Tanya Ahli: Apa yang Bisa Dilakukan agar Keuangan Pribadi Aman di Era Pandemik?

isu finansial coronavirus
Foto: www.gettyimages.com

Ah, isu COVID-19 memang sedang berita utama di mana-mana, mulai dari media internasional, nasional, sampai geng WhatsApp. Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik dan mental, coronavirus terbaru ini juga mulai merambat ke isu finansial. Berita tentang berbagai bisnis dan industri merugi dan mulai merencanakan untuk mengurangi staf—sama sekali tidak membantu. Malah membuatmu tambah deg-degan dan panik. Pertama, agar bisa tetap kalem dan panik berkurang, coba lakukan trik ini.

Kedua, mari bertanya kepada ahli finansial apa yang sebaiknya dilakukan di saat tidak menentu seperti sekarang ini? Bagaimana meminimalisir isu finansial akibat gonjang-ganjing coronavirus?

“Kasus virus Corona ini memiliki butterfly effect kemana-mana,” kata Irshad Wicaksono Ma’ruf, seorang Personal Financial Planner, kepada LIMONE melalui email. “Bahkan sebelum virus Corona, sudah banyak sentimen negatif seperti panasnya kondisi politik Indonesia, skandal Jiwasraya, beberapa manajer investasi disuspen oleh OJK, perang dagang AS dan Cina, produk CPO Indonesia diblokir Eropa. Dan sekarang ditambah virus Corona, dan perang minyak dunia,” jujurnya.

Eits, jangan putus asa dulu. Atau, lebih parah: menutup artikel ini dan melempar ponselmu. Pasalnya, tetap ada hal-hal yang bisa dilakukan agar kondisi keuanganmu aman dan nyaman. Dengan kata lain, meminimalkan isu finansial pribadi.

Aspek Keuangan Apa yang Paling Terkena Dampak dalam Situasi Ini?

finansial akibat corona
Foto: www.gettyimages.com

Menurut Irshad, situasi sekarang ini sangat mempengaruhi ekonomi Indonesia baik langsung maupun tidak langsung. “Banyak ahli ekonomi memperkirakan perlambatan ekonomi masih akan terasa beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Dan jika membicarakan aspek keuangan dan isu finansial yang paling terkena dampak adalah penghasilan, baik itu dalam bentuk gaji atau hasil usaha.

“Saya kutip dari penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa setiap penurunan ekonomi Cina maka akan diikuti penurunan ekonomi Indonesia 0,3% sampai 0,6%. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan di bawah 5% dan ini semua akan berdampak ke penghasilan setiap orang,” paparnya.

Ah, penghasilan—sungguh topik yang sensitif. Hm… melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut dan dampaknya terhadap kehidupan pribadi, apakah mungkin kita bisa tiba-tiba miskin?

Jawaban bohong jawaban jujur dan cepatnya, “sangat bisa,” kata Irshad. “Misalnya, jika terkena perampingan perusahaan, sementara penghasilan satu-satunya dari perusahaan tempat kita bekerja,” katanya memberi contoh. Atau, karena melihat kondisi pasar saham sedang turun, kamu memutuskan untuk menginventasi semua uang di pasar saham. Eh, ternyata pasar saham terus menurun sehingga investasinya untung malah buntung. “Jika hal ini terjadi, pasti biaya hidup terganggu,” lanjutnya.

Apa yang Bisa Lakukan agar Kondisi Keuangan Tetap Aman?

finansial akibat corona
Foto: www.gettyimages.com

Irshad menekankan bahwa sangat penting untuk memperlengkapi diri dengan pengetahuan tentang keuangan. Kamu bisa mencari informasi terbaru dari buku, mengikuti seminar keuangan, membaca buku artikel keuangan dan menyewa jasa perencana keuangan.

Lalu, lakukan beberapa tips praktis di bawah ini.

Tentukan Prioritas dalam Hal Pembelian

Hindari memborong barang, misalnya makanan. “Karena panik, borong semua barang untuk distok, tapi barang stok tidak terpakai dengan maksimal, misal borong produk makanan. Lalu karena terlalu banyak dan menumpuk, akhirnya banyak yang kedaluwarsa dan akhirnya uang terbuang dengan sia-sia,” terang Irshad. Eits, tapi bukan berarti kamu berhenti membeli barang, ya. Karena menurut Irshad, konsumsi atau belanja karena penopang terbesar GDP Indonesia. “Tapi konsumsi atau belanja sewajarnya. Bedakan mana yang masuk kebutuhan dan mana yang masuk keinginan, bukan keinginan yang dibutuh-butuhin,” tegasnya.

Buat Perencanaan Keuangan secara Berkala

Poin ini, sebenarnya, kata Irshad sebaiknya dilakukan baik dalam kondisi normal maupun labil seperti sekarang ini. “Tujuannya agar tidak panik dan khawatir berlebihan,” terangnya. Dia menganjurkan untuk melakukan perencanaan cita-cita keuangan masa depan baik jangka pendek (1 sampai 2 tahun), menengah (3 sampai 5 tahun), dan panjang (6 tahun keatas). “Dengan kita melakukan perencanaan keuangan masa depan, kita bisa mengukur dan menentukan instrumen keuangan yang tepat.
Dan perlu di-review performa investasi kita secara berkala, misal 3 bulan sekali apakah sesuai dengan perencanaan di awal atau meleset jauh,” sarannya.

Sediakan Dana Darurat

“Kondisi sekarang ini cash is king, dan inilah dana darurat,” tekannya. Lebih lanjut Irshad menjelaskan bahwa dana darurat harus tersedia minimal enam kali penghasilan bulanan untuk yang berkeluarga dan belum punya. Sementara untuk yang sudah berkeluarga dan punya anak, usahakan memiliki dana darurat sebanyak 12 kali penghasilan bulanan.

Terlalu besar?

“Dana darurat ini adalah dasar,” terangnya. “Kalau kondisi semakin terpuruk minimal kita bisa hidup beberapa bulan ke depan dengan dana darurat ini. Dan sangat penting, jika dana darurat ini terpakai segera isi kembali.”

Atur Utang dan Persentase Menabung/Investasi

Atur utang maksimal hanya 30% dari penghasilan bulanan. Lalu, pastikan sebisa mungkin persentase menabung dan investasi minimal 10% dari penghasilan bulanan.

Miliki Asuransi

Dan jangan lupa juga: miliki asuransi kesehatan minimal BPJS. “Kalau masih merasa kurang manfaatnya dan kamu masih memiliki kemampuan finansial, tambah dengan asuransi kesehatan swasta. Dan pastikan manfaat asuransinya bisa cover penyakit kritis salah satunya Corona. Serta, kalau keuangannya masih mampu, tambah proteksi dengan asuransi jiwa dengan besaran pertanggungan jiwa yang cukup.
Perlu diingat asuransi itu produk untuk proteksi bukan untuk investasi. Jadi dana yang disiapkan untuk beli asuransi adalah dana yang rela untuk hangus,” tekannya.

Evaluasi Perencanaan Keuangan secara Berkala

Dan oleh karena kondisi pelemahan ekonomi masih bisa belum diprediksi kapan akan berakhir—apalagi dengan virus Corona—Irshad menambahkan untuk mengevaluasi perencanaan keuangan secara berkala.

Libatkan Pasangan dan Miliki Level Pengetahuan yang Sama Baiknya

“Dan saat melakukan perencanaan keuangan libatkan pasangan, ini penting. Karena kalau sudah menikah, keuangan akan saling berkaitan,” paparnya. Lalu, pastikan juga bahwa kedua belah pihak mengerti soal keuangan dan cara mengaturnya.

Tidak ada yang ingin menginginkan malapetaka terjadi, tapi seandainya ada salah satu pasangan meninggal (ketuk-ketuk kayu meja tiga kali), kamu tahu apa yang harus dilakukan.

“Misalkan sang suami pintar mengelola keuangan sehingga asetnya banyak dan bertumbuh baik. Lalu di tengah perjalanan si suami terkena risiko meninggal dunia, lalu sang istri menerima warisan aset dari suami yang cukup besar. Bila pengetahuan dan pengelolaan keuangan sang istri tidak sepintar suaminya, maka ini bisa jadi ‘malapetaka’, dan bisa menggagalkan perencanaan keuangan yang sudah dibangun,” ujarnya tanpa berusaha menakut-nakuti.

Cari Penghasilan Tambahan Jika Pengeluaran Lebih Pasak daripada Tiang

irshad menegaskan bahwa poin ini tidak hanya berlaku pada saat kondisi naik turun seperti sekarang ini. Melainkan, saat kamu dan pasangan merasa pengeluaran lebih besar dibanding penghasilan, dan bahkan setelah dilakukan pengaturan masih saja ‘tekor’, maka sebaiknya cari penghasilan tambahan. “Entah itu berbisnis atau ikut pelatihan untuk meningkatkan skill yang kira-kira bisa menjadikan penghasilan tambahan,” anjurnya.

Sekali lagi, artikel ini tidak untuk menakut-nakuti atau membuat panik—tapi sekarang kamu tahu apa yang sebaiknya dilakukan, terutama pada situasi yang tidak menentu ini. Hitung-hitung mengikuti pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’. Dan jika ketika situasi kembali normal dalam satu dua bulan mendatang (semoga, ya!)—persiapan seperti ini merupakan sesuatu yang bernilai dan memberikan efek positif untuk keuangan pribadi. Di samping kondisi keuangan bagus dan aman, yah paling tidak kamu menjadi semakin ahli dalam mengatur keuangan pribadi.

Selanjutnya: jangan panik karena isu finansial bisa terjadi pada dirimu. Coba baca panduan untuk menjadi optimis ini, terutama jika kamu adalah seseorang yang pesimis dan skeptis.