Benarkah Tidak Dianjurkan Sering Memuji Anak dengan Kata ‘Cantik’?

arti cantik
Foto: www.pexels.com

Mungkin baik itu secara sengaja atau tidak, sebagian orang tua sering memuji buah hati dengan kata ‘cantik’. Meski hal tersebut bertujuan untuk mengapresiasi anak, tetapi sesungguhnya tidak dianjurkan untuk memberi pujian terlalu sering dengan menggunakan kata cantik. Namun, apa arti cantik yang sebenarnya? Dan bagaimana cara menyampaikan pujian pada buah hati?

Simak penjelasan dari Marcelina Melisa, M.Psi., Psikolog Psikolog Anak dari Brawijaya Clinic Kemang dan GIM Daycare bersama TigaGenerasi yang akan membahas terkait arti cantik dan cara tepat untuk memberikan pujian pada anak.

Apa Arti dari Cantik?

arti cantik
Foto: www.rawpixel.com

Sesungguhnya, menurut Marcelina, “arti cantik sangat relatif, tergantung apada masa dan budaya. Cantik sendiri masih sangat terpengaruh dari budaya dan acuan barat, di mana sejumlah kriteria digunakan. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh media massa yang menyebarkan informasi, termasuk melalui media sosial,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa arti cantik juga “dipengaruh oleh status sosial-ekonomi. Misalnya pada kaum Eropa di abad pertengahan, di mana status sosial akan terbagi jelas dan barang komoditi tertentu menjadi lambang bagi kaum perempuan untuk ‘merasa’ cantik. Seperti penggunaan kain sutera, beludru, perhiasan,” lanjutnya.

Selain itu, di zaman Renaissance, arti cantik juga bukan hanya dilihat dari tampilan fisik. Namun juga dari keterampilan yang identik dengan sifat feminin. Misalnya seperti memasak, mengurus rumah tangga domestik, dan merawat anak,” paparnya.

“Beruntung, saat ini definisi ‘cantik’ mulai diartikan dengan beragam dan menghargai wanita sebagai individu yang unik, alih-alih mengharuskan mereka untuk mengikuti konsep yang dibentuk dalam masyarakat atau media,” imbuh Marcelina.

Namun menurut ahli, “cantik dapat didefinisikan sebagai keseimbangan antara kriteria objektif dan impresi subjektif. Yakni berupa kapasitas untuk mempersepsikan ‘kesepakatan bersama’, sebagai bentuk yang dianggap simetris serta sebuah keharmonisan (del Campo, 2002). Sehingga impresi subjektif ini lah yang sangat terkait dengan konteks waktu dan budaya,” ujarnya.

Mengapa Banyak Orang Ingin Menyandang Gelar Cantik?

Foto: www.freepik.com

Sama seperti dianggap pintar atau sukses, “menyandang gelar cantik juga merupakan salah satu ‘status sosial’ yang diberikan dari orang sekitarnya atau masyarakat yang melambangkan superioritas seseorang,” terangnya.

Terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab seseorang ingin dianggap cantik, yakni:

Sebagai bentuk survival

“Secara naluriah, manusia ‘bersaing’ untuk mendapatkan pasangan yang unggul menurut versi masing-masing. Dengan menempatkan diri di posisi yang superior tersebut, diharapkan perempuan dapat menarik bagi lawan jenis yang dianggap unggul atau diminatinya,” ungkap Marcelina.

Memenuhi kebutuhan untuk diakui

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah untuk diakui oleh lingkungan sekitar. “Dengan pengakuan ini, kepercayaan dan keberhargaan diri seseorang pun akan meningkat,” ujarnya.

Tuntutan dari lingkungan sosial

Individu yang sering kali dibandingkan dengan perempuan lain yang dianggap lebih cantik atau memiliki kelebihan, “ingin terbebas dari tuntutan tersebut. Sehingga ia ingin dianggap cantik juga,” terangnya.

Bagaimana Cara Mengenalkan Arti Cantik pada Anak?

arti cantik
Foto: www.pexels.com

Untuk mengenalkan arti cantik pada anak, Marcelina menyarankan agar melakukannya dengan berbagai cara, yakni:

Hindari menggunakan kriteria tertentu

Menurut Psikolog Anak yang satu ini, orang tua perlu menghindari untuk menggunakan kriteria tertentu untuk mengenalkan arti cantik pada anak. “Misalnya yang diterima masyarakat dan menjadi acuan pada media. Dibanding hal tersebut, sebaiknya kenali anak denga berbagai konsep cantik dari seluruh penjuru dunia,” paparnya.

Cantik bukan hanya dari tampilan fisik

Kemudian, orang tua juga bisa mengajarkan bahwa arti cantik bukan hanya dilihat dari tampilan fisik. Namun juga kualitas pribadi seseorang seperti sikap, keterampilan, serta nilai yang dianut. “Sehingga nantinya anak akan terhindari dari terlalu fokus untuk mengurus tampilan fisik. Serta merasa insecure terhadap orang lain,” katanya.

Ajak anak mengenali kelebihannya

Yang paling penting, orang tua perlu “mengajak anak untuk mengenali kelebihannya. Serta secara perlahan menerima keberadaan diri. Sehingga anak dapat menjadi cantik dengan versi dirinya sendiri,” terangnya.

Usia Berapa Anak Perlu Dikenalkan dengan Arti Kecantikan?

Foto: www.pexels.com

Menurut Marcelina, “tanpa menyebutkan istilah ‘cantik’, mengenali diri dan menerima keadaan diri dengan tetap berada dalam proses pengembangan diri dapat diperkenalkan sedini mungkin oleh orang tua,” ujarnya.

“Sejak usia dini, anak dapat difasilitasi untuk bereksplorasi sehingga menemukan hal yang dapat menjadi kekuatan dan kelebihannya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada usia pra-remaja atau remaja, anak akan mulai mengenal kata ‘cantik’,” tutur Psikolog yang satu ini.

Sehingga, di sinilah peran “orang tua dan media akan krusial bagi pembentukan presepsi anak. Hindari pengaruh media yang negatif bagi konsep diri anak,” sarannya.

Lantas, bagaimana cara mengajarkan anak agar menjadi pribadi yang cantik dari luar dan dalam diri? “Dengan tidak hanya fokus pada penampilan. Melainkan juga fokus pada pengembangan diri seperti eksplorasi aktivitas dalam berbagai bidang, hal yang disukai atau hobi, serta sesuatu yang menjadi kekuatan bagi dirinya,” jawab Marcelina.

Apakah Benar Bahwa Tidak Disarankan untuk Memuji Anak dengan Kata Cantik Secara Berlebihan?

Foto: www.freepik.com

Sebagian orang tua akan merasa bangga terhadap anaknya, sehingga sering kali memuji anak dengan sebutan cantik. Namun ternyata, terdapat anggapan bahwa tidak disarankan untuk memuji anak dengan menggunakan kata cantik secara berlebihan.

Hal ini juga dibenarkan oleh Marcelina, pasalnya “jika terlalu fokus untuk memuji cantik, maka terdapat beberapa dampak yang terjadi pada anak,” katanya.

Berikut beberapa dampak yang terjadi pada anak ketika orang tua terlalu sering memujinya dengan ungkapan cantik:

Tidak menjadi dirinya sendiri

Marcelina menuturkan bahwa “anak dapat terlalu fokus untuk menjadi seseorang atau melakukan sesuatu agar dipuji cantik. Sehingga bisa jadi ia tidak menjadi dirinya sendiri, dan tidak melakukan apa yang disukainya,” ungkapnya.

Merasa kecewa

Ketika anak hanya “berperilaku dengan bertujuan untuk mendapatkan pujian, maka ia akan kecewa pada dirinya sendiri ketika tidak mendapatkan pujian,” ucapnya.

Kurang percaya diri

Saat orang tua terlalu sering memuji cantik terhadap buah hatinya, nantinya anak bisa “memiliki persepsi bahwa cantik identik dengan kriteria tertentu. Sehingga jika ada hal yang berbeda pada dirinya, maka ia akan menjadi kurang percaya diri,” tutur Marcelina.

Kemudian, bagaimana cara memuji anak dengan baik dan tepat? “Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni fokus pada proses yang dilalui serta menunjukkan perilaku yang dilakukan dan dianggap baik atau positif,” jawabnya.

Selain itu, “tidak hanya memuji anak, namun orang tua juga bisa memuji kelebihan yang ada pada saudara atau teman-temannya. Sehingga ia tetap rendah hati dan memahami bahwa setiap orang memiliki kelebihan yang bisa dipuji,” imbuhnya.

Marcelina menuturkan bahwa terdapat beberapa waktu yang tepat bagi orang tua yang ingin memuji anaknya, yakni:

  • Ketika anak menunjukkan usaha dalam proses melakukan sesuatu, terlepas dari bagaimana hasilnya.
  • Ketika anak menunjukkan perilaku yang baik atau positif.
  • Saat ada hal yang menjadi sebuah achievement bagi dirinya, dengan juga memuji orang lain di sekitar anak yang juga menunjukkan usahanya.

Kesimpulan

arti cantik
Foto: www.unsplash.com

Selain arti cantik, orang tua juga bisa mengajarkan anak agar tetap percaya diri. Hal ini bisa dilakukan dengan “menghargai proses yang dilakukan oleh buah hati, seperti ketika ia menemukan hambatan dan berani untuk mencoba lagi dan mengatasinya,” ujarnya.

Tak hanya itu, orang tua juga bisa “memberikan bantuan jika hal yang dikerjakan anak dianggap terlalu sulit untuknya. Mungkin ditujukan bagi anak dengan usia di atasnya atau ketika kita mengetahui kemampuan anak memang belum sampai di tahap tersebut. Orang tua bisa memberi kesempatan anak untuk mencoba dan memujinya karena telah bersedia untuk mencoba,” paparnya.

Orang tua juga dapat “memberi pemahaman bahwa setiap orang memiliki kelebihan, termasuk pada diri anak,” saran Marcelina.