Mengapa Banyak Wanita Yang Tertarik Dengan Bad Boy? Ini Penjelasan Psikolog

bad boy
Foto: www.freepik.com

Sebuah pertanyaan: Seperti apa tipe pasangan ideal kamu? Mungkin sebagian orang menginginkan memiliki pasangan yang penuh perhatian dan baik, namun sebagian lainnya lagi tertarik untuk memiliki hubungan dengan bad boy. Sebab, laki-laki yang dianggap ‘kurang baik’ ini dianggap lebih menantang dan menyenangkan.

Namun mengapa banyak perempuan yang tertarik dengan laki-laki yang memiliki perilaku ‘kurang baik’? Simak penjelasan dari Cindi Meidiana Gustia, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dan Co-founder Sejiwa Psikologi serta Associate Psycholog dari Ibunda.id, yang menjelaskan penyebab seseorang menjadi bad boy dan tips memiliki hubungan dengan pria tersebut.

Apa Definisi dari Bad Boy?

bad boy
Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, dalam teori psikologi tidak ada istilah bad boy, sehingga pengertian dan maksud dari bad boy sendiri ini tidak dapat didefinisikan secara teoritis.

Namun, “jika dilihat menurut bahasan populer, istilah ini melekat pada sosok laki-laki yang mungkin memiliki karakteristik yang berisiko memunculkan perilaku ‘kurang baik’ atau bahkan ‘tidak baik’ di mata sosial,” jelasnya.

Karakter dari bad boy biasanya dapat ditandai sebagai “sosok pengambil risiko, pencari sensasi, kepercayaan diri yang tinggi, bebas atau bertindak semaunya, dominan, berbahaya, dan karakter serupa lainnya,” tambahnya.

Seseorang yang cenderung dikatakan bad boy biasanya memiliki karakteristik yang berisiko untuk memunculkan perilaku ‘kurang baik’ atau bahkan ‘ tidak baik’ di mata sosial, di antaranya adalah:

  • Pengambil risiko
  • Pencari sensasi
  • Memiliki kepercayaan diri yang tinggi
  • Bebas atau bertindak semaunya
  • Dominan
  • Berbahaya

Mengapa Seseorang Bisa Memiliki Karakter Tersebut?

Foto: www.freepik.com

Meski sebenarnya tidak semua orang bisa memiliki karakter atau kepribadian yang sama persis, “namun biasanya kepribadian individu terbentuk dari pola-pola perilaku yang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini.

Menurut Cindi, faktor yang dapat membentuk seseorang untuk memiliki karakter yang cenderung bad boy dapat dikelompokkan menjadi dua hal, yakni:

Nature

Faktor yang satu ini mencakup apa yang secara alami dapat membentuk diri kita, seperti genetik, hormon, atau faktor biologis lainnya.

Nurture

Di sisi lain, nurture mencakup apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita, yang dapat memberi dampak pada diri seperti pola pengasuhan, pertemanan, norma-norma sosial, keadaan lingkungan, budaya, atau faktor lingkungan lainnya.

“Jadi, faktor nature dan nuture mungkin berperan dalam membentuk seseorang untuk memiliki karakteristik bad boy. Namun terkait faktor apa yang berperan dan bagaimana proses serta caranya, tidak dapat dijelaskan secara spesifik. Karena akan bergantung pada masing-masing individu. Serta membutuhkan asesmen yang mendalam untuk mengetahuinya,” terang Cindi.

Benarkah Bahwa Bad Boy Ada Kaitannya dengan Dark Triad?

bad boy
Foto: www.commons.wikimedia.org

Cindi menjelaskan bahwa dark triad sendiri dikatakan akan mengacu pada tiga konstruksi kepribadian yang bertentangan dengan norma sosial. “Namun masih tergolong dalam fungsi normal, yaitu kepribadian machiavellianisme, psikopati, dan narsisme,” ujarnya.

Beberapa artikel psikologi menyebutkan bahwa karakter bad boy mungkin memiliki kaitan dengan dark triad. “Hal ini dikarenakan antara perilaku yang muncul dari kecenderungan karakter laki-laki ‘kurang baik’ dan ketika konstruk kepribadian yang membentuk dark triad, sama-sama memiliki potensi yang bertentangan dengan norma-norma sosial,” katanya.

“Namun, tidak serta merta dapat dikatakan bahwa seorang bad boy pasti memiliki kepribadian dark triad. Hal tersebut dapat bergantung pada masing-masing individu dan diperlukan asesmen mendalam untuk mengetahuinya,” imbuh Cindi.

Mengapa Banyak Perempuan Tertarik dengan Bad Boy?

Foto: www.canva.com

Meski memiliki perilaku yang ‘kurang baik’, namun sebagian perempuan justru sangat tertarik dengan bad boy.

Menurut Cindi, “sebetulnya, klaim yang mengatakan bahwa perempuan lebih tertarik kepada laki-laki yang memiliki karakteristik bad boy dikatakan inconclusive, ya. Karena memang ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa laki-laki yang memiliki dominasi dan hipermaskulinitas yang tinggi dikatakan lebih banyak memiliki pasangan dan dianggap lebih menarik oleh perempuan,” ujarnya.

Namun di sisi lain, “tidak sedikit pula penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan secara lebih tegas mengakui bahwa lebih suka dengan pria yang ‘baik’,” lanjutnya.

Meskipun begitu, “perempuan lebih tertarik secara biologis pada laki-laki yang memiliki kecenderungan karakter bad boy. Dominasi laki-laki, kualitas menyeluruh yang mencakup daya tarik fisik dan kepemilikan sumber daya, yang cenderung mendefinisikan bad boy, telah dikaitkan dengan daya tarik lebih tinggi yang dirasakan oleh perempuan,” jelas Cindi.

“Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh hormon atau bahkan dikarenakan potret dari media. Yang menggambarkan bahwa bad boy sebagai sosok laki-laki yang menarik bagi wanita,” tambahnya.

Apakah preferensi berhubungan dengan bad boy merupakan pilihan yang salah?

Bagi Psikolog Klinis yang satu ini, “preferensi seseorang untuk memilih pasangan tidak bisa dikategorikan sebagai pilihan yang baik atau tidak baik. Selama pilihan tersebut kita lakukan dengan mempertimbangkan segala sisi, baik keuntungan atau kepuasan yang dirasakan, serta konsekuensi yang diterima, maka preferensi yang dipilih adalah wajar,” tuturnya.

Untuk itu, ketika kita menjalani hubungan dengan laki-laki yang memiliki karakter ‘kurang baik’, “maka perlu mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu. Kenali batasan yang kita miliki dan kebutuhan kita, baik secara general maupun spesifik terkait dengan pilihan pasangan,” saran Cindi.

Bagaimana Jika Kita Selalu Merasa Makan Hati Ketika Berpacaran dengan Bad Boy?

Foto: www.rawpixel.com

“Seperti halnya membina hubungan dengan semua tipe pasangan, ketika kita merasa hubungan tersebut sudah tidak dapat bekerja atau diperbaiki, maka terdapat beberapa hal untuk mengatasinya,” ungkap Cindi.

Berikut saran dari psikolog klinis ini:

  • Mengenali tanda-tanda bahwa hubungan tersebut perlu dipertimbangkan kembali.
  • Ambil jarak dan waktu sejenak untuk merefleksikan hubungan dan kebutuhan diri kita yang sebenarnya.
  • Tetapkan batasan yang sehat dalam hubungan.
  • Bangun komunikasi yang sehat. Jika masih memungkinkan untuk diperbaiki, ajak pasangan untuk saling berkomunikasi. Serta membangun kembali hubungan yang dibutuhkan dan diharapkan oleh kedua pasangan.
  • Buat keputusan yang dibutuhkan, baik itu untuk diri sendiri maupun kedua belah pihak. Jika kamunikasi telah diusahakan dan tidak berhasil sesuai yang dihadapkan, maka jangan ragu untuk menentukan keputusan yang diperlukan. Prioritaskan kesehatan mental dan pertumbuhan pribadi antar pasangan.
  • Jika akhirnya harus memutuskan atau melepaskan, ingatlah bahwa bangkit kembali (bouncing back) dari sebuah hubungan yang kandas tidaklah mudah.

Jika kamu kesulitan untuk bangkit kembali, maka “cobalah untuk mengingat kembali alasan dari keputusan yang dibuat. Kemudian fokus pengembangan diri, bukan kritik diri. Jangan lupa untuk terus mengapresiasi dan menghargai diri. Yakinlah bahwa kita sudah melakukan hal terbaik yang bisa diusahakan untuk hubungan tersebut,” saran Cindi.

“Cari dan kelilingi diri dengan support system dan dukungan sosial dari lingkungan, yang dapat mendukung pemulihan dan pengembangan diri kita,” lanjutnya.

Benarkah Bahwa Kita Tidak Bisa Mengubah Bad Boy agar Menjadi Laki-laki Baik?

bad boy
Foto: www.canva.com

Mungkin sebagian orang beranggapan mampu mengubah karakter bad boy agar menjadi pria yang ‘baik’. Namun sesungguhnya, “setiap individu tidak dapat menjamin bisa mengubah orang lain, baik itu pasangan, teman, maupun anggota keluarga. Itu adalah hal yang berada di luar kendali seorang individu,” paparnya.

Perubahan seseorang bisa jadi ditentukan oleh dorongan dari dalam dirinya, baik itu secara personal maupun spiritual, serta pengaruh dari sekitarnya.

“Oleh karena itu, kita sebagai pasangan mungkin saja bisa mengusahakan untuk memberikan dampak atau efek yang positif bagi pengembangan diri orang lain. Akan tetapi hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa kita jamin untuk terjadi atau tidak,” katanya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Cindi menuturkan bahwa “setiap individu memiliki banyak faktor yang dapat membentuk kepribadian dan karakternya, termasuk orang-orang yang dikatakan memiliki kecenderungan stereotip bad boy yang terbentuk di sosial,” ungkapnya.

Namun sekali lagi, “setiap individu memiliki kepribadian, pengalaman, perasaan, dan pemikiran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha untuk menjalani dan memaknai hidup dengan segala yang telah dimiliki. Serta potensi yang bisa dikembangkan, tanpa memikirkan anggapan orang lain terhadap diri kita” tegasnya.

Terakhir, Psikolog Klinis ini mengingatkan bahwa “we define ourself by what choice we take, what ways of life we live by, and what purpose we want to achieve,” ujarnya.