Tanya Ahli: Bagaimana Cara Menghilangkan Rasa Malas Pada Anak?

Cara menghilangkan rasa malas
Foto: www.freepik.com

Ketika melihat anaknya tidak bersemangat dan malas belajar, pastinya orang tua akan khawatir, terlebih jika rasa malas tersebut berlangsung secara terus-menerus. Beragam cara pun dilakukan orang tua, mulai dari memasukkan anak ke tempat bimbingan belajar, bahkan  hingga memarahi anaknya. Apakah cara-cara ini memang ampuh menghilangkan rasa malas pada anak?

SImak penjelasan dari Yuvita Wijaya, M.Psi.,Psikolog., CPDPE, seorang Psikolog Anak dan Keluarga dan Certified Positive Parenting Educator dari Tania Kids Center Tanjung Duren. Beilau akan memaparkan penyebab anak menjadi malas dan cara mengatasinya.

Mengapa Anak Bisa Memiliki Perasaan Malas?

Cara menghilangkan rasa malas
Foto: www.freepik.com

“Malas itu berarti ketika seseorang tidak mau atau enggan untuk mengerjakan sesuatu. Sebenarnya, jika sesekali anak merasa malas, itu masih merupakan hal yang wajar karena kita pun sebagai orang dewasa juga demikian. Namun jika setiap hari hal tersebut menjadi pergumulan bagi orang tua, maka tentunya menjadi tidak wajar dan harus dicari penyebabnya,” jelasnya.

Jika anak terus-menerus merasa malas, maka orang tua dapat mencari solusi untuk mengatasi rasa malasnya tersebut. Namun, apa penyebab anak menjadi malas? Menurut Yuvita, faktor seorang anak mengalami rasa malas dapat disebabkan oleh dua faktor, yakni internal dan eksternal.

Faktor internal

Alasan mengapa seorang anak merasakan malas, termasuk malas belajar, ternyata dapat disebabkan dari faktor internal, seperti:

  • Terlalu lelah
  • Tidak memahami pelajaran, yang mana bisa jadi karena memiliki fondasi yang kurang kuat atau kurang paham secara verbal apa yang dijelaskan oleh gurunya
  • Anak memiliki gangguan fokus
  • Gaya belajar yang tidak cocok
  • Tidak tertarik terhadap pelajaran atau hal yang dilakukan
  • Pelajaran atau hal yang dilakukan terlalu mudah sehingga membuat anak menjadi bosan
Baca Juga :  Bagaimana Menghadapi Anak yang Terlalu Suka Main Hape dan Gadget Lain?

Faktor Eksternal

Selain faktor internal munculnya rasa malas juga bisa disebabkan oleh faktor eksternal, seperti:

  • Waktu bermain dan belajar kurang seimbang
  • Sedang ada masalah dalam keluarga
  • Adanya masalah dengan guru atau teman
  • Terlalu banyak bermain gadget
  • Tidak ada yang mendampingi ketika mengerjakan sesuatu
  • Tidak memiliki rutinitas dan pembiasaan belajar secara teratur sejak dini
  • Memiliki persepsi negatif terhadap belajar, seperti sering dimarahi ketika belajar

Apakah Rasa Malas Dapat Memengaruhi Kehidupan Anak?

Foto: www.unsplash.com

Ketika rasa malas yang dirasakan oleh anak berlangsung secara terus-menerus, maka tentunya akan berpengaruh dalam beberapa hal, seperti:

Nilai akademik

Rasa malas yang dialami secara berlanjut akan memengaruhi nilai akademik di sekolah, atau hasil dari kegiatan-kegiatan yang ia ikuti pasti akan kurang maksimal. “Kelak akan berpengaruh ke rasa percaya dirinya juga,” tutur Yuvita.

Hubungan orang tua dan anak

Umumnya ketika menghadapi anak yang terus-menerus malas, pasti orang tua akan lebih mudah untuk terpancing emosinya. “Sehingga pasti akan marah-marah kepada anak, dan akhirnya berpengaruh pada hubungan orang tua dan anak,” paparnya.

Keseharian anak

Rasa malas ini juga akan berdampak pada diri anak tersebut, “karena jika dibiasakan malas maka menjadi seperti anak yang tidak bersemangat. Bisa kemana-mana juga nantinya, misalnya jadi kecanduan gadget atau obesitas karena tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun,” ungkapnya.

Bagaimana Menghadapi Anak yang Sedang Malas?

Cara menghilangkan rasa malas
Foto: www.freepik.com

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan orang tua ketika menghadapi anak yang sedang mengalami rasa malas?

“Pertama, kita harus cari tahu terlebih dahulu penyebabnya apa. Ketika kita mengetahui penyebabnya, maka kita akan memberikan solusi yang tepat,” jawab Yuvita.

Selanjutnya orang tua dapat memahami terlebih dahulu perasaan dan alasan mengapa anak merasa malas. Kemudian hindari penggunaan kata-kata yang menghakimi anak, seperti ‘males banget sih jadi anak’.

"Lalu, ajak anak untuk mencari solusi bersama. Win-win solution. Jika anak belum bisa memberi solusi dengan terbuka, maka kita dapat membantu anak untuk memilih di antara 2-3 pilihan solusi,” sarannya.

Baca Juga :  Apa Itu Narsis dan Apakah Kamu Sedang Membesarkan Anak yang Narsis?

Setelah membuat kesepakatan, peran orang tua tetap penting dalam langkah selanjutnya. Seperti mendampingi anak, membuat suasana belajar yang menyenangkan, memberi dukungan kepada anak, melakukan kegiatan bersama, dan berproses bersama dengan anak.

Bagaimana Cara Menghilangkan Rasa Malas Pada Anak?

Cara menghilangkan rasa malas
Foto: www.rawpixel.com

Ternyata, rasa malas memang dapat memberikan dampak negatif bagi kehidupan anak. Tentunya sebagai orang tua ingin melakukan apa pun agar anaknya kembali merasa semangat. Lantas, bagaimana cara menghilangkan rasa malas pada anak?

  • Ciptakan suasana yang menyenangkan
  • Mencari hal yang diminati anak
  • Beri penjelasan mengapa anak perlu melakukan hal tersebut
  • Fokus pada kemajuan anak, bukan pada hasil dan beri pujian atas kemajuannya
  • Melihat kesiapan dari diri anak untuk melakukan suatu hal, termasuk belajar. “Jika anak belum siap, maka jangan menyerah untuk mencoba kembali 30 menit kemudian,” anjurnya Yuvita.

Bagaimana Cara Mencegah agar Rasa Malas Tidak Terlalu Sering Datang?

Foto: www.freepik.com

Hal ini dapat berjalan dengan sempurna jika adanya kerja sama antara orang tua dan anak. Namun, rasa malas yang dialami oleh anak ternyata bisa dicegah sebelum memberikan dampak yang lebih buruk pada kehidupannya. Menurut Yuvita, hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yakni:

Rutinitas yang jelas

Membuat rutinitas yang jelas setiap harinya. Sehingga anak dapat memprediksi kapan waktunya belajar dan kapan waktunya bermain

Seimbangnya waktu belajar dan bermain

Waktu belajar dan bermain harus seimbang dan disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, jika anak yang usia taman kanak-kanak maka waktu belajarnya hanya selama 20-30 menit per hari. Sisanya dapat distimulasi melalui permainan dan yang terpenting adalah tidak perlu memaksa anak.

“Namun untuk anak usia sekolah dasar, karena tuntutan sudah lebih banyak maka pastinya waktu belajar juga lebih banyak. Oleh karena itu, penting untuk dibangun pembiasaan sejak dini. DImulai dari 5-10 menit juga ngga apa-apa, supaya nanti di SD tidak kaget,” ucapnya.

Baca Juga :  Studi Baru: Terpapar TV dari Kecil Tidak Membuat Anak Memiliki Masalah Atensi

Buat suasana yang positif

Ketika belajar, sebaiknya orang tua membuat suasana yang positif. Jangan terlalu memaksakan, terlebih sampai marah-marah. Dikhawatirkan anak akan memiliki persepsi yang negatif jika dipaksa atau dimarahi. Ketika persepsi anak mulai negatif, hal itu akan semakin sulit untuk memperbaikinya.

Jelaskan tujuan kegiatan

Selalu jelaskan apa tujuannya ketika anak perlu melakukan suatu hal, misalnya mengapa ia perlu belajar, atau mengapa ia perlu mandi.

Kesimpulan

Foto: www.unsplash.com

Ketika anak mulai terus-menerus merasakan malas, maka hal ini perlu diperhatikan lebih lanjut baik oleh orang tua maupun individu anak itu sendiri. Yuvita menyarankan agar anak tidak membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang kurang penting. “Waktu ini berjalan cepat, saingan kalian ke depan semakin ketat. Jika tidak mulai melatih diri dari sekarang dalam berbagai aspek, mau kapan? Jangan sia-siakan waktu dan lakukanlah yang terbaik,” ujarnya.

Sementara bagi para orang tua, tips dari Yuvita adalah “jadilah orang tua yang kind but firm. Tetap punya aturan dan standar yang jelas untuk anak. Namun jangan lupa disertai dengan dukungan dan kehangatan pada anak. Berproseslah bersama anak. Dengarkan, pahami, cari solusi, dan dampingilah,” tuturnya.