliki karakter yang berbeda-beda,” tuturnya.

Apa Saja Bentuk Ambigu yang Sering Terjadi dalam Hubungan?

Foto: www.freepik.com

Dalam sebuah hubungan perilaku ketidakjelasan yang paling banyak terjadi salah satunya adalah silent treatment. “Jadi sebenarnya merasa marah, tapi karena tidak bisa mengekspresikan atau memang menghindari konflik atau apa pun itu—akhirnya hanya diam saja,” kata Indah.

“Ketika kita dapat silent treatment, itu rasanya pasti bingung, tidak tahu salahnya di mana. Mungkin jika berkali-kali mencoba menghubungi tapi dianya tidak mau merespons, atau saat ketemu tidak ingin berbicara. Jadi silent treatment itu salah satu contoh yang terjadi dalam hubungan,” lanjutnya.

Sebenarnya, kalau ingin dilihat lebih dalam di balik silent treatment itu “karena ada perasaan kecewa, marah, sedih, atau lainnya. Saat kita bisa mengekspresikannya secara terbuka, itu akan lebih nyaman dan hubungannya pun akan lebih lancar,” tuturnya.

Bagaimana Menyikapi Pasangan yang Sering Berperilaku Tidak Jelas?

ambigu
Foto: www.canva.com

Menurut Indah, sangat menantang untuk menyikapi seseorang yang sering mengeluarkan kata-kata ambigu. Karena terdapat banyak hal di balik keambiguannya.

“Misalnya ketika orang-orang yang sering mengeluarkan kata-kata ambigu itu tidak ingin terlibat dalam konflik dan suka menghindari konflik. Maka kalau mau ditelusuri lagi mungkin ada perasaan tidak aman atau insecure yang ia rasakan,” jelasnya.

Menciptakan lingkungan yang aman

Untuk cara menyikapinya, yang pertama bisa dilakukan adalah menciptakan lingkungan yang aman untuknya. “Misalnya berbicara kepadanya bahwa ia bisa untuk menjadi lebih terbuka untuk jujur dan mengungkapkan perasaannya. Kitanya pun bersiap untuk menerima kejujuran darinya,” saran Indah.

Perlu mengetahui batasan

Tetapi kalau kita sudah mencoba memberi lingkungan yang aman untuknya agar bisa bercerita, dan ia belum merasa siap, maka jangan terlalu menyalahkan diri. “Sebab kita juga butuh batasan dan perlu untuk ambil sikap,” pesannya.

“Karena terdapat satu hal yang perlu diingat, yakni kita tidak bisa mengubah orang lain kecuali orang itu dengan sadar mau berubah. Jadi kita perlu mengingatkan diri sendiri untuk jangan berusaha untuk mengontrol sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita kontrol. Seperti misalnya perilaku orang, respons orang, cara berpikir orang, perasaan orang, itu semua di luar kendali diri kita,” lanjutnya.

Lantas apa yang bisa kita lakukan?

“Bagaimana kita menyampaikan apa yang diharapkan, memilih kata-kata, mengolah diri kita sendiri, dan mengetahui batasan. Jadi jangan sampai ketika menyikapi orang tersebut, kitanya malah ikut terlarut. Kita perlu untuk mengambil sikap untuk diri sendiri,” jawab Indah.

“Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah kita perlu menciptakan lingkungan yang aman terlebih dahulu, tujuannya agar dia lebih aman untuk berbicara apa yang sebenarnya. Tetapi kalau misalnya itu tidak berjalan dengan baik, itu bukan tanggung jawab kita untuk mengubahnya,” tegasnya.

Benarkah Sikap Tidak Jelas Ini Berkaitan dengan Perilaku Pasif-Agresif?

ambigu
Foto: www.canva.com

Psikolog Klinis ini menyatakan bahwa pasif-agresif ini memang seperti hidup dalam ambiguitas.

“Misalnya kita bilang setuju tetapi sebenarnya tidak. Pasif-agresif itu sebenarnya seperti kita bersikap pasif tapi sebenarnya agresif. Seperti di depannya bilang ya, tetapi di akhirnya justru menyalahkan pasangan ‘kamu sih’ padahal di awal dia sudah menyetujuinya,” jelasnya.

“Atau ketika kita sedang merasa tidak nyaman dan ditanya ‘kamu kenapa’ dan menjawab ‘baik-baik aja’, padahal perasaannya tidak sedang baik-baik saja. Bahkan tak jarang berbicaranya juga seperti menyindir juga, yang padahal kita sedang merasa kesal dengannya,” lanjut Indah.

Pasif-agresif itu merupakan cara komunikasi yang mana secara pasif kita menyetujui, sementara agresif seperti menyerang orang lain dan inginnya hanya kita yang benar. Sementara kalau pasif-agresif itu campurannya.

“Misalnya di depannya menunjukkan sikap pasif tetapi di belakangnya justru agresif. Paling penting untuk dipelajari adalah sikap asertif, win-win. Di mana kebutuhan kita tersampaikan dan kebutuhan orang lain juga dihargai,” anjurnya.

Tanda ketika pasangan pasif-agresif adalah ia berkata yang tidak sejujurnya, tidak to the point tetapi ditutupi.

“Seperti ingin menyampaikan sesuatu kepada kita tetapi ditutupi, yang pada akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan. Atau mencoba mengkritik namun di-cover. Atau misalnya bilang setuju tetapi menyalahkan di akhir,” paparnya.

Bagaimana Jika Diri Kita yang Sering Berperilaku Tidak Jelas?

Foto: www.freepik.com

“Kalau ternyata kita yang sering melakukan pernyataan ambigu seperti ‘terserah’, ‘aku nggak apa-apa’ atau misalnya ketika ngomong terserah tapi punya pilihan, jadi yang perlu dilakukan yang pertama adalah meningkatkan self-awareness,” saran Indah.

Kadang-kadang, “kita berbicara seperti itu ‘kan sudah template ya, karena mungkin terbiasa dan tidak sadar jadi otomatis keluar kata-kata tersebut. Jadi yang pertama perlu dilakukan adalah meningkatkan kesadaran diri,” lanjutnya.

Jika kita tahu sering mengeluarkan kata-kata ambigu, “berarti tandanya telah sadar terhadap kondisi yang terjadi. Itu sudah satu langkah maju untuk mengubah dan mengembangkan diri. Setelah aware kita harus mengubah perlahan-lahan. Cari tahu terlebih dahulu penyebab kita mengatakan hal yang ambigu,” ujarnya.

“Apakah hal tersebut terjadi karena sering menjadi pribadi yang menekan emosi. Jadi saat marah itu tidak mengatakan sedang marah. Kemudian cari penyebabnya, misalnya tidak bisa marah karena itu dianggap hal yang buruk dan dari kecil diajarkan untuk tidak marah. Jadi ‘kan punya sejarah sendiri kalau misalnya dari dulu tidak boleh mengekspresikan emosi negatif,” paparnya.

Jadinya saat merasa marah tetapi tidak boleh marah, jatuhnya ambigu yang dikeluarkan.

“Kita perlu menyadari konflik-konflik tersebut. Dan juga apa penyebab hal tersebut bisa terjadi. Kemudian setelah sadar, kita mencoba untuk mengubahnya secara perlahan. Jadi lebih jujur terhadap diri sendiri, lebih paham terhadap apa yang dirasakan,” ungkapnya.

Bisakah Mencegah agar Tidak Mengeluarkan Perkataan Ambigu?

Foto: www.rawpixel.com

Indah menjawab dengan yakin bahwa kita bisa mencegah perilaku dan perkataan yang dapat menimbulkan makna ganda. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

Mengenal diri sendiri

“Kita perlu kenal diri kita ini sendiri bagaimana, kenapa melakukan hal tersebut. Misalnya seperti tidak terbiasa untuk mengekspresikan kemarahan, karena marah itu bukan suatu yang bagus. Padahal marah itu ‘kan suatu emosi yang wajar dialami manusia. Tidak mungkin kita tidak pernah marah. Dan yang membedakan adalah cara mengekspresikannya,” ucapnya.

Kalau “sedang marah dan membanting-banting barang, serta menyakiti diri sendiri dan orang lain, itu salah. Bukan marahnya yang salah, tetapi cara mengekspresikanya yang salah,” ujarnya.

“Perasaan marah itu bisa juga kita sampaikan dengan cara yang sehat. Saat kita kecewa dan marah terhadap orang lain, maka kita sampaikan apa yang buat kita marah dan kecewa. Saat marah, tujuannya ingin orang tersebut tahu kalau kita sedang kesal, dan kita tahu apa yang perlu dilakukan setelah itu,” jelasnya.

Berperilaku asertif

“Jadi belajar asertif, itu yang penting. Asertivitas itu jenis komunikasi yang bisa dipelajari. Karena tanpa kita belajar tentang komunikasi secara asertif, pasti akan banyak hal yang tidak bisa jalan secara efektif, terutama dalam hubungan,” katanya.

Ketika dua orang bertemu, mungkin dua orang ini sangat berbeda, mulai dari latar belakangnya, cara dibesarkannya, karakternya, lingkungannya.

“Saat kita bertemu dengan orang, dan dalam hubungan ini ‘kan ada dua orang yang berbeda. Kalau misalnya mereka disatukan tanpa ada komunikasi yang efektif, bagaimana mau jalan hubungannya,” tegasnya.

Sehingga, komunikasi itu adalah jembatan yang menyatukan dan menghubungkan dua perspektif, dua kepala yang berbeda untuk bertemu dalam suatu kesepakatan. “Jadi komunikasi asertif, komunikasi yang jelas, itu sangat diperlukan dan perlu kita latih secara terus-menerus,” anjurnya.

Karena jika kita termasuk pasif, selalu menyetujui dan hanya mengikuti, lama-kelamaan orang akan menganggap bahwa kita bisa dimanfaatkan. Atau misalnya kita yang agresif dan menyerang terus, lama-lama orang akan lelah menghadapinya.

“Kalau kita pasif-agresif dan ambigu, kadang A atau B, pada suatu momen aku sayang kamu dan momen aku benci sama kamu. Padahal mungkin saat momen aku benci itu adalah ada perasaan marah yang ingin disampaikan. Kalau kita bilangnya benci, tetapi kadang bilang sayang, itukan membuat bingung,” tutur Indah.

Saat kita belajar asertif, “ketika ada perasaan tidak nyaman, maka bisa menyampaikannya. Pasangan pun jadi tahu, sehingga bisa mengerti bagaimana ke depannya. Jadi paling penting adalah belajar asetif supaya kita tidak sering-sering mengeluarkan perkataan atau perilaku yang ambigu,” ungkapnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Ketika tidak bisa mengungkapkan secara terbuka apa yang menjadi harapan atau kebutuhan kita, maka jelas tidak akan mendapatkan solusinya.

“Jika kita bisa mengekspresikannya secara terbuka secara jelas, itu akan membuat adanya kejelasan dalam sebuah hubungan. Pasangan juga akan memahami kita maunya apa,” terang Indah.

Dan itu akan mendekatkan keduanya. “Sebab, keterbukaan itu kunci dalam hubungan. Jadi kalau misalnya susah untuk terbuka, nantinya akan sulit untuk dekat. Jadi pasangan kita susah juga untuk memahami,” lanjut Psikolog Klinis ini.

Sebaliknya, kita juga sulit memahami pasangan kalau ia tidak terbuka.

“Jadi memang hubungan itu saling memengaruhi. Keterbukaan dan kejelasan itu adalah kunci utama dalam sebuah hubungan. Karena kalau ambigu, banyak interpretasi dari pesan yang kita sampaikan, itu membuat semakin makin lelah,” ucapnya.

“Kalau kita bikin kode, itu juga bikin lelah untuk menebak-nebaknya. Dan ada kemungkinan kita merasa tidak dipahami. Jadi perlu terbuka dan juga jelas dalam menyampaikan pesan. Karena itu merupakan kunci dari suatu hubungan,” tegasnya lagi.