Ada Benjolan di Vagina—Apakah Harus Panik?

benjolan di vagina
Foto: www.unsplash.com

Ada sesuatu yang akhir-akhir ini kamu ketik di kotak pencari Google tapi takut membicarakannya: benjolan di labia (dua bibir pada bagian luar vagina) dan sekitar vagina. Entah benjolan ini besar atau kecil, tapi pastinya keberadaannya bikin kamu panik, lalu masuk ke labirin Google guna mencoba menemukan penjelasan yang meyakinkan bahwa benjolan tersebut bukan sesuatu yang berbahaya (kanker, misalnya). Namun, apakah benjolan di vagina menandakan sesuatu yang berbahaya? LIMONE menghubungi  Dr. Fella H. Pratami, Sp.OG, seorang Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan dari RS Karya Asih Charitas Palembang dan Klinik Marsya Plaju Palembang.

Jadi, apakah arti benjolan di vagina? Yang pasti tarik nafas, jangan panik dan baca artikel ini sampai habis untuk mengetahui jawaban lengkap dan tindakan apa yang sebaiknya kamu lakukan.

Apa yang Menyebabkan Benjolan di Sekitar Vagina?

benjolan di vagina
Foto: www.freepik.com

“Benjolan di area sekitar organ genitalia wanita adalah kondisi abnormal,” jelas Dokter Fella.

Oh.

Menurutnya, usia penderita dan lokasi benjolan juga berperan dalam penentuan penyebab benjolan. 

“Perlu diperhatikan juga apakah benjolan berada di sekitar luar genitalia—seperti di bibir kemaluan (labia) atau dari dalam vagina. Penyebab bisa karena kelainan bawaan, infeksi, atau adanya sumbatan kelenjar. Penyebab tersering benjolan di area genitalia wanita adalah kista Bartholin, kista Gartner, dan kista Skene/kista parauretra. Kista tidak hanya berasal dari organ dalam perut seperti yang kebanyakan diketahui masyarakat, tapi juga bisa terbentuk di sekitar genitalia wanita,” tambahnya.

Apakah benjolan ini bisa menandakan kita terinfeksi STI (sexually transmitted infections), seperti herpes atau sifilis?

“Betul sekali, infeksi bisa menyebabkan benjolan di area organ genital wanita,” jawabnya.

Lebih dalam Dokter Fella menjelaskan bahwa kuman penyebab infeksi dapat berasal dari kuman permukaan kulit atau kuman penyebab IMS (infeksi menular seksual) seperti klamidia dan gonore.

“Herpes atau sifilis (raja singa) juga termasuk dalam IMS namun keluhan yang ditimbulkan berbeda. Herpes genital adalah IMS akibat infeksi HSV-2 dan gejala yang sering kali timbul berupa multiple blisters (bintil yang berisi cairan) di area sekitar genital. Berbeda dengan sifilis, yang walaupun masih tergolong IMS, namun gejala yang ditimbulkan bukan berupa benjolan atau blisters,” paparnya.

Seandainya kamu ingin tahu, stadium awal sifilis memiliki gejala: adanya luka yang berbentuk bulat kecil namun tidak terasa nyeri. Yep, sifilis memiliki stadium. Dan, “Bila inadequately-treated bisa berkembang menjadi sifilis tersier di mana pada kondisi ini kuman sudah menyebar ke otak dan sistem saraf,” bebernya.

Apakah benjolan bisa berarti kanker?

“Kecurigaan ke arah kanker bila usia penderita di atas 50 tahun,” tegasnya. Dan untuk memastikan apakah benar benjolan tersebut akibat kanker, hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan sel yang berasal dari benjolan tersebut (pemeriksaan histopatologi). “Biasanya pengambilan sampel dilakukan melalui metode biopsi,” imbuhnya.

Apakah Benjolan Ini Bisa Hilang dengan Sendirinya?

Foto: www.freepik.com

Seperti disebutkan di atas benjolan di area sekitar vagina bisa disebabkan oleh berbagai hal. “Untuk kista Bartholin bisa hilang dengan sendirinya, namun jarang. Tapi untuk benjolan lain umumnya memerlukan tindakan operatif,” jelasnya.

Dokter Fella kembali menegaskan bahwa untuk mengetahui apakah suatu benjolan berpotensi menjadi kondisi serius, pemeriksaan harus dilakukan.

Dan mengenai ukuran, “ukuran benjolan tidak menggambarkan tingkat keparahan, namun bisa menjadi salah satu pertimbangan untuk memutuskan menjalani tindakan operatif,” ujarnya.

Apakah benjolan itu sesuatu yang serius? Faktor-faktor berikut menjadi pertimbangan penting.

  • Berapa usia penderita?
  • Sejak kapan benjolan muncul?
  • Di mana lokasi benjolan?
  • Apakah ukuran membesar?
  • Apakah disertai rasa nyeri atau tidak?
  • Adakah keluhan lain yang menyertai?

“Yang sering dikeluhkan penderita adalah teraba ada benjolan, namun ukuran relatif kecil dan tidak nyeri. Bila demikian, opsi untuk observasi bisa dilakukan,” ujarnya.

Sementara untuk benjolan akibat kista Bartholin, terapi yang bisa dilakukan di rumah bisa berupa sitz bath beberapa kali sehari selama 3-4 hari. “Sitz bath membantu meredakan nyeri dan membuat benjolan mengecil, baik karena terjadi drainase atau pecah dengan sendirinya,” paparnya.

Menurutnya, karena umumnya benjolan di area genital ini tidak terasa nyeri, namun dapat disertai keluhan BAK (buang air kecil)—baik nyeri BAK ataupun sulit BAK)—, serta nyeri ketika berhubungan seksual, maka sebaiknya dikonsultasikan ke dokter. “Bila ada keluhan nyeri, perlu waspada adanya infeksi pada kista tersebut. Abses Bartholin (kista Bartolin yang terinfeksi) dapat menimbulkan nyeri hebat pada penderita terutama bila berjalan,” ujarnya.

Dari semua keterangan di atas kesimpulan apa yang bisa ditarik?

“Bisa disimpulkan bahwa umumnya benjolan di area genitalia wanita bersifat jinak sehingga opsi untuk observasi saja bisa dilakukan. Meski tentunya berdasarkan pemeriksaan dokter, ya,” tegasnya. “Dan kapan perlu tindakan intervensi? Subjektif, tergantung keluhan penderita. Umumnya bila benjolan terasa nyeri dan/atau membesar, maka tindakan operatif direkomendasikan,” tekannya.

Selanjutnya: Mengapa vagina terasa sakit setelah berhubungan intim? Ini penjelasannya.

podcast button