Studi Baru Membuktikan: Omega-3 Baik untuk Kesehatan Mental

asam lemak omega-3
Foto: www.freepik.com

Jangan anggap remeh ikan tuna, salmon, tongkol karena makanan sumber asam lemak omega-3 ini ternyata memengaruhi kesehatan mental. Ini menurut sebuah penelitian baru yang diterbitkan di Molecular Psychiatry.

Apa yang Dilakukan Penelitian Ini?

Foto: www.freepik.com

Seperti yang kita tahu, inflamasi tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Itulah sebabnya menganut gaya hidup anti-inflamatori menjadi sangat penting.

Di penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang dengan gangguan depresi mayor memiliki level inflamasi yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengalaminya. Jadi, di penelitian terbaru dari King's College London, University of Manchester, dan China Medical University, mereka ingin melihat apakah dua dua jenis omega anti-inflamatori—eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA)—bisa melindungi otak dari inflamasi.

Mereka merawat sel-sel hipokampus manusia dengan EPA atau DHA dan kemudian mengeksposnya dengan sitokin (yang berkaitan dengan inflamasi) untuk melihat bagaimana kondisi sel-sel tersebut setelah pengobatan.

Mereka juga mengamati 22 orang dengan depresi yang mendapatkan 3 gram EPA atau 1,4 gram DHA setiap hari selama 12 minggu untuk mengetahui apakah ada perbaikan gejala-gejalanya.

Apa yang Mereka Temukan tentang Asam Lemak Omega-3?

asam lemak omega-3
Foto: www.pexels.com

Apa yang mereka temukan? EPA atau DHA mencegah peningkatan kematian sel-sel dan menurunkan neurogenis di sel-sel hipokampus. Sebabnya? Menurut mereka karena mediator lemak baru yang terbentuk di dalam otak.

Dan dalam studi terhadap pasien, mensuplementasikan mereka dengan omega-3 dikaitkan dengan pengurangan gejala-gejala depresif. Pengurangan rata-ratanya 64% untuk EPA dan 71% untuk DHA.

"Studi kami memberikan wawasan baru bagaimana asam lemak omega-3 memberikan efek anti-inflamatori yang membantu depresi," kata Alessandra Borsini, Ph.D, penulis utama studi ini. Dia juga menambahkan bahwa karena sekarang efek omega-3 ini dimengerti, maka bisa dijadikan "metode perawatan baru untuk depresi."

Para peneliti ini menekankan bahwa studi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengerti penemuan ini—dan untuk mencari tahu metode pengobatan yang tepat. Mereka juga menambahkan bahwa konsumsi suplementasi omega-3 mungkin dibutuhkan, untuk mendapatkan jumlah asupan yang sama seperti partisipan di dalam studi ini.