Sudah Lama Menikah—Perlukah Bulan Madu Kedua?

bulan madu
Foto: www.freepik.com
Terakhir diperbarui:

Ketika mempersiapkan pernikahan, bulan madu menjadi hal yang sering kali tidak pernah terlewatkan untuk diperhatikan. Lalu, setelah menikah ada yang namanya bulan madu kedua, sebuah praktik yang makin banyak dilakukan oleh pasangan modern. Perlukah melakukannya?

Jangan khawatir, LIMONE telah menghubungi Ayu Mandari, M.Psi., Psikolog., CHt, Psikolog dari Biro Psikologi Metamorfosis, Alodokter, Bipi Konsulting, dan RS Permata Jonggol, untuk menanyakan tips berbulan madu bagi pasangan yang telah lama menikah. 

Apa Itu Bulan Madu dan Manfaatnya?

bulan madu
Foto: www.pexels.com

Ayu menjelaskan bahwa “honeymoon biasanya identik dengan perjalanan menyenangkan yang dilakukan oleh pasangan yang baru menikah. Namun pada dasarnya, bulan madu tidak hanya untuk dilakukan oleh pasangan baru saja. Tetapi perlu dilakukan oleh pasangan yang sudah lama menikah,” terangnya.

Serta, honeymoon juga “lebih baik dilakukan sepanjang kehidupan pernikahan. Akan tetapi juga perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setiap pasangan,” imbuhnya.

Menurut psikolog yang satu ini, bulan madu menjadi hal yang perlu untuk dilakukan. Karena “pada dasarnya, honeymoon memiliki banyak manfaat. Namun, setiap pasangan memiliki tujuan dan caranya sendiri untuk melakukan bulan madu. Ada juga pasangan yang tidak senang berpergian, mungkin bisa berbulan madu dengan melakukan suatu kegiatan yang ia senangi secara bersama,” tutunya.

Biasanya, “perjalanan bulan madu setelah menikah dijadikan sebagai momen quality time dan refreshing bagi pasangan baru. Momen bulan madu juga bisa dijadikan sebagai kesempatan untuk menciptakan kenangan manis. Serta mengenal pasangan lebih dalam secara natural tanpa ada intervensi dari pihak keluarga dan orang-orang terdekat,” jelas Ayu.

“Pastinya momen manis yang diciptakan bisa menjadi kenangan yang sangat berarti dalam menjalani kehidupan rumah tangga,” lanjutnya.

Bagaimana Cara Merencanakan Bulan Madu yang Tepat?

bulan madu
Foto: www.rawpixel.com

Sesungguhnya untuk merencanakan honeymoon yang tepat, hal ini “perlu diskusikan dengan pasangan terkait bagaimana honeymoon yang diinginkan. Cobalah untuk utarakan pendapat dari masing-masing individu dan sesuaikan dengan kemungkinan pilihan yang dapat memenuhi keinginan dari kedua pasangan,” sarannya.

“Untuk penentuan lokasi, sebaiknya masing-masing pasangan menyediakan beberapa daftar tempat. Sehingga pasangan memiliki peluang yang besar untuk menemukan kesamaan lokasi yang dapat dipilih. Namun tetap dengan mempertimbangkan situasi, kondisi, dan budget yang dimiliki,” paparnya.

Adakah jangka waktu yang ideal untuk melakukan bulan madu?  “Tidak ada waktu ideal untuk berbulan madu. Lamanya (honeymoon) sesuai dengan kondisi dan situasi pada masing-masing pasangan. Namun, sebaiknya dilakukan selama beberpa hari,” jawab Ayu.

Sementara untuk persiapannya, semuanya tergantung keinginan dan pilihan kedua belah pihak.

“Tidak ada persiapan khusus, selain biaya dan tujuan yang disetujui bersama. Kedua pasangan sebaiknya menyelesaikan pekerjaan atau mengatur waktu yang tepat agar tidak terbebani dengan hal-hal lain ketika melakukan perjalanan bulan madu,” ungkapnya.

Jika tidak memungkinkan untuk dilakukan pada beberapa saat setelah pernikahan, “jangan dipaksakan. Tunggulah waktu yang tepat agar bisa dinikmati setiap momen yang terjadi di dalam perjalanan. Persiapan perjalanan yang terlalu detail dapat mengurangi kesempatan pasangan untuk ber-explore dan momen kejutan saat menjalaninya,” tutur Psikolog yang satu ini.

Akan tetapi, bagaimana jika pasangan merasa keberatan untuk berbulan madu?

“Jika memang tidak disepakati bersama, sebaiknya tidak perlu dipaksakan. Namun, perlu dipertanyakan alasan mengapa keberatan dan bagaimana pandangan pasangan terhadap bulan madu. Serta temukan opsi yang terbaik untuk keduanya,” terangnya.

Mengapa Pasangan yang Sudah Lama Menikah Perlu Melakukan Honeymoon?

Foto: www.unsplash.com

Tak hanya untuk pasangan yang baru menikah, ternyata bulan madu juga sangat perlu dilakukan bagi pasangan yang telah lama menikah. “Ketika pernikahan sudah berlangsung lama, akan adanya perasaan jenuh serta bosan, dan itu sangatlah wajar,” ujar Ayu.

“Terlebih jika sudah memiliki anak dan sibuk dengan berbagai aktivitas, terkadang pasangan sulit menemukan waktu untuk menciptakan momen-momen yang manis dan quality time bersama pasangannya,” lanjutnya.

Sehingga, “bulan madu dapat menjadi opsi untuk memupuk cinta, menghilangkan rasa bosan, mengenang masa-masa muda, menciptakan lebih banyak kenangan indah, dan menghilangkan ketegangan dalam pernikahan. Diharapkan nantinya dapat memperkuat hubungan pernikahan,” jelasnya.

Namun, bagaimana cara merencanakan bulan madu ketika sudah memiliki anak?

“Jika memungkinkan, kamu bisa mengajak anak untuk ikut serta. Namun jika tidak memungkinkan untuk ikut, anak bisa dititipkan pada tempat yang aman seperti orang tua atau saudara. Tetapi, jika anak masih belum bisa ditinggalkan, maka jangan dipaksakan untuk pergi,” sarannya.

“Berpergian ke tempat yang dekat dan melakukan perjalanan atau aktivitas menyenangkan bersama anak-anak juga bisa menjadi opsi,” imbuh Ayu.

Kesimpulan

Foto: www.xframe.io

Untuk pasangan yang baru menikah, “bulan madu bisa dijadikan sebagai momen untuk lebih mengenal pasangan, menciptakan kenangan manis, merelaksasikan pikiran, dan tubuh agar lebih siap untuk menjalani kehidupan baru dalam pernikahan,” papar Ayu.

Namun, “perlu dipertimbangkan jika situasi dan kondisinya tidak memungkinkan. Karena bulan madu sebaiknya dilakukan pada waktu dan kondisi yang terbaik bagi kedua pasangan. Hal ini diperlukan agar dapat menghindari terjadinya perselisihan atau hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.

Sementara untuk pasangan yang sudah lama menikah, “honeymoon perlu dilakukan dan segera direncanakan. Karena bulan madu bisa menjadi kesempatan untuk refreshing, menghilangkan rasa bosan dan jenuh,” tuturnya.

Serta, untuk “menciptakan lebih banyak kenangan indah, menghabiskan waktu yang berkualitas bersama pasangan, dan memupuk cinta agar hubungan dapat berjalan dengan harmonis,” lanjutnya.

Psikolog yang satu ini mengingatkan bahwa untuk menambah keharmonisan dalam rumah tangga dapat  dilakukan dengan berbagai cara, tidak hanya lewat bulan madu. “Mengungkapkan cinta dan kasih sayang sesuai dengan ‘bahasa cinta’ pasangan adalah hal utama yang dapat membangun keharmonisan dalam rumah tangga,” terangnya.

Selain itu, “merayakan hari-hari spesial bersama pasangan juga dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk menciptakan kenangan manis yang dapat memperkuat hubungan pernikahan. Tentunya pembagian peran yang seimbang dalam kehidupan pernikahan akan sangat penting dalam membangun keharmonisan dalam pernikahan,” ujarnya.