Delusi, Samakah Artinya Dengan Ilusi dan Halusinasi? Ini Penjelasan Psikolog

delusi adalah
Foto: www.freepik.com

Ilusi, halusinasi, dan delusi adalah istilah yang mungkin sering kamu dengar. Meski sering kali dianggap memiliki arti yang sama, namun kenyataannya ketiga istilah yang berkaitan dengan kesehatan mental ini mempunyai makna yang berbeda.

Untuk mengetahui lebih lanjut, LIMONE telah menghubungi Risky Adinda, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis Dewasa dari Biro psikologi SADARI (@sadari_diri) dan biro psikologi Attentive (@attentive.id), yang akan menjelaskan terkait pengertian delusi dan  cara mengatasinya.

Apa Itu Delusi?

delusi adalah
Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, “waham atau delusi adalah keyakinan kuat terhadap suatu hal yang tidak sesuai dengan realita, yang mana tidak bisa diubah walau banyak bukti yang berlawanan dengan delusinya,” ungkap Dinda.

“Contoh dari delusi yang bisa dimiliki seseorang misalnya meyakini dirinya adalah seorang penguasa, meyakini dirinya dijadikan target pembunuhan, atau meyakini seseorang sangat terobsesi dengan dirinya. Di mana keyakinan-keyakinan ini tidak sesuai dengan kebenaran atau realitanya,” lanjut Psikolog Klinis ini.

Apakah Artinya Sama dengan Ilusi dan Halusinasi?

delusi adalah
Foto: www.canva.com

Menurut Dinda, delusi, ilusi, dan halusinasi merupakan gejala yang sering kali ditemukan pada penderita gangguan psikotik, seperti gangguan skizofrenia. “Namun ketiganya merupakan hal yang berbeda,” ujarnya.

“Jika delusi berkaitan dengan keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap dirinya. Maka ilusi dan halusinasi berkaitan dengan pancaindra. Ilusi adalah kondisi ketika seseorang salah mempersepsikan rangsangan yang diterima pancaindranya,” jelas Dinda

“Seperti kesalahan saat melihat sesuatu yang lebih besar dari aslinya (ilusi optik), atau kesalahan mendengar sesuatu (ilusi pendengaran),” contohnya.

Sementara, “halusinasi adalah gangguan persepsi di mana seseorang melihat, mendengar, mencium, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada (tidak ada rangsangan pada pancaindra). Contoh dari halusinasi seperti mendengar bisikan atau suara yang berbicara padanya, padahal tidak ada orang lain yang sedang bersamanya,” lanjutnya.

Apakah Gangguan Mental Ini Menjadi Hal yang Berbahaya?

delusi adalah
Foto: www.pexels.com

Psikolog Klinis Dewasa ini menuturkan bahwa “Delusi adalah salah satu gejala utama dalam gangguan psikotik seperti skizofrenia. Sebagai gangguan tersendiri (gangguan delusi) juga merupakan kondisi gangguan mental yang serius dan membutuhkan penanganan profesional,” ungkapnya.

Sebab, keyakinan kuat yang tidak sesuai dengan realita yang dimiliki penderitanya dapat mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan orang lain.

Apa Saja Penyebab Terjadinya Delusi?

Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan seseorang bisa mengembangkan gangguan mental yang satu ini. Seperti faktor genetik (keturunan), biologis, psikologis, dan lingkungan sosial.

Baca Juga :  Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Pasangan Meminta Waktu Sendiri?

“Gangguan-gangguan psikotik terutama sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Di mana jika ada riwayat gangguan psikotik seperti skizofrenia di keluarga, maka hal tersebut menjadi faktor risiko seseorang untuk mengembangkan gangguan psikotik, salah satunya adalah delusi,” terangnya.

Sementara itu, faktor biologis yang berperan yaitu adanya kelainan fungsi otak dan sistem saraf yang dapat memengaruhi munculnya delusi.

“Seseorang dengan faktor risiko genetik dan biologis tersebut, delusinya dapat dipicu oleh kondisi stres atau pengalaman traumatis. Apalagi jika ia menarik diri dari lingkungan sosialnya,” lanjutnya.

Apa Saja Gejala Delusi?

delusi adalah
Foto: www.freepik.com

Terdapat beberapa jenis dari delusi ini sendiri, dan memiliki gejala yang berbeda antara satu dan lainnya.

Delusi persekusi

Jenis persekusi atau paranoid adalah kondisi di mana penderitanya meyakini bahwa dirinya akan dilukai atau dicelakakan oleh orang lain, organisasi, atau kelompok.

Delusi referensial

Salah satu jenis keyakinan kuat yang tidak sesuai dengan realita ini adalah “penderita meyakini bahwa tindakan atau perkataan seseorang yang ia lihat di lingkungannya merupakan pertanda tertentu yang ditunjukkan pada dirinya,” ujar Dinda.

Delusi kebesaran

Sementara jenis kebesaran atau grandiose adalah meyakini bahwa ia memiliki kebesaran tertentu. “Seperti meyakini dirinya adalah penguasa, memiliki kekayaan yang banyak, atau sangat terkenal,” paparnya.

Delusi erotomania

Untuk delusi yang satu ini, penderita meyakini bahwa seseorang sangat mencintai dirinya, bahkan sering kali orang tersebut bukanlah yang mengenal penderitanya, seperti publik figur atau selebriti.

Delusi bizzare

“Delusi yang diderita benar-benar tidak masuk akal. Seperti meyakini bahwa pikiran dan tubuhnya dikendalikan oleh makhluk luar angkasa,” katanya.

Apakah Gangguan Ini Dapat Berdampak pada Kehidupan Penderitanya?

Foto: www.canva.com

Gangguan ini memiliki dampak terkait dengan bagaimana seseorang menjalani kesehariannya. Soalnya, ia memiliki keyakinan kuat yang tidak sesuai dengan realita.

“Akibat delusinya, seseorang bisa mengalami konflik dengan orang lain, seperti keluarga, teman, pasangan, atau bermasalah di pekerjaannya,” ucap Dinda.

Tak hanya itu, “keyakinan yang tidak sesuai dengan realita ini juga dapat memengaruhi mood, bahkan bisa mendorongnya untuk melakukan tindakan yang merugikan atau membahayakan diri dan orang lain. Seperti menyendiri, melukai diri sendiri atau orang lain,” tambahnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Gangguan Ini?

Foto: www.freepik.com

Sebelum mengatasi gangguan delusi, maka perlu ada pemeriksaan psikologis secara menyeluruh oleh profesional, seperti psikolog atau psikiater. Gunanya untuk bisa mendiagnosis gangguan delusi pada seseorang.

“Karena terdapat kriteria tertentu untuk menegakkan diagnosis gangguan mental, yang hanya boleh dilakukan oleh profesional dengan kompetensi yang sesuai,” ujarnya.

“Untuk menangani gangguan delusi, sering kali meliputi kombinasi antara penggunaan obat-obatan yang bersifat antipsikotik, penenang, dan antidepresan. Juga disertai dengan psikoterapi yang bertujuan untuk membantu penderita menyadari dan mempelajari cara untuk menyanggah pikiran delusinya,” terang Dinda.

Baca Juga :  Apa Yang Harus Dilakukan Jika Chat Tidak Dibalas Pasangan? Ini Saran Psikolog

Selain itu, “terapi keluarga juga sering kali diberikan untuk membantu keluarga memahami kondisi penderita. Serta memfokuskan pada hal-hal yang dapat mereka lakukan sebagai keluarga dari penderita,” lanjutnya.

Bisakah Kita Mencegah Supaya Tidak Mengalami Gangguan Ini?

Foto: www.freepik.com

Dinda memaparkan bahwa “sampai saat ini, belum ada temuan bahwa gangguan delusi bisa dicegah. Karena gangguan-gangguan psikotik juga dipengaruhi oleh kelainan pada fungsi otak dan sistem saraf,” ucapnya.

“Jika seseorang mulai menunjukkan tanda-tanda mengalami delusi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan profesional. Hal ini bertujuan untuk menentukan diagnosis dan penanganan yang tepat,” sarannya.

“Diagnosis dan penanganan yang cepat serta tepat dapat membantu mengurangi terganggunya fungsi sehari-hari dan terganggunya kehidupan penderita,” jelasnya.

Kesimpulan

Foto: www.pexels.com

Layaknya semua gangguan kesehatan mental, “hindari melakukan self-diagnose maupun melabeli orang lain dengan gangguan tertentu,” tekannya.

“Jika merasa diri atau orang lain mengalami gangguan atau merasakan ketidaknyamanan, maka hal bijaksana yang bisa dilakukan adalah dengan mencari bantuan profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” pesannya.