Bijakkah Tetap Berkomitmen dengan Orang Baik Meski Tidak Ada ‘Spark’?

sifat baik
Foto: www.gettyimages.com

Entah memang warisan dari nenek moyang, atau karena jalan hidupmu sudah begitu: kamu selalu memiliki pasangan yang (ehm) brengsek. Ibaratnya, kamu dianugerahi kekuatan magnet super kuat yang menarik dan mendekatkanmu dengan para pria yang termasuk dalam kategori Warner Huntington III di Legally Blonde (Ingat ‘kan, dengan “Pooh Bear” dan tatapannya yang sangat merendahkan Elle Woods?) Jadi, begitu bertemu dengan pria yang merupakan penjelmaan hidup dari kata sifat “baik”, kamu langsung mau berkomitmen! Pasalnya, kebaikan dan memiliki sifat baik adalah kualitas super penting dalam sebuah hubungan, iya ‘kan? Mari mendengarkan penjelasan seorang psikolog.

Sepenting Apa Sifat Baik dalam Menjalin Hubungan?

sifat baik
Foto: www.gettyimages.com

“Kalau menurut KBBI, baik berarti tidak jahat, jujur. Sifat ini penting untuk mendukung kelanggengan hubungan, tapi bukan satu-satunya indikator. Sifat ini juga tidak mengalahkan hal-hal lain yang mendukung kelanggengan hubungan,” jelas Pingkan Rumondor, seorang psikolog klinis dewasa, kepada LIMONE melalui email.

Pingkan mengutip teori Vulnerability-Stress-Adaptation (Karney & Bradburry ,1995) bahwa kelanggengan dan kebahagiaan hubungan adalah hasil dari dinamika sifat (dan hal-hal bawaan, seperti latar belakang keluarga). Itu, plus stres atau tantangan kehidupan yang sedang dialami pasangan dan bagaimana pasangan beradaptasi dengan kondisi stres serta sifat masing-masing.

“Jadi, punya karakter/sifat yang baik itu penting. Tapi bukan segala-galanya. Pada akhirnya, kelanggengan hubungan adalah pekerjaan berdua, bagaimana pasangan mau berkomunikasi, saling memahami, saling mendukung,” dia mengingatkan.

“Baik” vs “Spark“: Mana yang Lebih Krusial?

sifat baik
Foto: www.gettyimages.com

Lagu-lagu dan film romantis berkali-kali mengutip sesuatu yang berkaitan dengan efek kupu-kupu di perut ketika jatuh cinta. Dan ternyata ini tidak semata sebuah isapan jempol atau urban legend, sebuah penelitian juga meyakini bahwa fenomena kupu-kupu tersebut benar dan bisa dijelaskan secara ilmiah.

Sebut saja kamu akhirnya berkomitmen dengan pria baik tadi, meski tanpa ada efek kupu-kupu di dalam perut. Tidak ada percikan api. Tidak mungkin bisa menyanyikan lirik Everything Has Changed-nya Taylor Swift dengan sepenuh hati. Pasalnya, yah itu tadi: no sparks. Namun, sebenarnya seberapa penting percikan api dan sesuatu yang disebut ‘reaksi kimia’ dalam sebuah hubungan?

Spark penting, terutama di awal hubungan,” terang Pingkan. “Adanya spark (passion) membuat dua orang saling tertarik untuk mengenal lebih jauh dan membina hubungan. Pada konteks hubungan, seperti misalnya pernikahan yang dijodohkan, sebetulnya ‘spark’ bisa saja muncul asal diusahakan atau ada satu sifat pasangan yang belum pernah dilihat sebelumnya,” katanya.

Sebut saja, setelah mengenalnya beberapa lama, kamu baru tahu bahwa dia orang yang memperhatikan hal-hal kecil tentang dirimu. Awwwh, manisnya!

Jadi, jika disandingkan, manakah yang lebih penting sifat baik atau merasakan ‘sparks‘?

“Untuk tahap pembentukan hubungan, menurut saya lebih sparks (passion), karena membawa dua orang menjadi terdorong untuk lebih mengenal dan akhirnya berkomitmen membina hubungan,” jawabnya. Akan tetapi, Pingkan kembali menegaskan bahwa yang paling penting dan yang membuat hubungan tersebut tahan lama adalah “adaptasi si pasangan, seperti komunikasi, kecocokan dalam berinteraksi.”

Bagaimana Mengakhiri Hubungan dengan Orang Baik?

Foto: www.gettyimages.com

Dia baik. Super baik. Namun sayangnya, tidak ada kecocokan di antara kalian. Hubungan terasa sangat monoton dan hambar. Sedingin timun. Lalu bagaimana?

“Orang baik itu belum tentu menarik dan cocok dengan diri kita. Jadi, jika merasa bosan da tidak ada kecocokan, maka akan lebih untuk membicarakannya dengan pasangan,” saran Pingkan. Lalu, jika memang hubungan layak dipertahankan, Pingkan menganjurkan untuk mencari cara agar membuat hubungan lebih menarik dan passionate.

Akan tetapi di sini lampu kuningnya: “Jika sudah dicoba dan ternyata betul-betul tidak ada kecocokan, maka lebih baik diakhiri sebelum masuk ke pernikahan. Pertimbangannya: rasa bosan bisa berkembang menjadi rasa tidak suka dan benci pada pasangan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat pasangan berpisah,” katanya.

Untuk kamu yang sedang dalam dilema ini, Pingkan membeberkan kenyataan hidup: “Jujurlah dengan apa yang diri kita rasakan. Misalnya, jelaskan bahwa meski ia baik, ada hal-hal yang tidak cocok dengan diri kita, dan sulit menemukan jalan tengah.”

Jika kamu masih bingung bagaimana melakukannya, berikut format yang bisa kamu contoh.

  • Mulai dengan mengungkapkan perasaan kamu, misalnya bahwa kamu merasa bosan dan frustrasi .
  • Jelaskan situasi spesifik yang membuat kamu merasakan hal di atas.
  • Ungkapkan alasan mengapa situasi tersebut membuat kamu merasa bosan atau frustrasi.
  • Katakan bahwa kamu berniat mengakhiri hubungan.

Semoga saran tadi bermanfaat, ya! Dan jika masalahmu saat ini bukan pasanganmu, melainkan ibu pasanganmu (alias mertua tercinta), psikolog ini membeberkan cara menghadapinya.