Perlukah Optimis Setiap Hari dan Sepanjang Waktu? Ini Jawaban Psikolog

arti optimis
Foto: www.freepik.com

Menjadi pribadi yang pesimis mungkin merupakan suatu hal yang paling dihindari oleh kebanyakan orang. Sebab, sikap tersebut dapat memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan. Oleh karena itu, kita perlu memahami arti optimis dan menerapkannya dalam kehidupan.

Kenapa? Yep... Karena ternyata hal tersebut mendatangkan banyak manfaat.

Untukmu yang ingin mengaplikasikan arti optimis, maka simak penjelasan dari Nerissa Wijaya, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis anak dan keluarga dari Karunya Family Care Center Surabaya, KALM, Halo Jiwa Indonesia x BullyId, dan Soul Society Indonesia.

Apa Arti Optimis?

arti optimis
Foto: www.freepik.com

Nerissa menuturkan bahwa arti optimis menurut KBBI adalah individu yang selalu berpengharapan atau berpandangan baik dalam menghadapi segala hal.

“Sementara dalam sudut pandang psikologi, optimisme merupakan sikap mental yang ditandai dengan harapan dan keyakinan terhadap keberhasilan dan masa depan yang positif,” jelasnya.

Menurutnya, arti optimis adalah “sikap individu yang mengantisipasi hal-hal baik dan hasil yang positif, baik secara kebetulan maupun melalui ketekunan dan usaha yang akan terjadi. Individu yang optimis yakin akan mencapai tujuan yang diinginkan," paparnya.

Sebagian besar individu berada di suatu titik pada spektrum antara dua kutub berlawanan dari optimis murni dan pesimis murni. Namun secara umum, sering kali kita menunjukkan kecenderungan yang kuat, relatif stabil, dan situasional dalam satu arah tertentu.

“Kabar baiknya adalah para pesimis dapat mempelajari keterampilan optimisme dan secara bertahap dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Bahkan individu yang optimis dapat memperoleh manfaat dari mempelajari bagaimana berkembang dan beradaptasi dalam menggunakan sikap optimis,” tutur Psikolog Klinis ini.

Ia menambahkan bahwa “hampir semua individu optimis memiliki periode pesimisme ringan, dan teknik yang menguntungkan individu pesimis dapat digunakan oleh individu optimis ketika mereka sedang merasa berada di titik bawah hidup mereka,” katanya.

Perlukah Bersikap Optimis?

Foto: www.canva.com

Menurut Nerissa, kita “perlu untuk bersikap optimis, tetapi tidak selalu. Secara umum, yang diperlukan dalam hidup jangka panjang adalah bersikap optimis secara fleksibel dan adaptif,” ujarnya.

Flexible optimism bertujuan untuk meningkatkan kendali diri atas cara kita berpikir tentang kesulitan. Jika kita memiliki gaya penjelasan yang positif, maka tidak perlu lagi hidup di bawah tirani pesimisme. Individu yang menerapkan arti optimis secara adaptif dan fleksibel cenderung melihat kesulitan sebagai pengalaman belajar atau temporary setbacks,” lanjutnya.

Bahkan setelah dilalui, “hari yang paling menyedihkan pun memiliki makna bagi mereka bahwa ‘esok hari bisa saja menjadi lebih baik’," tuturnya.

Apabila melihat sisi yang lebih cerah dari peristiwa yang dialami, maka lebih mungkin merasa bahwa kita mengalami lebih banyak peristiwa positif dalam hidup. Tidak terlalu stres, dan bahkan mungkin menikmati manfaat kesehatan yang lebih beragam.

Sikap optimis juga terkait erat dengan sejumlah manfaat psikologis, “termasuk better coping skills, better physical health, tingkat stres yang lebih rendah, dan ketekunan yang lebih tingga ketika mengejar tujuan,” lanjutnya.

Apa Saja Manfaat Bersikap Optimis?

arti optimis
Foto: www.freepik.com

Menurut Nerissa, terdapat banyak penelitian tentang sikap optimis dan pesimis. Penelitian menunjukkan bahwa pandangan dunia yang optimis membawa keuntungan tertentu, yaitu:

Kesehatan yang stabil

“Studi secara konsisten menunjukkan bahwa individu dengan kecenderungan optimis lebih mungkin untuk menjaga kesehatan fisik yang lebih baik daripada para pesimis. Termasuk risiko penyakit kardiovaskular 50% lebih rendah dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih besar saat melawan kanker, kesehatan yang buruk, dan kematian dini,” ujar Psikolog yang satu ini.

Kegigihan

Sesungguhnya, para optimis tidak mudah menyerah seperti pesimis.

“Mereka lebih mungkin untuk mencapai kesuksesan karena itu. Individu dengan sikap optimis lebih mungkin untuk terus berusaha mencapai tujuan mereka, bahkan dalam mengelola rintangan, tantangan, dan kemunduran,” ungkap Nerissa.

Misalnya ketika mencoba menurunkan berat badan, “orang pesimis mungkin menyerah karena mereka yakin diet tidak pernah berhasil. Di sisi lain, seseorang yang mengaplikasikan arti optimis cenderung untuk fokus pada perubahan positif yang dapat mereka lakukan, yang akan membantu mencapai tujuan mereka,” tambahnya.

“Kegigihan untuk gagal-dan-mencoba lagi (dengan cara berbeda) pada akhirnya berarti bahwa mereka lebih mungkin untuk mencapai tujuan mereka,” ujarnya.

Kesehatan emosional

Penelitian menunjukkan bahwa “terapi kognitif yang melibatkan membingkai ulang proses berpikir seseorang bisa sama efektif atau lebih efektif daripada obat antidepresan dalam pengobatan depresi klinis,” terang Nerissa.

“Peningkatan tersebut juga cenderung bertahan panjang serta mengindikasikan bahwa hasil sikap optimis yang dipelajari lebih dari perbaikan sementara. Orang-orang yang memiliki pelatihan optimisme ini tampaknya menjadi lebih mampu secara efektif menangani setbacks di masa depan,” tambahnya.

Prestasi optimal

“Psikolog Martin Seligman, bapak pendiri psikologi positif, menganalisis tim olahraga dan menemukan bahwa tim yang lebih optimis menciptakan sinergi yang lebih positif dan berkinerja lebih baik daripada tim yang pesimis,” paparnya.

Sementara “studi lain menunjukkan bahwa perenang pesimis yang diyakinkan bahwa mereka telah melakukan lebih buruk daripada yang mereka lakukan sebenarnya, rentan terhadap performa yang buruk di masa depan. Perenang yang optimis tidak memiliki kerentanan ini,” lanjutnya.

Tingkat stres yang lebih rendah

Optimis juga cenderung mengalami lebih sedikit stres daripada pesimis atau realis.

“Karena mereka percaya pada diri sendiri dan kemampuan yang dimiliki, Serta mengharapkan hal-hal baik terjadi. Mereka melihat peristiwa negatif sebagai kemunduran yang mungkin diatasi dan melihat peristiwa positif sebagai bukti dari hal-hal baik yang akan datang,” jelasnya.

Mereka juga percaya pada diri sendiri, serta mengambil lebih banyak kesempatan dan menciptakan lebih banyak peristiwa positif dalam hidup.

“Dalam satu penelitian, anak-anak dengan faktor risiko depresi ditempatkan dalam program pelatihan di mana mereka diajarkan keterampilan yang berkaitan dengan learned optimism. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak dengan faktor risiko jauh lebih mungkin untuk menunjukkan gejala depresi sedang hingga berat pada dua tahun masa tindak lanjut,” paparnya.

Namun, “mereka yang telah menerima pelatihan learned optimism memiliki kemungkinan setengah lebih rendah untuk mengembangkan gejala depresi,” tambahnya.

Adakah Faktor yang Memengaruhi Seseorang Bersikap Optimis?

Foto: www.freepik.com

Sesungguhnya, terdapat banyak faktor yang memengaruhi penerapan arti optimis. “Tetapi apakah kita cenderung lebih optimis atau lebih pesimis, dapat dijelaskan dengan peristiwa-peristiwa dalam hidup (explanatory style),” ungkap Nerissa.

Explanatory style atau attribution style mengacu pada bagaimana individu menjelaskan peristiwa-peristiwa dalam hidup. Ada tiga cara bagaimana individu menjelaskan suatu situasi. Ini dapat memengaruhi apakah kita cenderung optimis atau pesimis, di antaranya adalah:

  • Menetap vs Sementara: Dapatkah waktu mengubah banyak hal, atau apakah hal-hal tetap sama terlepas dari waktu?
  • Spesifik vs Umum: Apakah suatu situasi mencerminkan hanya satu bagian dari hidup kita, atau merupakan hidup kita secara keseluruhan?
  • Internal vs Eksternal: Apakah kita merasa peristiwa disebabkan oleh diri sendiri atau oleh kekuatan luar?

“Individu yang realistis, akan melihat sesuatu dengan relatif jelas. Tetapi kebanyakan dari kita tidak realistis. Sehingga cenderung mengaitkan peristiwa-peristiwa dalam hidup kita secara optimis atau pesimis,” ungkapnya.

Para optimis menjelaskan peristiwa positif terjadi karena tindakan atau karakteristik mereka sendiri (internal). “Mereka juga melihatnya sebagai bukti bahwa lebih banyak hal positif akan terjadi di masa depan (menetap) dan di area lain kehidupan mereka (umum),” paparnya.

Sebaliknya, para optimis melihat peristiwa negatif sebagai bukan kesalahan mereka semata (eksternal). Mereka juga melihat peristiwa negatif tersebut sebagai bagian yang tidak ada hubungannya dengan area lain dalam kehidupan mereka atau peristiwa masa depan (spesifik).

“Misalnya jika seorang optimis mendapat promosi, kemungkinan besar mereka akan percaya itu karena mereka pandai dalam pekerjaannya dan akan menerima lebih banyak manfaat serta promosi di masa depan,” ujarnya.

Jika mereka tidak mendapat kesempatan untuk promosi, “kemungkinan karena mereka mengalami waktu yang buruk atau karena keadaan yang tidak menentu. Tetapi mereka yakin dapat mencoba lagi dan akan masih ada kesempatan berikutnya di masa depan,” tambahnya.

Explanatory style berkembang pada masa kanak-kanak. Menurut Nerissa, ada tiga hipotesis utama tentang asal-usul explanatory style, yakni:

Penjelasan spontan

Pertama, “penjelasan spontan dalam keseharian yang dia dengar dari orang dewasa di sekitarnya. Terutama dari ibu atau pengasuhnya, jika ibu atau pengasuh optimis, anak juga akan cenderung demikian,” katanya.

Kritik

“Kedua penjelasan terhadap kritik yang anak dengar ketika anak gagal. Jika kritik yang diberikan permanen dan menyeluruh, pandangannya tentang dirinya akan berkembang ke arah pesimis,” ungkapnya

Realita kehilangan

Kemudian yang ketiga, realita kehilangan dan kesulitan pada masa awal hidupnya.

“Jika kesulitan dapat hilang atau teratasi, anak akan mengembangkan teori bahwa peristiwa buruk dapat diubah dan dikelola. Tetapi jika kesulitan awal ternyata permanen dan memengaruhi seluru, benih-benih keputusasaan telah ditanam secara mendalam,” paparnya.

Mengapa Terkadang Seseorang Sulit untuk Optimis?

Foto: www.rawpixel.com

Menurut Psikolog Klinis ini, “satu perbedaan utama antara cara orang yang menerapkan arti optimis dan pesimis berpikir berkaitan dengan cara orang menafsirkan apa yang terjadi dalam hidup mereka. Seorang optimis akan mengambil peristiwa positif dan memperbesarnya sambil meminimalkan hal negatif dalam suatu situasi,” tuturnya.

Sementara seorang pesimis akan melakukan yang sebaliknya dan mengecilkan hal positif sambil meningkatkan fokus pada hal negatif.

“Individu yang pesimis percaya bahwa peristiwa negatif disebabkan oleh kesalahan atau sifat mereka (internal). Mereka percaya bahwa satu kesalahan berarti lebih banyak kesalahan yang akan datang (menetap). Dan kesalahan di bidang kehidupan lainnya tidak dapat dihindari (umum) karena mereka sendiri lah penyebabnya,” ujar Nerissa.

Mereka melihat peristiwa positif sebagai kebetulan (spesifik) yang disebabkan oleh hal-hal di luar kendali (eksternal), dan mungkin tidak akan terjadi lagi yang bersifat sementara.

Seorang pesimis akan melihat promosi kerja sebagai peristiwa keberuntungan yang mungkin tidak akan terjadi lagi.

“Bahkan mungkin khawatir bahwa mereka sekarang akan berada di bawah pengawasan yang lebih ketat karena telah dipromosikan. Tidak adanya kesempatan promosi mungkin akan dipahami karena mereka merasa tidak cukup terampil dalam bekerja,” lanjutnya.

Oleh karena itu, mereka akan mengantisipasi untuk tidak dipromosikan lagi pada masa yang akan datang.

“Ada beberapa penjelasan berbeda dalam literatur tentang mengapa kita bisa pesimis. Makalah menarik berjudul The Neural Basis of Optimism and Pesimism membahas tiga penyebab kognitif dan persepsi mengapa individu cenderung bersikap pesimis atau optimis,” ujar Nerissa.

Berikut tiga penyebabnya:

Explanatory style

Optimisme atau pesimisme yang berkembang setelah masa kanak-kanak cenderung mendasar. “Kemunduran dan kemenangan baru disaring melalui pola penjelasan yang telah dipahami, dan itu menjadi kebiasaan berpikir yang mengakar. Kita dapat melihatnya dalam bentuk yang cukup mengkristal pada anak-anak dengan usia sekolah,” terangnya.

“Ketika menjelaskan atau mengaitkan kegagalan dengan faktor internal, tetap, dan umum, kita melihatnya sebagai hal yang tidak dapat dikendalikan. Seperti misalnya menjalani hubungan yang gagal dan menganggap diri seolah tidak menyenangkan, hal itu merupakan pandangan pesimis,” tambahnya.

Saat kita menghubungkannya dengan keadaan eksternal, spesifik, dan sementara, kita dapat merasa berharap untuk hasil yang lebih baik di lain waktu, seperti ‘Saya tidak melakukan yang terbaik karena saya terkena flu—selanjutnya, saya akan menjaga kesehatan dan berenang lebih cepat’, ini jelas optimis.

“Oleh karena itu, ada beberapa alasan psikologis yang potensial tentang mengapa kita mungkin pesimis pada waktu tertentu, atau secara umum. Optimisme yang dipelajari merupakan gagasan bahwa kecenderungan pesimis dan optimis dapat dipelajari,” ungkap Nerissa.

Pemprosesan informasi dan fokus perhatian

Bagaimana cara kita memproses informasi dan memilah fokus perhatian. “Seperti contoh yang paling umum ketika ada gelas yang setengah terisi, apakah setengah penuh atau setengah kosong tergantung pada fokus kita berada,” ucapnya.

“Dengan asumsi kita haus, air di gelas adalah isyarat lingkungan yang positif, maka akan lebih memerhatikan keberadaannya, daripada ketiadaannya merupakan sikap optimis. Kita mengabaikan fakta bahwa setengah gelas tersebut tidak terisi dan menyaring tanda yang tidak sesuai dengan pandangan positif kita,” lanjutnya.

Eye-tracking studies menunjukkan bahwa orang yang pesimis melakukan yang sebaliknya, “menghabiskan lebih banyak waktu untuk melihat tanda yang tidak menyenangkan daripada individu dengan sikap optimis,” katanya.

Locus of control

Hal ini merupakan keyakinan bahwa kita dapat mengubah atau mengendalikan elemen kehidupan kita. “Locus of control internal diasosiasikan dengan optimisme, yakni keyakinan bahwa kita dapat berperan aktif dalam mengendalikan hal-hal seperti hasil ujian, prestasi kerja, dan lingkungan kita secara umum,” paparnya.

Sebaliknya, mereka yang memiliki locus of control eksternal cenderung merasa tidak berdaya untuk mengubah hubungan, kehidupan, dan sebagainya serta memiliki sikap pesimis terhadap hidup.

“Sejumlah penelitian telah menunjukkan kesimpulan bahwa lebih penting bagi kesehatan untuk tidak terlalu pesimis daripada menjadi sangat optimis. Dengan kata lain, kita tidak perlu berusaha menjadi selalu dan terlalu ceria untuk menuai manfaat dari ‘tidak terlalu negatif’. Kuncinya adalah membatasi dampak negatif terhadap kesehatan dari sikap atau pikiran yang terlalu pesimis,” terangnya.

Bagaimana Ciri-ciri Seseorang yang Memiliki Sikap Optimis?

arti optimis
Foto: www.canva.com

Ada beberapa karakteristik utama yang cenderung dimiliki oleh seseorang yang menerapkan arti optimis. Menurut Nerissa berikut tanda-tanda bahwa mungkin kita cenderung bersikap optimis dalam hidup:

  • Merasa bahwa hal-hal baik akan terjadi di masa depan.
  • Merasa akan berhasil dalam menghadapi tantangan hidup.
  • Berpikir bahwa bahkan hal-hal baik dapat datang dari peristiwa-peristiwa negatif.
  • Mengharapkan segala sesuatunya berjalan dengan baik.
  • Merasa bersyukur atas hal-hal baik dalam hidup.
  • Seringkali mencari cara untuk memanfaatkan peluang seoptimal mungkin.
  • Memiliki sikap positif tentang diri sendiri dan orang lain.
  • Melihat tantangan atau hambatan sebagai peluang untuk belajar.
  • Menerima tanggung jawab atas kesalahan tetapi tidak terobsesi dengannya.
  • Tidak membiarkan satu pengalaman buruk mengacaukan harapan diri untuk masa depan

Meski terdapat banyak faktor yang memengaruhi optimisme, “tetapi apakah kita cenderung lebih optimis atau lebih pesimis sering dapat diketahui dengan mendengar cara kita menjelaskan peristiwa-peristiwa dalam hidup,” ujarnya.

Apakah Kita Termasuk Orang yang Ambisius Ketika Memiliki Sikap Optimis?

Foto: www.canva.com

Pada umumnya optimisme lebih sering dikaitkan dengan kecenderungan narsistik, dibandingkan ambisi. Selain itu, tingkat ambisi yang sehat justru bisa jadi bermanfaat dalam optimalisasi studi dan karir individu.

“Setiap individu memiliki tingkat ambisi yang berbeda, dan ambisi juga didefinisikan sebagai sifat kepribadian yang relatif stabil dalam persiapan dan mencapai tujuan. Ambisi sendiri digambarkan sebagai tujuan khusus, yang ingin dicapai oleh individu pada aspek tertentu dalam hidupnya tergantung pada tingkat kepentingannya bagi individu tersebut,” jelasnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa semakin besar tingkat optimisme seseorang, semakin besar pula tingkat ambisinya, terutama dalam konteks studi dan karir. “Ambisi menunjang opini optimis yang secara positif memengaruhi kehidupan psikologis, profesional, dan perilaku individu di masa depan,” tambahnya.

Selain itu, “disimpulkan bahwa terpenuhinya kebutuhan membuat individu cenderung bersikap optimis, tujuannya tercapai, dan munculnya perasaan bahagia dan kenyamanan psikologis. Sehingga dapat mencapai potensi diri yang optimal,” ungkapnya.

Pengaplikasian arti optimis umumnya merupakan karakteristik positif yang memberikan banyak manfaat kesehatan fisik dan mental. Tetapi ini tidak berarti bahwa menjadi optimis murni tidak memiliki beberapa potensi negatif.

Beberapa cara optimisme dapat merugikan diri antara lain:

Bias optimisme

Terkadang, pengaplikasian arti optimis yang berlebihan dapat membuat individu melebih-lebihkan kemungkinan bahwa mereka dapat mengalami hal-hal baik sambil menghindari hal-hal buruk.

“Bias optimisme menunjukkan bahwa individu sering meremehkan risiko mereka mengalami hasil negatif. Hal ini terkadang dapat menyebabkan individu terlibat dalam perilaku berisiko yang meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan hasil yang buruk,” paparnya.

Penilaian risiko yang buruk

Ketika individu terlalu optimis tentang sesuatu, “mereka mungkin cenderung tidak memikirkan semua potensi risiko dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi masalah tersebut. Hal ini pada akhirnya dapat membuat upaya mereka lebih mungkin gagal, atau setidaknya mengalami masalah besar di sepanjang jalan,” ujarnya.

Toxic positivity

Terkadang, individu cenderung menilai terlalu tinggi perasaan positif sambil mengabaikan atau bahkan menekan perasaan negatif. “Itu juga dapat menyebabkan individu kurang mampu memvalidasi pengalaman emosional orang-orang yang sedang melalui masa-masa sulit,” katanya.

Individu yang optimis perlu berfokus pada mempertahankan pendekatan yang sehat dan realistis terhadap pandangan positif dalam hidup.

“Daripada hanya berfokus pada ‘tetap positif’ dan mengabaikan emosi lain, fokuskan tujuan dalam bentuk mencoba melihat sisi baik sambil tetap mengakui kesulitan dari situasi atau peristiwa yang membuat kita merasa tidak nyaman,” lanjutnya.

Bagaimana Cara Agar Bisa Bersikap Optimis?

arti optimis
Foto: www.unsplash.com

Melepaskan pesimisme dan menjadi lebih optimis mungkin tampak tidak menarik bagi sebagian dari kita.

“Gambaran kita tentang seorang yang menerapkan arti optimis mungkin adalah individu yang membosankan dan selalu ceria, pembual yang menyombongkan diri. Individu yang sering menyalahkan orang lain, tidak paham realita hidup yang sebenarnya, dan lain-lain,” terangnya.

Faktanya, “baik para optimis maupun pesimis tidak memiliki keberpihakan pada perilaku buruk,” lanjutnya.

Jika kita ingin memelajari sikap optimis, ini pertanda baik untuk masa depan kita.

“Peristiwa negatif lebih mungkin untuk menjadi batu loncatan, sementara peristiwa positif menegaskan keyakinan kita pada diri sendiri, kemampuan untuk membuat hal-hal baik terjadi sekarang dan di masa depan beriringan dengan tindakan nyata yang kita eksekusi,” ucapnya.

Menurut Nerissa, sebelum mengetahui cara untuk bersikap optimis, penting pula bagi kita untuk mengetahui panduan penggunaan optimisme diri sehingga kita dapat menggunakannya secara fleksibel dan adaptif:

Sadari pola perilaku

Sadari pola perilaku dan pikiran diri sendiri.

“Kenali, akui, dan lakukan berdasarkan hasilnya. Diskusikan bersama sahabat atau orang yang dipercaya ketika mengenali pola diri. Atau opsi lain adalah dengan menemui profesional atau konselor sebaya untuk mengenali pola pikir dan perilaku yang dominan tersebut,” anjurnya.

Kenali hal yang ingin dicapai

Setelahnya, cobalah untuk mengenali hal yang ingin diri kita capai. Gunakan sikap yang optimis apabila:

  • Ada hal atau prestasi yang ingin dicapai
  • Ada kekhawatiran tentang bagaimana respons perasaan diri sendiri (melawan penyakit/gangguan tertentu, selaras dengan nilai moral pribadi)
  • Situasinya cenderung berlarut-larut dan kesehatan fisik menjadi masalah
  • Ingin memimpin atau menginspirasi orang lain

Pahami ketidakidealan

Pahami bahwa ada kalanya tidak ideal untuk menggunakan teknik atau sikap optimis.

“Pedoman mendasar untuk tidak menggunakan sikap optimis adalah memahami berapa biaya kegagalan (cost of failure) dalam situasi tertentu dan memahami nilai-nilai pribadi yang penting bagi diri sendiri,” tuturnya.

Intinya adalah, jika biaya kegagalan rendah dan kita tidak perlu menegosiasikan nilai pribadi, gunakan optimisme.

Namun, pertimbangkan atau tunda penerapan arti optimis apabila:

  • Tujuan kita adalah merencanakan masa depan yang berisiko dan tidak pasti—gunakan pendekatan ‘harapkan yang terbaik, rencanakan untuk mengelola hasil terburuk
  • Jika tujuan kita adalah untuk menasihati orang lain yang merasa masa depannya suram, tanyakan kepada mereka apa yang penting bagi mereka terlebih dahulu
  • Ingin menunjukkan simpati pada kesulitan orang lain dengan validasi emosi dan kepercayaan diri terlebih dahulu sebelum menularkan sikap optimis

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu menumbuhkan sikap yang lebih optimis pada individu dewasa, yaitu:

Mindfulness

Perhatian penuh atau mindfulness adalah fokus untuk terlibat, penuh perhatian, serta hadir di sini dan saat ini.

“Ini bisa menjadi teknik yang berguna untuk membantu kita fokus pada apa yang penting di masa sekarang. Serta menghindari kekhawatiran tentang kejadian di masa depan dan hal-hal yang berada di luar kendali kita,” ujarnya.

“Jika hidup sepenuhnya pada saat ini, kita cenderung tidak akan merenungkan pengalaman masa lalu yang negatif atau khawatir tentang peristiwa yang akan datang. Ini memungkinkan kita untuk merasa lebih menghargai apa yang kita miliki sekarang dan mengurangi penyesalan dan kecemasan,” lanjutnya.

Praktik syukur

Syukur dapat didefinisikan sebagai penghargaan atas apa yang penting dalam hidup. “Satu studi menemukan bahwa peserta yang ditugaskan untuk menulis dalam jurnal rasa syukur menunjukkan peningkatan optimisme dan ketahanan," sarannya.

Jika kita ingin mencoba mengembangkan sikap yang lebih optimis, coba untuk sisihkan beberapa menit setiap hari untuk menuliskan hal yang kita syukuri.

Tuliskan emosi positif diri kita

“Penelitian telah menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana seperti menuliskan pikiran positif secara berkala dapat membantu meningkatkan optimisme kita. Satu studi menemukan bahwa menulis ekspresif yang berfokus pada emosi positif dikaitkan dengan penurunan tekanan mental dan peningkatan kesejahteraan mental,” tuturnya.

Dimungkinkan untuk mengembangkan optimisme yang dipelajari. “Para pesimis pada dasarnya dapat belajar menjadi optimis dengan memikirkan reaksi mereka terhadap kesulitan dengan cara baru dan secara sadar menantang self-talk negatif tersebut,” tambahnya.

Adakah Risiko Jika Kesulitan Bersikap Optimis?

Foto: www.freepik.com

Nerissa memaparkan bahwa ada banyak risiko yang jelas dari sikap pesimis murni. Beberapa perangkap utama menjadi terlalu pesimis:

Efek kesehatan yang negatif

“Pesimisme berkontribusi pada efek kesehatan yang negatif. Pandangan negatif dikaitkan dengan sejumlah risiko kesehatan lain yang meningkat, seperti penyakit jantung, serta kematian secara keseluruhan,” katanya.

Berdampak bagi kesejahteraan

Memikirkan pikiran negatif ternyata berdampak buruk bagi kesejahteraan.

“Studi menunjukkan bahwa wanita cenderung memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi karena mereka memiliki tingkat ruminasi, perenungan, dan refleksi yang lebih tinggi. Ruminasi dan merenung yang berkepanjangan adalah komponen dari pemikiran pesimis,” ujarnya.

Berkontribusi pada depresi dan kecemasan

Pemikiran yang terlalu negatif berkontribusi pada depresi dan kecemasan. “Beberapa gejala yang umum pada gangguan kecemasan adalah kekhawatiran yang berlebihan, ruminasi, dan pemikiran berulang tentang skenario terburuk,” ucapnya.

Demikian pula, suasana hati yang buruk, pikiran negatif, harga diri rendah, dan kekhawatiran bukan hanya ciri-ciri orang yang pesimis, tetapi juga bagian dari faktor depresi.

Tingkat stres yang tinggi

Orang yang pesimis cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi (distress) dan keterampilan coping yang terbatas.

“Satu studi menunjukkan bahwa pada orang tua, pesimisme juga berkorelasi dengan tingkat stres yang lebih tinggi. Lebih fokus pada bagian yang kurang positif dari kehidupan mereka, dan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk melihat kembali kehidupan dengan lebih banyak hal negatif secara umum sehingga mengurangi kepuasan hidup,” tuturnya.

Orang yang optimis mengalami tingkat stres yang lebih sehat (eustress) dan memiliki persepsi kepuasan hidup yang lebih tinggi.

“Sebaliknya, orang pesimis cenderung mengalami lebih banyak isolasi, konflik dan tekanan yang lebih besar, kesehatan yang cenderung buruk, dan kesejahteraan psikologis yang rendah,” imbuhnya.

“Sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa ‘optimisme yang lebih tinggi dikaitkan dengan penyesuaian fisiologis yang lebih baik terhadap situasi stres. Sementara pesimisme yang lebih tinggi dikaitkan dengan penyesuaian psikologis yang lebih buruk terhadap stres’,” paparnya.

Jika Masih Berat Bersikap Optimis, Apa yang Harus Dilakukan?

Foto: www.freepik.com

Apabila masih terasa sulit, maka Nerissa menyarankan untuk fokus pada apa yang perlu dan dapat dilakukan.

“Ketika menjadi seorang pesimis, itu bisa menjadi masalah pikiran dibanding isu atau permasalahan utama. Disarankan untuk meluangkan waktu sejenak untuk melakukan beberapa latihan deep breathing, dan variasi teknik pernapasan lainnya, seperti 4-7-8 breathing technique. Atau setidaknya 15 menit meditasi dapat membantu meredakan tekanan fisik dan psikis,” sarannya.

Individu juga dapat merangkul kekuatan untuk melepaskan diri (detaching) dari apa pun yang sedang dikhawatirkan. “Hal ini dapat dilakukan dengan cara relaksasi otot, berolahraga sejenak, atau mengelola rutinitas harian. Ketika kita memilih untuk melepaskan sumber stres, kita dapat menikmati pemulihan ketenangan psikologis dengan lebih optimal,” lanjutnya.

Selain itu, mungkin yang lebih tepat adalah bagaimana kita dapat tetap optimis tanpa kehilangan kesempatan untuk membuat diri kita siap menghadapi krisis. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan:

Harapkan yang terbaik, antisipasi kemungkinan terburuk

Pendekatan mengharapkan yang terbaik dan merencanakan yang terburuk memungkinkan kita menikmati banyak manfaat optimisme tanpa membuat diri kita rentan dan merasa tidak siap atau khawatir berlebihan.

“Untuk mendapatkan manfaat yang ditawarkan oleh pemikiran pesimis, pikirkan hal-hal yang mungkin salah, dan coba temukan rencana cadangan atau alternatif untuk menghadapi hal yang tidak terduga. Kemudian, fokuslah pada hal positif sambil tetap mengingat opsi rencana cadangan ini ketika merasa khawatir atau cemas,” anjurnya.

Ingat dan prioritaskan hal yang penting

Nikmati dan ingat apa yang kita miliki dan tujukan untuk memupuk rasa syukur.

“Luangkan waktu untuk mendaftar kekuatan dan sumber daya kita. Stres, kecemasan, dan kekhawatiran terjadi ketika kita merasa tuntutan situasi melebihi sumber daya kita untuk menanganinya,” imbuhnya.

“Mengingat sumber daya yang tersedia dapat mengurangi stres dan membantu kita merasa berdaya saat kita menjalani hidup. Cara berpikir ini dapat sangat membantu ketika kita menghadapi krisis yang mendadak,” tambah Nerissa.

Ingat juga apa pun yang kita hadapi akan berlalu

Satu hal yang telah diajarkan oleh penelitian psikologi positif kepada kita adalah bahwa kemunduran besar tidak menyebabkan individu merasa tidak bahagia selama kita dapat memperkirakannya.

“Setelah beberapa minggu atau bulan, individu yang telah mengalami krisis besar umumnya kembali ke tingkat kebahagiaan (atau ketidakbahagiaan) mereka yang biasa. Para optimis cenderung merasa lebih tenang secara umum, dan pesimis cenderung merasa kurang tenang atau was-was yang berkepanjangan dan berpotensi mengganggu keseharian,” tuturnya.

Jika kita seorang pesimis, “pahami bahwa mungkin untuk belajar bagaimana menjadi seorang yang optimis dengan membaca artikel, misalnya. Terkadang bertahan dalam krisis memberi kita motivasi yang tepat untuk melakukan apa yang telah kita pelajari,” pesannya.

Proaktif dalam mencari bantuan yang diperlukan

Jika segala cara telah diupayakan, namun kita masih kesulitan dalam mengelola emosi dan pandangan negatif terhadap usaha dan hidup secara umum, serta kondisi tersebut mulai mengganggu aktvitas dan rutinitas—kita tidak perlu selalu memaksakan diri berjuang sendirian.

“Berikan kesempatan pada diri sendiri untuk berproses bersama profesional kesehatan mental, seperti psikiater, psikolog, atau konselor seperti klinis atau sebaya,” anjurnya.

Kesimpulan

arti optimis
Foto: www.canva.com

Nerissa memaparkan bahwa arti optimis merupakan apa yang kita lakukan daripada identitas diri kita, dan dengan demikian dapat dipelajari, dilatih, dan dikembangkan.

“Belajar bersikap optimis yang adaptif membutuhkan waktu dan sekutu. Ingat, ini adalah proses berkelanjutan yang mungkin perlu sering diulangi dan kadang saling mengingatkan. Ketika kita menemukan diri kita menghadapi tantangan dan langsung merespons dengan sikap pesimis, berusahalah untuk be compassionate with ourselves and others,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, “kita akan lebih mampu mengidentifikasi keyakinan pesimis dan menantang pikiran negatif yang terpola. Melalui menantang self-talk negatif dan mengganti pikiran pesimis dengan yang lebih positif sesuai porsinya, individu dapat belajar bagaimana menjadi lebih optimis secara adaptif,” ujarnya.

“Kita juga perlu memahami bahwa kita memiliki pilihan untuk bersikap dan melihat situasi, dan alternatif yang tidak mengharuskan kita menjadi optimis setiap saat. Selain itu, kita perlu mempelajari dan melakukan sikap optimis sendiri dalam keseharian, namun semua ini tidak harus dilakukan sendirian,” tutupnya.