Bagaimana Menghadapi Pasangan yang Childish

childish
Foto: www.freepik.com

Bersikap manja pada pasangan mungkin menjadi hal yang sering ditemukan dalam sebuah hubungan. Akan tetapi jika sikap tersebut berlebihan dan mengarah pada childish, maka ini justru akan memberikan dampak negatif, baik bagi kehidupan pribadi maupun pasangan. Lantas, bagaimana cara menghilangkan sifat kekanak-kanakan ini?

Simak penjelasan dari Fadhilah Eryananda, M.Psi., Psikolog, Co-founder dan Psikolog di Biro Kesehatan Mental SADARI, yang akan membahas penyebab munculnya sikap childish dan cara mengatasinya.

Apa Itu Childish?

childish
Foto: www.canva.com

“Sebetulnya, istilah childish ini sudah sering kita dengar. Biasanya merujuk pada perilaku orang dewasa yang kekanak-kanakan. Jika dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut dengan emotionally immature,” tuturnya,

Seseorang dikatakan childish atau emotionally immature, “ketika kemampuannya untuk mengelola emosi, mengekspresikan emosi, dan kemampuan sosialnya secara menyeluruh dianggap tidak sesuai dengan usianya dan tidak memenuhi ekspektasi dari masyarakat,” ungkap Fadhilah.

Mengapa Orang Bersikap Childish dan Apa Dampaknya?

childish
Foto: www.freepik.com

Ketika seseorang memiliki sikap childish, “sesungguhnya bisa disebabkan oleh faktor yang beragam. Namun umumnya karena pola pengasuhan dari orang tua, seperti adanya reward terhadap apa yang dilakukan, sehingga membuat perilaku tersebut bertahan sampai dewasa,” ungkapnya.

Saat kecil, kita cenderung menangis dan mengerengek ketika menginginkan sesuatu. “Jika orang tua terus-menerus memenuhi kebutuhan kita setelah melakukan cara tersebut, maka kita akan mempelajari bahwa ternyata cara menangis dan merengek sangat efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan,” jelasnya.

“Maka, hal tersebut menjadi penyebab perilaku childish bisa bertahan,” lanjut Psikolog Klinis yang satu ini.

Lantas, apakah menjadi kekanak-kanakan merupakan hal yang wajar? “Wajar atau tidak wajarnya akan tergantung dari sesering apa dan seintens apa. Perlu didefisinikan lebih lanjut terkait perilaku childish yang muncul,” jawabnya.

Menurut Fadhilah, ketika seseorang bersikap kenaka-kanakan pastinya hal ini dapat berdampak bagi kehidupannya. “Karena ketika beranjak dewasa, kita dituntut untuk memenuhi ekspektasi terkait perilaku sosial dalam hubungan romantis, pertemanan, dan profesional,” ungkapnya.

“Jika kita mengalami emotionally immature, maka akan kesulitan beradaptasi dengan ekspektasi tersebut. Sehingga dampaknya bisa mengganggu kualitas dari hubungan, pekerjaan, dan kehidupan secara umum,” imbuhnya.

Bagaimana Mengenali Pasangan yang Childish?

Foto: www.freepik.com

Dalam hubungan romantis, tak jarang seseorang berperilaku childish baik itu secara tidak sengaja atau disengaja. Berikut beberapa tanda-tanda pasangan yang memiliki sikap kekanak-kanakan:

Impulsif

Menurut Fadhilah, tanda pertama adalah adanya perilaku impulsif. “Di mana seseorang cenderung tidak dapat mengontrol diri. Dia selalu ingin segera mendapatkan apa yang ia mau tanpa memperdulikan kepentingan orang lain. Selain itu, ia juga tidak memikirkan konsekuensi jangka panjang dari perilakunya,” terang Fadhilah.

Defensif

Tanda selanjutnya adalah perilaku defensif, “yakni tidak dapat mengakui kesalahan dan fokus menyalahkan orang lain atau eksternal ketika terdapat hal yang tidak sesuai atau tidak beres. Padahal seharusnya ia fokus mencari solusi atau penyelesaian,” tuturnya.

Self-centered

Selain itu, ia juga “selalu ingin menjadi pusat perhatian, tidak peduli dengan kebutuhan orang lain, dan menuntut semua orang untuk selalu memperhatikan serta merawat dirinya. Pasangan juga cenderung sulit untuk berempati dan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain,” katanya.

Memiliki masalah terkait komitmen

Biasanya, seseorang akan “melihat hubungan dan komitmen sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Sehingga sulit untuk mempertahankan hubungan romantis yang jangka panjang,” paparnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Sifat Childish?

childish
Foto: www.canva.com

Fadhilah menuturkan bahwa “kesadaran terhadap perilaku adalah poin penting. Jika sudah menyadari perilakunya dan mengetahui dampaknya, maka selanjutnya penting untuk mengubah hal tersebut,” ujarnya.

“Amati kapan perilakunya muncul, kemudian beri jeda sebelum bereaksi terhadap sesuatu. Setelahnya, coba tentukan perilaku atau respons yang lebih efektif sesuai dengan situasi,” sarannya.

Namun, apa penyebab seseorang sulit untuk menghilangkan sifat childish-nya?

“Banyak faktor. Bisa jadi karena kurang contoh atau role mode. Selain itu, bisa juga karena kurangnya dukungan (support system), atau bahkan belum menyadari bahwa perilakunya tersebut bermasalah dan dapat menimbulkan konsekuensi yang negatif,” jawabnya.

Menurut Fadhilah, ketika “ada keinginan untuk berubah, maka hal tersebut sudah sangat baik dan bukan menjadi masalah jika kamu masih kesulitan untuk menghilangkan sifat childish. Berikan apresiasi atas usaha yang telah dilalui. Kemudian, refleksikan mengapa masih sulit untuk dilakukan. Fokus juga terhadap apa yang sudah berhasil diraih, dan ulangi lagi keberhasilan tersebut,” sarannya.

Bagaimana Jika Pasangan Kita yang Memiliki Sifat Childish?

Foto: www.unsplash.com

“Jika menemukan adanya tanda emotionally immature dalam hubungan, maka tidak perlu khawatir karena not all hope is lost. Kamu bisa mencoba untuk melakukan beberapa pendekatan,” ujar Psikolog Klinis yang satu ini.

Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan ketika menghadapi pasangan yang childish:

  • Cobalah untuk mengungkapkan secara langsung apa yang mengganggu, dengan cara yang asertif menggunakan I-message. Serta berikan saran atau solusinya.
  • Buat batasan yang sehat dan komunikasikan terkait batasan tersebut.
  • Cari bantuan profesional dengan melakukan konseling secara individual atau konseling pasangan.

Kesimpulan

Foto: www.unsplash.com

Fadhilah berpesan bahwa “untuk individu yang sedang berjuang dengan isu ini dalam hubungannya, baik yang melakukan atau melihat sikap childish pada pasangannya. Jika hubungan romantis itu penting, maka kamu akan mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut secara bersama-sama. Cobalah untuk mengomunikasikan dan cari bantuan ketika membutuhkan,” sarannya.