Bagaimana Menghadapi Orang Terdekat yang Percaya Teori Konspirasi?

apa itu teori konspirasi
Foto: www.stocksy.com

Beberapa bulan belakangan mungkin kamu semakin sering mendengar istilah ‘teori konspirasi’, apalagi di masa pandemik ini. Apa itu teori konspirasi (apakah teori yang berasal dari inspirasi yang kons-nyol?)—dan yang terpenting: bagaimana menghadapi orang yang bersumpah bahwa teori itu terbukti ‘benar’?

Jika orang ini hanya kamu kenal lewat kanal video YouTube, atau unggahan di media sosial mungkin figur tersebut hanya akan menjadi bahan gosip kamu dan teman-teman. Namun, bagaimana jika orang tersebut adalah orang terdekat (misalnya orangtua, saudara, pasangan, atau sahabat)? LIMONE menghubungi dr. Damba Bestari Sp.KJ, seorang psikiater dari Universitas Surabaya untuk mendapatkan pencerahan tentang apa itu teori konspirasi dan bagaimana menghadapi orang yang memercayainya.

Apa Itu Teori Konspirasi?

Foto: www.freepik.com

“Teori konspirasi adalah keyakinan tentang adanya suatu organisasi/kelompok rahasia (secret group) dan berpengaruh yang bertanggung jawab atas suatu kondisi atau peristiwa. Singkatnya, teori konspirasi adalah suatu keyakinan tak berdasar, bahwa suatu peristiwa sengaja dibuat untuk alasan yang ilegal atau jahat,” jelasnya.

John Cook dan Stephan Lewandowsky, dua ahli yang memiliki pengalaman panjang menghadapi climate denialism, mengatakan bahwa konspirasi nyata (real conspiracy) eksis. Misalnya, peristiwa Volkswagen dan skandal kecurangannya terhadap tes emisi pada 2015.

Bedanya konspirasi sungguhan dengan yang hanya teori? Teori konspirasi “cenderung bertahan untuk waktu yang lama bahkan ketika tidak ada bukti mutlak atas teori tersebut,” tulis keduanya di dalam “The Conspiracy Theory Handbook“.

Dari dulu sampai sekarang, ada banyak teori konspirasi. Majalah TIME mencatat 10 konspirasi teori yang sampai sekarang masih dibicarakan dunia, di antaranya tentang Pembunuhan John F. Kennedy, Pendaratan di Bulan adalah Palsu, CIA dan AIDS, Organisasi Rahasia yang Mengendalikan Dunia, 9/11 Cover-Up, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan teori konspirasi seputar pandemik COVID-19? Ada banyak, termasuk teori tentang kaitan COVID-19 dengan 5G. Teori bahwa Bill Gates adalah otak di balik virus ini. Teori tentang COVID diciptakan sebagai senjata biologis. COVID-19 adalah plot dari Big Pharma. Sampai, teori bahwa sebenarnya virus ini tidak ada.

Dan meski teori konspirasi terdengar konyol bagi sebagian orang, untuk sebagian lain teori terdengar sangat masuk akal. Mengapa seseorang bisa memercayai sebuah teori konspirasi?

“Salah satu teori yg paling sering dinyatakan para ahli psikologi dalam menjelaskan mengapa orang suka teori konspirasi adalah karena dapat memberikan jawaban atas ketidakpastian. Ketidakpastian membuat orang cemas atau insecure, dan teori konspirasi bisa ‘mengompensasi’ perasaan cemas,” jawab Dokter Damba.

“Lebih mudah untuk menerima suatu gagasan bahwa ada dalang/sutradara yang bertanggung jawab atas suatu bencana daripada mengakui jika dalam hidup ini terdapat hal-hal yang sifatnya acak dan sulit diprediksi (di luar batas kemampuan manusia, bahkan seorang ilmuwan sekalipun),” paparnya.

Bagaimana Menghadapi Orang Terdekat yang Percaya Teori Konspirasi?

apa itu teori konspirasi
Foto: www.freepik.com

Jika ini adalah situasi kamu saat ini, Dokter Damba menyarankan untuk melakukan beberapa hal ini.

  • Saat berbincang dengan mereka, buat suasananya seperti diskusi atau percakapan santai, jangan menggurui.
  • Gunakan bahasa yang sesuai. “Bila dengan orang tua, maka bahasanya lebih sopan. Namun, bila dengan pasangan bisa lebih casual,” tuturnya.
  • Berikan empati. “Berusaha memahami bahwa semakin orang merasa dipojokkan, semakin dia akan bersikap defensif dan semakin kuat kepercayaannya terhadap sesuatu. Karena itu, jangan mengejek atau bersikap menjatuhkan dia,” dia mengingatkan
  • Tanyakan, dari mana sumber yang dia temukan dalam mendukung teori. “Ini akan membuat dia berpikir ulang bahwa mungkin sumber yang dia ambil tidak terlalu sahih,” ujarnya.
  • Berikan data-data dari sumber yang sebelumnya dia percaya.

Oh, apakah kita perlu mengonfrontasi dan berdebat mereka tentang kepercayaannya tentang teori tersebut?

“Kepercayaan akan sesuatu mempunyai derajat dari ringan, sedang hingga berat. Kalau ringan hingga sedang mungkin masih bisa diubah walau tidak mudah. Tapi kalau berat tentu lebih sulit. Analoginya adalah seperti ini: apakah kita bisa dengan mudah mengubah adat atau budaya yang sudah dianut seseorang setelah sekian lama, atau membuat orang yang atheis menjadi percaya dengan Tuhan. Tentu sulit,” ujarnya.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Kepercayaan Ini Mengganggu Hubungan?

Foto: www.rawpixel.com

Dokter Damba menjelaskan bahwa, “ini bukan hal yang baru karena dalam kehidupan pasti ada kalanya kita tidak sependapat dengan orang lain, termasuk orang-orang terdekat,” jelasnya. Contoh paling sederhana adalah perbedaan pilihan calon presiden, katanya.

“Dan itu tidak berarti kita harus mengakhiri hubungan dengan mereka, ‘kan? Jadi bila bisa memicu pertengkaran, lebih baik tidak membicarakannya dan beralih dengan hal lain. Sampaikan bahwa sekalipun misalnya teori konspirasi itu benar, apa ada hal yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya,” sarannya.

“Fokus pada hal yang bisa kita lakukan untuk keselamatan kita, yaitu menjalankan berbagai protokol kesehatan sesuai standar. Kecuali bila kepercayaan mereka bisa membahayakan kesehatan kita, maka mungkin kita bisa menjaga jarak,” imbuhnya.

Kapan sebaiknya kita menyerah dan membiarkan mereka dengan pilihan tersebut?

Bila semua langkah di atas sudah kamu lakukan, tapi diskusi tetap tidak membuahkan hasil apapun—justru menyebabkan pertengkaran, “maka mungkin ini waktunya untuk melepaskan. Ingatlah bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, salah satunya adalah pendapat orang lain. Tetaplah jalani hidup dan membicarakan hal lain yang lebih konstruktif,” tegasnya.

Selanjutnya: Cinta beda agama: apakah memiliki masa depan? Coba cek penjelasan psikolog ini.

podcast button