Tanya Psikolog: Mengapa Anak Malas Belajar?

anak malas belajar
Foto: www.gettyimages.com

Baru-baru ini kamu menyadari sesuatu: si kecil ternyata tidak terlalu suka belajar. Penemuan ini kamu ketahui setelah pemerintah mengimbau untuk melakukan social distancing; sekolah ditutup dan anak harus belajar dari rumah. Kamu mencoba beberapa cara, tapi hasilnya… minimalis. Untuk mengurangi kepusinganmu dan memberikan kamu inspirasi tentang anak malas belajar, LIMONE menghubungi Belinda Agustya, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog anak dan remaja dan Co-Founder Klinik Tumbuh Kembang Rainbow Castle Jakarta serta Certified Parent Child Interaction Therapist International.

Apa yang Membuat Anak Malas Belajar?

anak malas belajar
Foto: www.gettyimages.com

Menurut Belinda, ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan seorang anak tidak semangat untuk belajar.

Faktor internal
  • Adanya kendala dalam kapasitas kecerdasan.
    Ini artinya, “bisa jadi bukannya anak malas dalam arti tidak mau belajar, tetapi mengalami kesulitan dalam memahami tugas sehingga terkesan malas belajar,” terangnya melalui email.
  • Adanya kendala terkait masalah belajar yang berhubungan dengan masalah perkembangan.
    Hal ini meliputi kesulitan belajar spesifik (disleksia/disgrafia/diskalkulia), ADD/ADHD, sensory processing disorder (SPD), dan sebagainya. Akibatnya, “anak terkesan malas belajar, padahal bisa jadi anak sulit memusatkan fokus dan sulit untuk duduk tenang (terkait dengan kondisi ADD/ADHDnya),” jelasnya. Selain itu, anak juga mengalami kesulitan spesifik ketika harus mengerjakan tugas yang membutuhkan kemampuan membaca (terkait kondisi disleksianya). Mudah lelah ketika duduk tegak atau menulis (terkait masalah sensorinya), “sehingga yang tampil menjadi menghindari aktivitas belajar dan terkesan malas.”
Faktor eksternal

Faktor eksternal pun memiliki bentuk yang berbeda-beda. Di antaranya:

  • Penyampaian pengajaran materi pelajaran yang kurang menarik.
    Hal ini bisa terjadi karena penyampaian pengajaran materi pelajaran  yang kurang menarik dan kurang sesuai gaya belajar anak. Akibatnya,  anak kurang termotivasi untuk menguasai pelajaran.
  • Manajemen kelas atau pengajaran yang kurang efektif di sekolah.
    Ini membuat anak kehilangan minat belajar.
  • Kurangnya pembiasaan di rumah sejak dini untuk menarik minat anak mencari informasi/ belajar hal baru.
    “Sehingga ketika masuk ke konteks belajar, anak tidak menunjukkan minat belajar,” jelasnya.
  • Adanya respon berulang dari lingkungan di sekitar anak.
    Contohnya, ketika anak gagal dalam pelajaran tertentu kemudian dibandingkan/dimarahi sehingga anak menjadi malas belajar. “Memarahi dan membandingkan bukanlah tindakan yang bijak,” kata Belinda. “Ketika anak mulai terlihat malas belajar, orangtua perlu mencari tahu faktor utama yang menjadikan anak terlihat malas belajar. Apakah karena faktor internal atau eksternal. Setelah mengetahui permasalahan utamanya, ajak anak untuk mendiskusikan solusi bersama-sama. Lalu, buat kesepakatan bersama di mana anak ikut terlibat dalam membuat kesepakatan, konsekuensi maupun reward yang akan didapat jika kesepakatan berjalan mulus,” bebernya.
  • Tingkat kondusivitas lingkungan yang kurang memadai.
    Entah itu di rumah dan sekolah yang bisa membuat anak rajin atau sebaliknya, menyurutkan minat anak untuk belajar.

Apakah Normal Jika Anak Sesekali Merasa Malas? Kapankah “Malas” Ini Disebut Tidak Normal?

anak malas belajar
Foto: www.gettyimages.com

“Sesekali wajar jika anak kehilangan minat belajar,” imbuh Belinda. Dalam situasi ini, maka perlu peran dari orangtua dan guru yang menumbuhkan kembali minat belajar anak. Menjelaskan bahwa materi yang akan ia pelajari itu akan berguna untuk kehidupan anak sehari-hari dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.

“Misalnya anak malas belajar IPA, orangtua bisa memberi informasi ketika anak jago IPA , ia bisa menemukan obat untuk penyakit langka. Kamu juga bisa ajak anak melihat video, baca buku tentang orang-orang yang ahli dibidangnya sehingga minat anak untuk belajar kembali tumbuh,” Belinda menyarankan.

Jadi, sesekali itu wajar. Sementara “malas belajar” yang tidak wajar itu menurut Belinda memiliki beberapa tanda-tanda.

Pertama: anak secara konsisten mengalami kesulitan dalam memahami semua pelajaran atau spesifik ke beberapa pelajaran tertentu. Sebut saja, anak hanya gagal ketika harus membaca materi tapi kalau menjawab pertanyaan guru, ia bisa. Pastinya, hal ini mempengaruhi performa akademisnya secara konsisten.

Kedua, anak menunjukkan masalah perilaku yang intensif yaitu akan sangat agresif, misalnya saja melukai diri sendiri atau orang lain, menghancurkan benda. “Atau sebaliknya, sangat cemas hingga menangis, menarik diri atau mengalami psikosomatis (mengeluh pusing/mual/sakit padahal tidak sakit) ketika dalam situasi belajar,” jelasnya.

Ketiga, “malas belajar” menjadi sesuatu yang tidak normal jika setiap kali mendampingi anak belajar, orangtua selalu marah.

Keempat, karena kemalasan ini hubungan anak dan orangtua menjadi tidak harmonis.

Perlukah Menjanjikan Reward atau Hadiah Jika Anak Belajar?

anak malas belajar
Foto: www.gettyimages.com

Kabar baiknya: sesekali boleh.

“Sesekali memberikan hadiah pada momen tertentu saja yang tidak terpediksi masih diperbolehkan, misalnya suprise dari orangtua dengan memberikan hadiah kenaikan kelas untuk anak,” ujar Belinda.

Satu hal super penting yang perlu ingat dalam urusan pemberian reward ini, yakni “orangtua jangan sampai terbalik, reward dulu baru anak harus belajar,” Belinda menegaskan. “Yang tepat, anak belajar dulu, baru dapat reward,” tekannya.

“Saya pribadi tidak menyarankan reward dalam bentuk barang atau uang, tapi lebih kepada suatu hal yang sifatnya intangible. Seperti, waktu main anak ditambah apabila anak mau belajar. Atau screen time ditambah jika anak mau belajar. Atau anak boleh request dibuatkan sarapan spesial sesuai kesukaannya keesokan harinya setelah anak mau belajar,” ujarnya memberikan contoh. Reward intangible lain yang disarankan oleh Belinda di antaranya, anak boleh pilih aktivitas yang akan dilakukan keluarga ketika weekend. Atau anak boleh memilih menonton film apa saat ayah dan ibu menghabiskan waktu bersama di akhir pekan.

Apa Saja yang Bisa Dilakukan Orangtua untuk Membantu Anak Lebih Rajin Belajar?

anak malas belajar
Foto: www.istockphoto.com

Ah, ini ‘kan yang kamu tunggu dari tadi? Tips dan cara praktis untuk membantu anak lebih rajin dan semangat belajar. Berikut beberapa trik dari Belinda yang bisa kamu coba.

  • Buatkan jadwal teratur selama di rumah.
    Termasuk waktu yang rutin untuk kapan anak harus belajar dan mengerjakan tugas. “Dengan kebiasaan rutin seperti ini akan membuat anak lebih merasa ‘aman’ karena kesehariannya terprediksi dan menjadi kebiasaan positif yang lama-lama terinternalisasi,” jelasnya.
  • Selingi dengan istirahat.
    Belinda menyarankan agar waktu belajar diselingi dengan istirahat sejenak, misalnya sekitar 10-15 menit. Di saat istirahat ini, “orangtua bisa siapkan teh manis atau minuman favorit dan kue favorit anak sebagai camilan ketika anak take a break dari waktu belajar.” 
  • Cari solusi, bukan memarahi.
    Buat kesepakatan bersama anak dan diskusikan konsekuensi yang akan anak dapat ketika ia melanggar perjanjian dan reward yang ia dapat jika ia mau rutin belajar. Ingat ya, untuk menyertakan anak dalam pembuatan kesepakatan ini.
    “Jika ide dari anak terkesan ‘tidak masuk akal’ tampung dulu saja. Nanti, orangtua yang menyortir, mana konsekuensi dan reward yang masih masuk akal dan mana yang tidak mungkin diberikan,” bebernya.
  • Kenali gaya belajar anak.
    Jika orangtua memiliki waktu untuk mendampingi anak belajar, maka orangtua perlu mengenal gaya belajar anak. Apakah gaya belajarnya visual atau kinestetik atau auditori). Ini berguna agar orangtua dapat membantu anak belajar sesuai dengan gaya belajar anak, sehingga anak lebih efektif dalam memahami materi pelajaran.

Bagaimana dengan memasukkan anak ke dalam sebuah les?

“Jika dirasa waktu orangtua kurang efektif untuk mendampingi anak dalam belajar, mengikutsertakan anak dalam les bisa menjadi alternatif,” jawabnya. “Namun orangtua juga perlu mencari tahu dulu cara pengajaran yang digunakan di tempat les. Apakah memang tempat les tersebut cukup memahami bahwa perlu adanya kreativitas atau cara tersendiri dalam mengajarkan suatu materi kepada peserta didiknya,” jelasnya.

Bagaimana agar Orangtua Tidak Frustrasi karena Anak Malas Belajar?

Foto: www.istockphoto.com

Ini yang sering terjadi: ketika anak tidak semangat belajar sementara pekerjaan rumahnya harus dikumpulkan besok, saking frustrasinya orangtua akhirnya mengerjakan tugas anak. Well, orangtua pasti tahu ini bukan sesuatu yang tepat, tapi yah… mau bagaimana lagi, orangtua juga manusia. Iya ‘kan?

Belinda mengingatkan bahwa ketika melakukan hal ini anak bisa menjadi kurang mandiri dan bergantung pada orangtua. “Anak akan terbentuk menjadi individu yang tidak bertanggung jawab sehingga ketika mendapatkan beban kerja yang dirasa tidak sanggup dipikul, akan memilih untuk menghindar atau menyerah,” ujarnya.

Foto: www.gettyimages.com

Jadi bagaimana mengatasi rasa frustrasi saat menemani anak yang enggan belajar?

Pertama-tama, self-care. Yep, istilah kekinian ini sangat penting dipraktikkan oleh orangtua.

“Sebelum mendampingi anak belajar, orangtua perlu untuk memastikan bahwa kebutuhan dirinya sendiri sudah terpenuhi. Misalnya jika orangtua bekerja, pastikan orangtua sudah bersih-bersih, sudah makan, dan sudah beristirahat sejenak sehingga ketika menghadapi anak, tidak mudah marah,” sarannya.

Kedua, lakukan koordinasi dengan guru. Bisa jadi inilah mengapa orangtua sebaiknya menjalin komunikasi yang baik dengan guru di sekolah. Pasalnya, kamu akan bisa mencari tahu bagaimana cara pengajaran guru yang dirasa cukup efektif dan menarik minat anak untuk mau belajar. Tidak hanya itu, komunikasi yang baik dengan guru juga akan membuatmu bisa memahami materi dan pelajaran apa saja yang menjadi favorit anak. Plus, apa yang menjadi kesulitan anak sehingga kamu bisa mulai dengan mendampingi anak belajar dari materi yang menjadi favorit anak. 

Ketiga, lakukan kerja sama dengan pasangan. Misalnya, jika ayah lebih jago dalam pelajaran eksakta, maka ayah mendapat tugas mengajari matematika, fisika, dan kimia. Sebaliknya, apabila ibu memiliki kemampuan lebih dalam menghapal, maka bisa mengambil alih untuk mendampingi anak belajar pelajaran sosial, bahasa dan PKN. 

Keempat, membuat jadwal rutin keseharian (termasuk belajar). Ini harus dilakukan orangtua bersama anak agar hidup mereka lebih teratur.

Dan apabila segala hal di atas sudah kamu lakukan, tapi tetap saja anak enggan belajar, maka lakukan konsultasi dengan psikolog pendidikan atau psikolog klinis anak. “Ini untuk mencari tahu masalah utama yang menjadikan anak nampak malas belajar. Nantinya, akan diberikan intervensi sesuai masalah utama yang dialami anak,” ujar Belinda.

Selanjutnya: ini panduan menemukan terapis yang tepat.