Apakah Anakmu Seorang Pembully?

Foto: www.shutterstock.com
Last updated:

Apakah anakmu seorang pembully? Well, simpan dulu jawabanmu.

Sebelum menjawab, mari mengetahui terlebih dahulu data statisk tentang perundunga pada anak. Dikutip dari laman The Asianparent, berdasarkan data yang tercatat oleh World Vision Indonesia, pada tahun 2008, terjadi 1.626 kasus, sementara tahun 2009 meningkat hingga 1.891 kasus bullying di sekolah. Dan angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sementara dilansir dari laman Tempo, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyebutkan dari data bidang pendidikan 2018, kasus anak pelaku kekerasan dan bullying yang paling banyak terjadi. “Dari 161 kasus, 41 kasus di antaranya adalah kasus anak pelaku kekerasan dan bullying,” ujarnya.

Siapakah anak yang melakukan pembullyan tersebut? Mengapa seorang anak yang harusnya lucu, lemah lembut dan baik hati, kemudian melakukan aksi perundungan? Dan bagaimana cara orangtua mengenalinya? LIMONE menghubungi beberapa ahli dan berikut penjelasannya.

Apa Penyebab Anak menjadi Pembully?

Foto: www.unsplash.com

Menurut psikolog anak dan remaja Mutia Aprilia Permata Kusumah, M.Psi mengatakan faktor utama yang dapat meningkatkan risiko anak menjadi pelaku bully tentunya adalah lingkungan keluarga terdekat. “Keluarga yang hangat, terbiasa berkomunikasi terbuka, dan senantiasa menanamkan nilai-nilai positif seperti empati, toleransi, dan kasih-sayang akan menghasilkan anak dengan perilaku yang positif pula. Sebaliknya, jika keluarga cenderung berjarak, penuh konflik, atau membuat anak merasa kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi, risikonya untuk menjadi pelaku bully menjadi lebih besar,” ungkapnya.

“Selain itu, jenis tayangan yang ditonton dan teman-teman terdekat anak juga dapat mempengaruhi persepsi dan keterlibatan anak dalam bullying. Jika kedua hal tersebut  membuat anak beranggapan bahwa bullying adalah suatu hal yang biasa dilakukan di antara teman, sebagai bentuk prank misalnya, tanpa disadari anak dapat menjadi pelaku,” tambahnya melengkapi.

Trianindari M.Psi, seorang psikolog anak dari Lembaga Bimbingan Konseling ITB dan SLB D YPAC Bandung, mengamini bahwa faktor lingkungan (mengalami kekerasan dari orang terdekat), bergaul dengan sesama pembully, menonton video kekerasan atau bermain games kekerasan terlalu lama bisa membuat anak agresif hingga menjadi pembully.

Bagaimana Mengenali Tanda-tanda Anak Seorang Pembully?

Foto: www.shutterstock.com

Sepertinya sah-sah saja jika dikatakan ‘tidak ada orangtua yang ingin anaknya menjadi pembully‘. Sebagai ibu yang baik, tentu kamu tidak ingin anakmu menjadi pembully. Akan tetapi, bisa jadi hal itu terjadi pada anak sendiri. Lantas, bagaimana mengetahui anak menjadi pembully?

Kamu dapat mengenalinya dengan mengamati perilakunya sehari-hari. “Bisa jadi ia dibully di rumah dan ia melampiaskan di sekolah. Main games kekerasan terlalu sering juga berpengaruh buruk pada anak sehingga mereka melakukan kekerasan seperti dalam games,” ucap Trianindari.

“Untuk tanda spesifik sih tidak ada, tiap anak itu beda-beda. Tapi dia sering melakukan beberapa perilaku agresif secara sengaja untuk menyakiti atau mempermalukan anak lainnya.”

Lebih lanjut, Mutia berpendapat bahwa tanda seorang anak menjadi pembully yaitu sering melakukan tindakan agresif. Biasanya membully karena adanya tekanan sosial (peer pressure), ingin menjadi populer, ingin mendapatkan perhatian.

“Untuk tanda spesifik sih tidak ada, tiap anak itu beda-beda. Tapi dia sering melakukan beberapa perilaku agresif secara sengaja untuk menyakiti atau mempermalukan anak lainnya,” ujarnya.

Sama halnya, seorang psikolog klinis Wida Yulia Viridanda, M.Psi., Psikolog mengatakan bisa jadi pelaku bullying merupakan korban sebelumnya. “Adanya unsur kesengajaan, korban tidak senang dengan perilaku tersebut  juga mengajarkan menjadi pelaku dan dilakukanlah secara berulang,” ucap Wida.

Adakah Hal yang Harus Dilakukan Orang Tua?

seorang pembully
Foto: www.shutterstock.com

Cara lain untuk mengetahuinya yaitu dengan melakukan komunikasi terbuka bersifat dua arah. “Selain itu, orangtua dan guru juga harus menjaga komunikasi yang terbuka dengan anak. Dengan demikian, diharapkan ketika ada indikasi bullying yang terjadi di sekitar anak (baik anak sebagai pelaku, korban, atau saksi), orangtua dan guru segera mengetahui dan mampu melakukan intervensi,” jelas Mutia.

Senada dengan itu,Trianindari menyebutkan bahwa orangtua bisa mengetahuinya melalui teman. “Kadang anak tidak akan mau cerita kalau mereka jadi pelaku ataupun korban. Kita bisa tahu dari cerita guru atau temannya. Misalnya ada guru atau orangtua lain yg mangadu soal perilaku anak kita,” paparnya melalui pesan singkat.

Kapan dan Di Mana Bullying Bisa Terjadi?

seorang pembully
Foto: www.shutterstock.com

Bullying kerap terjadi di lingkungan pertemanan (sekolah ataupun rumah). Seringnya saat ia terlibat interaksi sosial dengan teman sebaya, dimulai dari saling bercanda, mengejek sampai ada kekerasan fisik,” ungkap Trianindari.

Mudahnya akses media sosial membuat siapa saja bisa menggunakanya, termasuk anak-anak. Melalui pesan singkat Mutia memaparkan seiring dengan perkembangan zaman, kini bullying bisa terjadi kapan saja dan di mana saja karena pelaku dan korban tidak perlu bertemu langsung. Bullying kini bisa terjadi secara online, yang dikenal dengan istilah cyberbullying. “Anak yang kelihatannya biasa-biasa saja dari luar, bisa jadi sering melakukan cyberbullying di medsos,” tukasnya.

Anak yang kelihatannya biasa-biasa saja dari luar, bisa jadi sering melakukan cyberbullying di medsos.”

Tak jarang kita temui cuitan yang mengejek seseorang pada kolom komentar media sosial.  Bahkan dengan dukungan anonim. “Sekarang perilaku bullying yang dilakukan  di dunia cyber lebih sulit teridentifikasi. Pelaku bisa anonymous dan keberulangan mudah terjadi dengan adanya respon,” ucap Wida.

Sekolah menengah pertama juga sering menjadi lokasi utama perundungan. Kok bisa? Menurut Mutia, bullying rentan terjadi pada anak pelajar dikarenakan alami pubertas atau transisi ke sekolah yang dirasa ‘asing’ setelah 6 tahun di sekolah dasar. Dengan hal-hal tersebut, seringkali anak merasa perlu melakukan bullying untuk menunjukkan eksistensinya atau mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari suatu kelompok yang dianggap ‘keren’.

Tak jarang, seseorang membully temannya karena alasan bercanda. “Anak mulai senang bermain dengan teman sebaya. Mungkin awalnya hanya niat bermain namun mulai ada konflik lalu tanpa sengaja mengejek atau memukul. Jika tanpa pengawasan maka perilaku agresif akan terus berulang,” ujar Trianindari.

Bagaimana Mencegah Anak menjadi Seorang Pembully?

seorang pembully
Foto: www.unsplash.com

Selaku ibu, apa tindakanmu jika anak seorang pembully?

Mutia berpesan mengatasi bullying membutuhkan waktu dan sebaiknya dilakukan sejak dini sebagai upaya preventif. Sedari kecil, orangtua harus menanamkan pada anaknya untuk senantiasa menghargai orang lain. “Caranya, anak harus dicontohkan dan dibiasakan untuk bertutur kata sopan pada lawan bicara, bergiliran dalam menyampaikan pendapat, meminta maaf ketika berbuat salah, berempati, dan menolong orang jika mampu,” kata Mutia.

 “Jika diduga anak membully, hal pertama yang dapat dilakukan mengetahui terlebih dulu penyebab utamanya. Beda penyebab, akan beda pula penanganannya. Orangtua juga harus mengajarkan anak bertanggung jawab atas perbuatan bully yang dilakukan. Pastikan anak meminta maaf pada korban dan mengganti kerugian yang ia alami. Jika anak merusak benda milik korban, belikan ganti benda tersebut dengan memotong uang jajan anak,” sarannya melengkapi.

Jika diduga anak membully, hal pertama yang dapat dilakukan mengetahui terlebih dulu penyebab utamanya. Beda penyebab, akan beda pula penanganannya.

Ia menambahkan anak yang menjadi pelaku cyberbullying batasi penggunaan gadget selama beberapa waktu. Selain itu, orangtua harus mendukung kebijakan sekolah terhadap perilaku bullying anak (selama dirasa masih masuk akal). Hal ini untuk menunjukkan pada anak bahwa perilaku bullying tidak untuk ditoleransi.

Tak kalah pentingnya menurut Trianindari adalah bahwa kedekatan dengan orangtua itu yang utama, dan mereka perlu untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak.

Kurangi untuk memberikan komentar negatif pada anak dan selalu mengapresiasi semua hal baik yang dilakukan anak.

Nah, karena maraknya perilaku bullying disarankan agar lebih mengawasi perubahan-perubahan kecil sekalipun yang terjadi pada anak. Jangan sampai anak menjadi pembully. Dan ini yang harus kamu perhatikan ketika si kecil suka memukul.