Mengenali Gejala OCD Dan Cara Tepat Mengatasinya Sesuai Saran Psikolog

ocd
Foto: www.freepik.com

Pernah merasa belum mengunci pintu padahal 10 detik lalu kamu baru melakukannya? Jika gejala ini terjadi secara terus menerus dan sangat mengganggu, maka perlu berhati-hati karena bisa saja ini menjadi tanda bahwa kamu mengalami gangguan OCD.

Untuk mengetahui lebih lanjut terkait gangguan mental yang satu ini baca penuturan dari Qaishum Masturoh, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Psylution dan IMPRUV, terkait dampak dan cara mengatasi gangguan OCD yang tepat.

Apa Itu OCD?

ocd
Foto: www.canva.com

Menurut Qaishum, “Obsesive Compulsive Disorder (OCD) itu adalah salah satu gangguan psikologis yang kalau kita lihat di buku panduan psikologis itu masuknya ke dalam gangguan kecemasan. OCD ini biasanya ditandai oleh gejala obsesi dan kompulsif,” paparnya.

“Obsesi ini merujuk pada pikiran mengganggu atau pikiran yang tidak diinginkan, yang muncul terus-menerus di dalam benak seseorang. Sehingga menimbulkan rasa yang tidak nyaman pada orang tersebut,” lanjutnya.

Sementara kompulsif merupakan tingkah laku maupun aktivitas mental yang dianggap harus dan perlu dilakukan untuk meredakan rasa tidak nyaman dari obsesif tersebut.

“Biasanya tingkah laku berulang ini sifatnya memakan waktu yang panjang dari kebanyakan orang. Contohnya ketika seseorang meninggalkan rumah cukup menutup pintu hanya sekali saja, tetapi orang dengan OCD bisa jadi ia mentup pintu hingga berkali-kali,” jelas Psikolog Klinis ini.

Mengapa Seseorang Bisa Mengalami OCD?

ocd
Foto: www.freepik.com

Untuk penyebab OCD sebetulnya sejauh ini tidak ada satu teori pun yang secara kuat menjelaskan mengapa OCD bisa terjadi pada seseorang.

“Banyak yang mencoba menjelaskan kenapa OCD itu terjadi dari berbagai sudut pandang, atau dari berbagai aspek ya baik aspek biochemical, genetik, atau aspek teori learning,” ungkap Qaishum.

“Namun sejauh yang saya tahu, sampai saat ini tidak ada satu aliran yang bisa menjelaskan secara rinci kenapa OCD bisa dialami oleh seseorang,” lanjutnya.

“Dan OCD sendiri itu pertama kali muncul di individu gejalanya bisa berbeda-beda. Ada yang muncul di masa kanak-kanak ada juga yang saat dewasa, bahkan baru muncul saat dia sudah tua. Pada beberapa kasus, kemunculan OCD ini juga bisa tiba-tiba saja menjadi parah. Sedangkan pada kasus lain, kemunculannya ini bisa secara perlahan atau tidak terlihat,” katanya.

Apakah Gangguan Obsesif Kompulsif Ini Berbahaya?

Foto: www.freepik.com

Menurut Qaisuhum, dibanding mengatakan berbahaya, ini lebih ke arah bisa mengganggu keberlangsungan hidup seseorang.

“Bayangkan saat kita punya pikiran yang mengganggu dan secara terus-menerus muncul, serta kita tidak bisa mengendalikannya. Sehingga pikiran tersebut membuat kita jadi sulit untuk melakukan kegiatan sehari-hari,” tuturnya.

“Kebetulan ada salah satu klien yang pernah aku hadapi, ia punya kekhawatiran terhadap keta-kata tertentu. Yang biasa kita temui dalam perkuliahan atau pekerjaan. Misalnya kata ‘orang’,” ujarnya.

Bagi kita, kata orang merupakan kata yang netral. “Tetapi untuknya, kata orang ini menimbulkan rasa yang tidak nyaman. Karena menurunya kata ini terasosiasi dengan adanya kemungkinan peristiwa buruk itu akan terjadi,” lanjut Psikolog Klinis ini.

Saat ia melihat kata orang, maka akan merasa cemas karena merasa sepertinya akan ada peristiwa buruk yang akan terjadi.

“Atau saat kita mau tidur, mungkin buat beberapa orang kepikiran ‘Oh tadi udah tutup pintu belum, ya?’. Mungkin dengan sekali saja sudah cukup untuk kita memastikannya,” contohnya.

“Namun pada orang dengan OCD, itu bisa berulang-ulang muncul pikirannya. Sehingga mendorongnya untuk terus-menerus menutup pintu atau terus menerus mengunci, membuka, dan mengunci lagi,” kata Qaishum.

Pastinya itu akan menghambat keseharian seseorang. “Ketika biasanya jam 10 malam langsung tidur, karena mengalami OCD mungkin tidak bisa langsung tidur. Sebab ia akan menghabiskan waktu selama setengah jam untuk berkali-kali mengunci pintu dan membukanya lagi. Hal ini dilakukan hanya untuk memastikan bahwa ia sudah benar-benar mengunci pintu,” lanjutnya.

“Mungkin yang tadinya mereka lakukan perilaku komplusif ini 10 menit saja untuk meredakan rasa khawatirnya muncul. Namun lama-kelamaan kalau tidak diberikan penanganan yang tepat, 10 menit ini bisa meningkat, misalnya jadi 20 menit sampai lama-lama satu jam,” paparnya.

Pastinya orang yang hanya menutup pintu dan membuka kunci dan dikunci lagi selama satu jam, akan sangat mengganggu untuk kehidupannya sebagai orang dewasa. 

Adakah Dampak yang Ditimbulkan dari OCD?

Foto: www.unsplash.com

Gangguan ini biasanya akan sangat mengganggu untuk keberlangsungan aktivitas atau keberfungsiannya dalam menjalani perannya.

Baca Juga :  Serangan Panik – Apakah Serupa Dengan Gangguan Kecemasan? Ini Kata Psikiater

“Misalnya untuk mahasiswa yang selalu cemas ketika bertemu dengan kata-kata tertentu, ia merasa bahwa kata-kata tersebut merupakan buruk dan memicu pikiran buruk. Ia khawatir itu akan menjadi tanda adanya peristiwa buruk yang akan terjadi,” jelasnya.

“Jadi ia menghapus kata itu, mengetiknya lagi, menghapusnya lagi, sambil dia mengingat gambaran atau peristiwa yang menyenangkan untuknya,” lanjutnya.

Untuk membayangkannya saja sudah cukup sulit terkait apa yang dilakukan mahasiswa ini. “Begitu pun yang ia rasakan,” katanya.

“Memang dampaknya ini sangat terasa ke aktivitas sehari-hari yang dilakukan dengan orang OCD. Karena kesannya jadi aktivitas sederhana yang bisa kita lakukan dalam waktu yang pendek, itu perlu waktu yang panjang untuk mereka,” tambahnya.

Lalu di sisi lain, biasanya ada juga rasa malu yang timbul. “Karena sebetulnya mereka menyadari kekhawatiran atau ketakutan yang mereka miliki dan alami dari pikiran obsesif itu biasanya tidak masuk akal. Biasanya sifatnya aneh, bahkan mereka juga merasa bahwa diri mereka aneh,” ujarnya.

“Tidak jarang juga mereka merasa depresi dan down. Karena merasa bahwa dirinya ‘Kok bisa ya seperti ini’. Ini terjadi ketika mereka tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Bahkan ada juga yang merasa bahwa dirinya seperti orang gila. Dalam artian tidak bisa mengontrol atau mengendalikan pikiran-pikiran mengganggu yang muncul di benaknya,” tambahnya.

Siapa Saja yang Bisa Mengalami Gangguan Ini?

Foto: www.rawpixel.com

Sesungguhnya, OCD ini bisa terjadi oleh siapa saja. Bisa dialami oleh orang dewasa dan remaja maupun anak-anak. Serta bisa kita temukan di budaya mana pun.

“Jadi memang OCD ini bisa muncul kapan pun, bahkan dengan tanda-tanda yang tiba-tiba. Seperti misalnya muncul tiba-tiba saja OCD-nya dalam cakupan yang parah. Bisa juga gangguan ini berkembang secara perahan tanpa kita sadari,” ucapnya.

“Yang perlu diperhatikan, OCD ini tidak hanya tentang seseorang yang peduli dengan kerapian dan kebersihan, tetapi bisa bermacam-macam. Karena OCD sendiri bisa bermacam-macam pikiran obsesifnya,” tegasnya.

Seperti misalnya ia meragukan telah melakukan sesuatu itu secara tepat atau tidak. “Misalnya saat ia khawatir apakah sudah mematikan kompor saat pergi ke luar rumah, sehingga dia punya pikiran ‘Aduh udah matiin kompor belum, ya’,” ujarnya.

“Atau muncul pikiran kompornya tidak mati saat ia tinggal keluar rumah. Sehingga muncul kompulsif secara terus-menerus mencek apakah kompornya sudah mati atau tidak,” lanjut Qaishum.

Lalu ada juga tema pikiran agresif. “Ia memiliki pikiran berulang terkait menyakiti seseorang. Atau dia berperilaku tidak tepat di tempat umum. Ada juga pikiran obsesifnya itu berkaitan dengan keteraturan. Jadi dia khawatir akan ada konsekuensi negatif kalau misalnya peristiwa atau aktivitas di sekitarnya itu tidak teratur,” katanya.

“Misalnya saat ia menaruh sepatu dan merasa harus meletakkannya dalam posisi simetris dan menghadap ke arah tertentu misalnya utara. Karena dia merasa bahwa ketika itu tidak dilakukan akan ada peristiwa buruk terjadi,” lanjutnya.

Jadi OCD sendiri tidak hanya mencakup seorang yang suka kebersihan saja atau seseorang yang khawatir akan tertular virus atau bakteri tertentu. Karena temanya bisa macam-macam untuk pikiran obsesif terkait OCD itu sendiri.

Bagaimana Gejala OCD?

ocd
Foto: www.canva.com

Gejalanya terdapat pikiran obsesif dan ada tingkah laku kompulsif. “Di mana pikiran obsesifnya ini merupakan pikiran berulang dan sifatnya mengganggu atau tidak diinginkan oleh orang yang memiliki pikiran tersebut,” paparnya.

“Dan adanya pemikiran obsesif ini menimbulkan rasa yang tidak nyaman atau pun rasa cemas kepada orang yang memiliki pikiran tersebut. Karena ada perasaan cemas itu, si orang ini berusaha untuk melakukan suatu tindakan tertentu secara berulang-ulang juga seperti ritual. Dengan tujuan untuk menurunkan rasa tidak nyaman yang dimiliki,” tuturnya.

“Misalnya seseorang yang merasa rumahnya belum dikunci dengan benar, atau merasa ketika ia ingin tidur pintu kamarnya tidak dikunci dengan tepat. Jadi dia berkali-kali menutup pintu, dibuka lagi, terus ditutup lagi, untuk memastikan bahwa telah menutupnya dengan tepat,” lanjutnya.

Dan perilaku kompulsif ini tidak dilakukan hanya dalam sekali saja, jadi bisa memakan waktu yang panjang, dari yang umumnya dilakukan.

Seperti saat kita cuci tangan selama 10-30 detik ini sudah cukup. “Tapi orang dengan OCD yang memiliki tema pikiran contamination, ia bisa mencuci tangan selama setengah jam. Atau orang yang khawatir apakah rumahnya sudah ditutup dengan benar, ia bisa membuka dan menutup pintu secara berulang dalam waktu 10 hingga 30 menit,” paparnya.

Kapan Waktu yang Tepat Mengunjungi Ahli Terkait Gejala Ini?

ocd
Foto: www.canva.com

“Waktu yang tepat adalah saat kita pertama kali merasa atau mengenali ada gejala tersebut di dalam diri,” jawabnya.

“Dibandingkan dengan berusaha untuk mendiagnosis sendiri yang mana belum tentu tepat dan kebanyakan akan menjadi sesat, lebih baik kita langsung bertemu dengan profesional untuk melakukan pengecekan atau assessment,” ungkap Qaishum.

Baca Juga :  Bagaimana Membantu Orang Terdekat Yang Mengalami OCD? Ini Saran Psikolog

Dari situ nanti kita bisa dapat penanganan yang tepat kalau misalnya kita memiliki OCD. “Kalau pun misalnya kita merasa ‘Oh kayaknya ini masih bisa diatasi’, tidak apa-apa juga misalnya belum mau ketemu dengan psikolog,” tuturnya.

“Tapi perlu diperhatikan, jika obsesif dan kompulsifnya sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, itu sudah jadi pertanda bahwa kita membutuhkan bantuan psikolog maupun psikiater. Terlepas dari dua opsi tadi, rujukan atau saran pertama untuk bertemu profesional adalah kita sudah siap dan merasa sudah butuh untuk pertolongan tenaga ahli,” lanjutnya.

Bagaimana Mendiagnosis OCD?

Foto: www.freepik.com

Untuk mendiagnosis apakah kita mengalami OCD, hal ini hanya bisa dilakukan oleh psikolog dan psikiater. “Prosesnya biasanya panjang dan tidak hanya dilihat dari gejala atau tanda-tandanya saja,” ucap Psikolog Klinis ini.

“Perlu proses assessment yang komprehensif dan hati-hati untuk menegakkan bahwa seseorang mengalami OCD atau tidak. Biasanya proses ini dapat dilakukan melalui wawancara, observasi, atau pun menggunakan instrumen-instrumen alat tes psikologi tertentu,” tambahnya.

Bagaimana Cara Mengobati Gangguan Ini?

Foto: www.freepik.com

Untuk mengobati gangguan ini, yang pertama memang butuh pertolongan profesional terlebih dahulu.

“Diperlukan konseling yang mendalam dengan psikolog untuk sama-sama dikenali gejalanya seperti apa dalam individu ini. Karena pikiran tiap orang akan berbeda-beda, maka perlu diketahui dulu jenis pikiran obsesif bagaimana yang ada di dalam seseorang tersebut. Perilaku kompulsifnya seperti apa,” anjurnya.

“Jika semuanya sudah diketahui. Itu bisa ditarik dan dicari riwayatnya kapan muncul gangguan tersebut,” katanya.

“Dari situ, psikolog atau psikiater akan membuat treatment plan untuk mengatasi gangguan OCD ini. Baik gangguan diatasi oleh psikoterapi tertentu atau bisa juga dengan memberikan obat-obatan tertentu khusus pada psikiater,” terangnya.

Bisakah Mencegah Terjadinya OCD?

ocd
Foto: www.unsplash.com

“Sebetulnya tidak ada cara spesifik untuk mencegah munculnya OCD,” jawabnya.

“Karena seperti yang dijelaskan, gangguan ini belum diketahui secara pasti permasalahan atau penyebabnya. Yang paling penting adalah mendapatkan treatment secepatnya saat seseorang sudah merasa bahwa dirinya ada permasalahan yang berkaitan dengan OCD ini,” jelas Qaishum.

Penanganan yang tepat dan secepat mungkin, bisa mencegah OCD ini menjadi lebih parah atau memberikan dampak yang semakin negatif bagi aktivitas atau rutinitas seseorang.

Bagaimana Jika Orang Terdekat Kita yang Mengalami OCD?

Foto: www.canva.com

Ketika terdapat orang terdekat kita yang mengalami OCD, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yakni:

Mencoba memahami

Pertama adalah mencoba memahami terlebih dahulu kondisinya dia atau pun ketakutan dan kekhawatirannya terhadap satu hal ini. “Karena bisa jadi memang hal yang dia cemaskan atau khawatirkan tidak masuk akal,” ujarnya.

Itu juga mereka sadari sebenarnya, tapi individu dengan OCD ini memiliki dorongan atau pikiran yang tidak bisa dikendalikan. Mereka yakin bahwa sebenarnya pikiran tersebut akan terbukti atau akurat.

“Misalnya ia berpikir bahwa akan ada peristiwa buruk yang akan terjadi karena telah melihat ada kata-kata tertentu. Buat kita mungkin ini merupakan sesuatu yang mana mungkin sih, mana masuk akal, sih. Tetapi buat mereka, walau tahu itu tidak masuk akal, namun merasa yakin akan terjadi. Sehingga kita perlu menunjukkan sikap pemahaman terlebih dahulu,” katanya.

Meyakinkan mereka

“Yang kedua, kita bisa meyakinkan mereka bahwa apa yang dipikirkan itu belum tentu akurat atau pasti terjadi. Karena yang namanya pikiran itu tidak selalu akurat, ya. Kalau pun akurat, itu biasanya tidak 100%,” ujarnya.

Kita bisa membantu mereka menenangkan diri untuk meredakan kecemasanya. Hal ini bisa dilakukan dengan menarik napas, lalu menghembuskannya secara perlahan.

“Dan sebenarnya sikap yang paling membantu mereka adalah saat kita mengarahkan mereka untuk mencari pertolongan. Atau kita mau menawarkan mereka untuk mencari pertolongan profesional,” pesan Psikolog ini.

“Paling penting, jangan judge mereka. Jangan menilai bahwa apa yang mereka pikirkan itu tidak masuk akal. Karena mereka sendiri juga sebenarnya sudah tahu, tetapi di saat itu mereka merasa bahwa itulah yang benar,” sarannya.

Kesimpulan

ocd
Foto: www.pexels.com

OCD ini tidak hanya seputar tema kebersihan atau kerapian saja, tapi bisa bermacam-macam temanya. “Lalu OCD ini bisa ditemukan atau dikurangi gejalanya menjadi manage-able apabila memang tindakan atau penanganan dari pihak profesional segera diberikan,” ungkap Qaishum.

“Oleh karena itu kalau misalnya kita merasa di dalam diri terdapat gejala kompulsif atau pikiran obsesif, ada baiknya segera lakukan konsultasi ke pihak profesional. Begitu pun ketika melihat di sekitar kita ada orang-orang tertentu yang memang menunjukkan gejala tersebut. Dianjurkan untuk segera diarahkan agar mau melakukan konsultasi. Dan juga tidak dihakimi,” pesannya.