‘Sudah dengan Berapa Orang Kamu Tidur’—Apakah Etis Ditanyakan?

Foto: www.gettyimages.com

Yep, kita sedang membicarakan tentang pertanyaan: “sudah dengan berapa orang kamu berhubungan seks?” Menurut sebuah studi, ketika sedang berinteaksi dengan lawan jenis, kaum heteroseksual yang sedang terangsang secara seksual dilaporkan cenderung memberikan angka yang lebih kecil daripada yang sebenarnya. Alasannya: mereka ingin terlihat lebih selektif dan tidak genit. Setiap orang berhak berhubungan seks dengan siapapun—jadi apakah sebenarnya pertanyaan tersebut patut ditanyakan?

Apakah Perlu Menanyakan Hal Itu?

Foto: www.gettyimages.com

Menurut pandangan Mahesti Pertiwi, M.Psi, seorang psikolog dari Rumah Konseling dan ibunda.id, pertanyaan tersebut sebaiknya tidak ditanyakan kepada orang lain atau teman kita sekalipun. “Ya, bagaimana pun hal tersebut adalah ranah privacy setiap individu, dan hal itu juga bisa menyinggung perasaan orang lain. Biar bagaimana pun setiap orang memiliki perbedaan persepsi/penilaian masing-masing terhadap suatu hal. Dan kita sebaiknya menghargai hal itu,” jelas Mahesti. “Kecuali memang teman tersebut yang ingin bercerita, maka beri ia ruang. Kemudian dengarkan dan upayakan untuk tidak menghakiminya.”

Menurut Mahesti biasanya seseorang melakukan seks tergantung value dan beliefs yang dianut masing-masing individu. “Hubungan seks itu ‘kan bisa terjadi antara hubungan dengan suami istri ataupun dengan pacar/kekasih, atau juga dalam hubungan yang memang tanpa status, “ujarnya.

Dan seandainya kamu penasaran luar biasa dan ingin menanyakan hal tersebut kepada pasangan barumu, seorang terapis seksual menganjurkan untuk menanyakan hal ini pada diri sendiri: kenapa kamu ingin tahu? Jika a) ingin tahun dan kenal mereka lebih dalam—silakan tanyakan. Akan tetapi jika b) kamu mendapatkan jawaban, lalu akan menjadi cemburu dan menghakimi, sebaiknya urungkan niat.

Pasalnya, “sekali tahu, maka kamu tidak bisa pura-pura tidak tahu,” kata Jennifer Wiessner, kepada Health.com. Dan ingat: pertanyaan yang sama bisa juga diajukan kepada padamu. Selain itu, menurutnya, “pada akhirnya, topik seks ini tidak memberikan kebaikan pada hubungan” ujar Wiessner.

Ini Pertanyaan yang Perlu Kamu Ajukan

Foto: www.gettyimages.com

Seorang psikoterapis dan seksolog di Columbia University mengatakan bahwa alih-alih mengatakan hal tersebut, hal yang lebih penting adalah mengetahui status kesehatan mereka. Dan apa—jika ada—sexually transmitted infections (STI) yang bisa ditularkan jika kamu berhubungan seks dengan mereka. Dengan mengetahui hal ini, kamu bisa mengambil keputusan bijak apakah meneruskan hubungan tersebut.

“Ingat bahwa kamu tidak mengenal dengan baik orang ini dari awal hubungan,” kata Laurel Steinberg. “Ketika berkaitan dengan kesehatanmu, kamu harus melakukan berbagai cara untuk mengurangi risiko dalam bentuk apapun.”

Akan tetapi ingat, banyaknya pasangan seks terkadang tidak relevan dengan STI. Ada orang yang hanya pernah berhubungan seks dengan satu orang, tetapi terkena STI. Jadi, ada baiknya, sebelum berhubungan seks, kedua belah pihak melakukan tes darah dan tes STI.

“Dan pastinya, menggunakan kondom adalah wajib jika kamu belum sepenuhnya percaya pada pasanganmu. Itulah asuransi terbaik terhadap STI,” ujar Dr Jenn Mann kepada Instyle.

Tetapi bagaimana jika kamu ingin tahu tentang pandangan si dia tentang seks? Tanyakan dengan cara lain. Pertanyaan-pertanyaan bernuansa, seperti ‘apakah kamu percaya dengan hubungan monogami’ atau ‘apa pandanganmu tentang hubungan kasual.’ Jawaban atas pertanyaan ini akan “bisa menggambarkan masa lalunya untuk membuatmu mengetahui tentang dirinya dan pandangannya tentang hubungan dan seks,” jelas seorang pendidik seks.

Dan apa pun yang kalian bicarakan, “jangan bohong,” jelas Mann.

Dan ini segala sesuatu yang harus kamu tahu tentang malam pertama.