Adakah Cara Menegur Anak yang Paling Tepat?

Foto: www.stocksy.com
Last updated:

Bisa diperdebatkan: tapi sepertinya lebih membingungkan menegur anak dibandingkan orang yang tidak memakai masker pelindung di ruang publik di masa pendemi. Apalagi, saat bibir anak bergetar dan matanya berkaca-kaca setelah teguran dilayangkan. Adakah cara menegur anak yang paling tepat sehingga anak mengerti dan orangtua tidak perlu bersalah?

LIMONE berbincang dengan Karina Negara, seorang psikolog klinis anak dan keluarga, dan Co-Founder KALM, sebuah aplikasi konseling online.

Apa Definisi “Menegur Anak” dan Kapan Anak Perlu Ditegur?

Foto: www.freepik.com

Sebelum membahas lebih lanjut tentang metode menegur anak, Karina menyarankan untuk menyamakan persepsi tentang definisi menegur anak. Yakni, sebuah tindakan mengoreksi secara verbal perilaku anak yang kurang tepat. Perilaku kurang tepat di sini bisa berupa pelanggaran terhadap peraturan yang orangtua, atau peraturan umum, atau aturan yang diberlakukan orangtua dan disepakati dengan anak.

Satu hal yang ditekankan oleh Karina tentang menegur anak, bahwa “Menegur tidak sama dengan marah. Tegur tidak sama dengan teriak, tegur tidak sama dengan kritik.”

Sebut saja latar belakang tempatnya adalah tempat bermain di mal. Dan si kecil kesayanganmu mendorong anak lain atau merebut mainan yang sedang dipegang temannya. Apakah perlu ditegur saat itu juga?

“Iya, justru semakin kecil, anak semakin perlu tanggapan yang segera karena dia tidak akan mengerti bahwa dia yang tadi dilakukannya salah atau benar. Bisa jadi anak ini nggak tahu dia melakukan kesalahan,” jelasnya.

Alih-alih menitikberatkan pada waktu dan kapan menegurnya, Karina menjelaskan bahwa usia menjadi faktor penting saat ingin menegur anak—baik di depan umum, di depan orang banyak, atau di rumah.

Jadi, bahkan ketika di ruang publik, tidak masalah jika orangtua ingin menegur. Sekali lagi yang dititikberatkan di sini adalah, cara menegur anak.

Nggak papa dilakuan saat itu juga, apalagi untuk anak yang masih kecil banget. Karena jika kita memilih menunggu, atau menegurnya nanti-nanti saja, anak kecil nggak bakal tahu dia sudah melakukan kesalahan. Misalnya jika delapan jam kemudian kita baru memberitahu bahwa, ‘Adek nggak boleh lho, mendorong orang lain,’ dia akan membalas dengan ‘huh,'” paparnya. Prinsipnya ini biasanya berlaku untuk anak di bawah umur lima tahun.

Bagaimana Usia Mempengaruhi Cara Menegur Anak?

cara menegur anak
Foto: www.freepik.com

Menurut Karina, definisi biologis tentang kategori anak bervariasi, tapi biasanya mereka yang berusia 0 sampai 18 tahun dikelompokkan sebagai anak remaja.

Dan cara menegur ini disesuaikan dengan apakah dia masih batita, balita, umur sekolah awal (SD dari kelas 1 sampai kelas 3), umur kelas 4 sampai 6 tahun, SMP (pra-remaja/remaja) dan SMA (remaja).

Apa maksudnya ini?

“Orangtua perlu memahami cara berkomunikasi dengan masing-masing usia itu, dan silakan menegur dengan usia anak tersebut,” terangnya. Dan ingat, cara menegur seorang anak, ketika dia masih kecil dan saat sudah besar—adalah memerlukan pendekatan yang berbeda. Soalnya, mereka sudah berubah.

“Pemahaman mereka meningkat dan pemahaman terhadap konsep abstrak atau konkret berubah. Yang sudah mengetahui konsep abstrak biasanya anak yang duduk di kelas 5. Intinya, semakin ke atas, semakin paham konsep abstrak,” ujarnya.

Sementara itu, yang masih muda (di bawah usia siswa kelas 5), sebaiknya ditegur dengan pemaparan yang konkret. Jika kamu mengatakan ‘Dek, kamu nggak boleh begitu, ya’—ini adalah sesuatu yang abstrak. Anak berusia balita misalnya, akan kesulitan mengerti hal tersebut. Bahkan jika kita menyampaikan dengan bahasa penuh kasih dan manis. Jadi, saat menegur anak usia dini, sangat perlu menyebutkan perilakunya yang kurang tepat itu—dan menjelaskan ‘kenapanya’ dengan sesuatu yang konkret juga.

Nah, di sini sering kali orangtua menemui kesulitan: menjelaskan mengapa tindakan itu salah. Menurut Karina, pada anak yang lebih kecil mungkin orangtua tidak perlu menjelaskan secara rumit, tapi beda ceritanya pada remaja.

“Untuk remaja, kita bisa berikan penjelasan dan kenapanya yang lebih panjang, abstrak, konseptual. Namun sering kali anak lebih ‘pinter’ dan kritis dan bertanya, ‘kenapa tidak boleh?’ Nah, di sini orangtua harus bisa menyesuaikan dan bisa menjawab dengan penjelasan yang dapat dipahami. Karena kalau anaknya tidak paham kenapanya, mau dibentak atau lainnya, kemungkinan dia nggak akan ngerti. Jadi, yang harus pinter memang orangtuanya untuk mengetahui apakah anaknya perlu penjelasan konkret atau sudah bisa abstrak,” jelasnya.

Apa yang Harus Orangtua Sebelum Menegur Anak?

cara menegur anak
Foto: www.freepik.com

Apakah kamu butuh tambahan PR (pekerjaan rumah) sebagai orangtua? Dengan menganggap kamu menjawab pertanyaan ini dengan anggukan, ada satu hal yang perlu kamu ketahui yang kaitannya erat dengan menemukan cara menegur anak yang tepat. Yakni, pengenalan terhadap anak.

“Hal ini sangat penting. Selain mengenal kepribadian anak, orangtua juga sebaiknya mengetahui teori-teori dasar perkembangan anak. Jadi, bukan hanya tentang ‘anakku orangnya kayak begini’—yang adalah sesautu yang bagus—tapi juga pengetahuan umur dan kecerdasan,” katanya.

Itu, satu hal tentang pengenalan anak. Dan hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah: orangtua mengenal dirinya sendiri. Mengapa hal ini penting, tanyamu. Karena ini akan berperan krusial dalam menentukan langkah apa yang selanjutnya kamu ambil saat anak melakukan sebuah pelanggaran.

Kesalahan-Kesalahan Apa yang Sering Dilakukan Saat Menegur Anak?

cara menegur anak
Foto: www.freepik.com

Setelah menegur anak, mungkin kamu bertanya-tanya apakah hal yang kamu lakukan sudah tepat atau salah. Menurut Karina ada beberapa kesalahan yang sering kali dilakukan orang saat menegur anak.

Orangtua Reaktif

Reaktif di sini maksudnya adalah ketika melihat sesuatu, orangtua langsung terpicu tanpa berpikir panjang.

“Sedangkan orangtua yang good enough (bukan sempurna), yang cukup baik adalah orangtua yang mau belajar memahami emosi dirinya sendiri dan belajar mengelola perasaannya sendiri. Sehingga ketika anaknya melakukan sesuatu, orangtua bisa tidak reaktif dan menanggapinya dengan kepala jernih, lalu bisa menegur dengan tepat,” ujarnya.

Orangtua Kurang Paham Situasi dan Kondisi

Akibatnya, cara menegur anak menjadi salah, kurang sesuia dengan usia dan kepribadian si anak.

Orangtua Menyalahkan Perasaan Negatif Diri ke Anak

“Jangan pernah menyalahkan anak atas emosi—bukan hanya marah, tapi perasaan-perasaan lain yang negatif,” Karina mengingatkan. Oh, bukan berarti kamu dilarang marah, tapi jangan pernah menyalahkan emosi yang kamu rasakan ke anak. Contohnya dengan mengatakan, ‘Kamu bikin Mama marah’ atau ‘Kamu bikin Mama kesal’, atau ‘Kamu bikin Mama sedih’.

“Jangan pernah dilakukan karena emosi kita bukan salah anak. Ataupun salah orang lain. Emosi itu dalam kendali kita. Kita yang harus belajar—bukan menahan atau memendam perasaan, ya—tapi mengelola perasaan. Semua perasaan perlu diekspresikan, tapi ekspresikan dengan cara tepat, sehat dan tidak merugikan diri sendiri sendiri dan orang lain,” tegasnya.

Membandingkan Perilaku Anak dengan Anak Lain

Dalam hal ini bisa terhadap temannya atau bahkan kakak atau adiknya. “Memang ungkapan seperti ‘Kamu jangan begitu, harusnya seperti dia’ terdengar dan sesuai dengan definisi menegur, tapi melakukannya dengan embel-embel membandingkan dengan orang adalah sesuatu yang tidak baik,” ujarnya.

Memberikan Konsekuensi yang Tidak Sesuai dengan Perjanjian

Dalam urusan tegur-menegur terhadap unsur aturan dan konsekuensi; jika melakukan A, maka akan ada konsekuensi B, misalnya. Namun jika aturan dan konsekuensi itu tidak pernah disampaikan dan dibahas oleh orangtua dan anak, “itu sangat tidak adil,” ucap Karina. Dan bahkan ketika konsekuensi dan itu disampaikan dengan nada halus lembut, “hal tersebut nggak bakalan efektif, apalagi jika memberikan hukuman,” tegasnya.

Jadi? Buat peraturan terlebih dahulu, dan sepakati konsekuensinya. Jika kesalahan ini merupakan situasi yang terjadi untuk pertama kali—dan belum ada aturan, perjanjian tentang hal tersebut—maka orangtua tidak bisa memberikan konsekuensi apapun.

“Bukan berarti tidak boleh ditegur, tapi tegurannya adalah bentuk berbicara, bukan berbicara plus hukum atau konsekuensi. Tapi tegur saja, lalu bikin kesepakatan tentang hal baru ini,” saran Karina. Diskusi tentang aturan dan konsekuensi (yang tidak harus berarti negatif), bahkan sangat penting untuk remaja.

Bagaimana Cara Menegur Anak yang Tepat?

Foto: www.freepik.com

“Solusinya, orangtua harus belajar meregulasi atau mengendalikan atau mengenal emosi dirinya sendiri, sehingga ketika anak melakukan apapun, dia tidak reaktif, tapi responsif,” jelas Karina.

Responsif, dalam artian, orangtua mengambil jeda terlebih dahulu ketika melihat sesuatu. Mengevaluasi situasi. Apakah lima menit cukup? “Kalau memang situasinya membutuhkan evaluasi yang sebanyak dan selama itu, yah nggak papa, lakukanlah. Karena daripada langsung reaktif dan salah langkah, salah tanggapan, yang adalah sesuatu baik buat anak, orangtua, lingkungannya,” jawabnya.

Untuk memiliki kemampuan responsif dan mengenal emosi diri ini, pepatah lama berlaku: ‘harus banyak latihan’.

“Misalnya, saat orangtua melihat anaknya mendorong orang lain, dan dia memarahi anaknya, bukan berarti orangtuanya marah, lho. Bisa jadi perasaan yang muncul adalah perasaan malu, bukan marah. Dan bagaimana bisa tahu kalau itu ada perasaan malu atau marah atau sedih atau yang lainnya? Yah, orangtua mesti mengambil jeda itu dulu unnuk mengevaluasi dan merefleksi perasaan yang dia rasakan di titik itu. Nah, jika orangtua tahu dia rasakan, kemungkinan besar langkah berikut yang diambilnya, kemungkinan tepat,” tambahnya.

Hei, bukan berarti kamu dituntut untuk menjadi orangtua sempurna, ya. Karena #newsflash: tidak ada namanya orangtua yang sempurna.

“Karena jadi orangtua tidak ada sekolahnya, maka sangat tidak apa-apa jika orangtua terus belajar. Menurut saya, orangtua yang memilih memiliki anak, sebaiknya harus mau dan bersedia selalu belajar dan mengevaluasi diri. Ini adalah karakter penting yang sebaiknya dimiliki orangtua,” tegasnya.

Apa yang Perlu Diketahui Orangtua tentang Konsekuensi?

cara menegur anak
Foto: www.freepik.com

Menurut Karina usia sangat berpengaruh dalam menentukan konsekuensi.

“Kita tidak bisa memberikan konsekuensi yang tidak sesuai usia. Misalnya, anak kecil lima tahun ke bawah  melakukan pelanggaran, lalu hukumannya seperti anak remaja. Itu tidak adil,” ujarnya. Itulah sebabnya, penting untuk mengetahui teori dasar perkembangan dan kebutuhan anak kita secara spesifik.

Karina mewanti-wanti hukuman ‘tidak boleh dekat-dekat Mama’.

“Atau untuk anak kecil, orangtua adalah sosok sosial atau sosok kasih sayang utama buat anak. Jadi, memberi konsekuensi ‘tidak boleh dekat-dekat Mama’—bahkan jika alasannya karena supaya dia kapok atau anak agar belajar—adalah sesuatu yang tidak adil,” terangnya. Dan efeknya bisa sangat serius terhadap hubungan orangtua dan anak.

Dan tidak jarang setelah menegur dan memberikan konsekuensi, orangtua merasa bersalah. Akhirnya, melakukan sesuatu untuk mengatasi rasa bersalah itu, misalnya dengan menjadi super baik kepada anak. Dengan kata lain, wujud kompensasi dari rasa bersalah.

“Kompensasi ini biasanya untuk orangtua, bukan anaknya. Itu makanya penting mengenal perasaan diri sendiri,” katanya.

“Bukannya kita tidak boleh merasa bersalah; perasaan itu tidak ada yang salah. Perasaan itu adalah reaksi wajar terhadap berbagai hal, tapi kita perlu paham perasaan-perasaan kita itu bisa terpicu karena apa. Bisa muncul karena apa. Jika tidak, orangtua akan sembarangan mengikuti perasaannya yang dia sendiri tidak kenali, dan mengambil keputusan sesuai perasaannya itu,” imbuhnya.

Kesimpulan

cara menegur anak
Foto: www.freepik.com

Dalam hal memilih cara menegur anak, Karina menekankan pentingnya orangtua mengenali diri sendiri dulu. Dan satu hal: orangtua juga mesti belajar untuk memiliki ekspektasi yang adil (bukan yang sempurna).

“Sebagai orangtua saja nggak mungkin selalu benar, masa mengharapkan anak untuk selalu benar? Tidak adil. Tidak ada yang sempurna, tidak ada yang orang selalu benar, tapi memang ada orang yang selalu memiliki ekspektasi terhadap dirinya adalah ‘aku selalu benar’, dan ‘anak aku selalu benar’, atau ‘pasanganku selalu benar,'” ungkapnya.

Bagaimana menyadari apakah kamu termasuk orangtua memiliki ekspektasi yang tidak masuk akal (baca: sempurna)? Pertama-tama harus memiliki kesadaran. “Tapi itu biasanya karena ada sesuatu yang memicu, dia melihat sesuatu, atau mengalami sesuatu, yang membuat dia ‘oh iya yah, itu nggak fair‘. Tidak mungkin orang yang memiliki ekspektasi sempurna ini tiba-tiba bangun dan menyadari kesalahannya,” jelasnya.

Setelah kesadaran tumbuh, orangtua perlu melakukan refleksi dan evaluasi. Kalau punya pasangan lakukan dengan pasangan. Jika ibu atau ayah tunggal, lakukan refleksi sendiri.

Dan karena refleksi diri bukanah sesuatu yang mudah, maka, “reach out to a person yang bisa membantu mendampingi. Idealnya netral, yang bisa membantu kita merefleksikan diri kita, karena memang kemampuan merefleksikan diri ini tidak semua orang sudah jago. Makanya itu musti dilatih, karena ini adalah keterampilan,” terangnya.

Lalu? Jika kesadaran, refleksi dan evaluasi sudah dilakukan—langkah selanjutnya cenderung relatif dan bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan dan situasi anak.

Apakah itu? “Macam-macam, mulai dari apakah perlu mengubah diri sendiri dulu, baru pelan-pelan mengubah perilaku anak yang kurang tepat. Step-step berikutnya cenderung lebih relatif, tergantung hasil dari evaluasi diri dan situasinya bagaimana,” jawabnya.

Jika dipikir-pikir, sepertinya inti bagaimana menemukan cara menegur anak yang tepat ini adalah kembali kepada pengenalan orangtua terhadap diri sendiri? Benar, ya?

“Betul! Kebanyakan topik tentang parenting itu adalah bukan mengoreksi tentang anak kita, tapi evaluasi diri sendiri dulu baru kita bisa belajar cara ini, dan itu untuk anak. Apapun itu,” pungkasnya.

Selanjutnya: Jika masalah tentang anak yang kamu hadapi bukan tentang bagaimana menegurnya, tapi membantunya mengatasi masalah susah poop, lakukan ini.