Tanya Ahli: Apa Itu Kehamilan Ektopik?

apa itu kehamilan ektopik
Foto: www.freepik.com

Bagi kebanyakan pasangan yang telah menikah, tentunya kehamilan merupakan hal yang paling dinanti-nantikan. Akan tetapi, tidak semua kehamilan dapat berjalan dengan lancar dan mulus hingga melahirkan buah hati. Salah satunya kasus kehamilan ektopik. Namun, apa itu kehamilan ektopik? Bagaimana cara mengatasinya?

Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu, maka LIMONE  telah menghubungi dr. Lucy Lisa SpOG KFER, Spesialis Obstetri & Ginekolog dari RS YPK Mandiri, RS Medistra, dan RS MTSJ yang akan membahas terkait kehamilan ektopik.

Apa Itu Kehamilan Ektopik?

apa itu kehamilan ektopik
Foto: www.freepik.com

Menurut Dokter Lucy, “kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan adalah kehamilan yang berkembang tidak pada rahim yang mana seharusnya janin tumbuh dan berkembang,” paparnya.

Kehamilan ektopik ini dapat terjadi karena adanya gangguan dalam transportasi hasil konsepsi atau hasil pembuahan ke dalam rahim. “Tempat yang paling sering untuk kehamilan luar kandungan adalah saluran telur atau tuba fallopi. Kehamilan ini bisa berkembang hingga 6-10 minggu,” imbuhnya.

Lantas, apakah kehamilan luar kandungan merupakan kondisi yang berbahaya?

Ketika muncul gejala lanjutan seperti nyeri yang sangat hebat “dan terjadi perdarahan hebat dalam rongga panggul yang dapat menyebabkan syok (pingsan) sehingga mengancam jiwa, (kehamilan ektopik) merupakan kondisi darurat (emergency),” jelas Dokter Lucy.

Sementara jika berbicara tentang faktor yang meningkatkan risiko kehamilan ektopik yaitu berhubungan dengan infeksi.

“Adanya peradangan dan/atau infeksi pada saluran telur (tuba) dapat menyebabkan rusaknya cilia atau rambut halus yang terdapat dalam saluran telur. Sehingga dapat mengganggu fungsi transportasi dari saluran telur yang seharusnya membawa hasil konsepsi ke dalam rahim,” tuturnya.

Ketika mendapati kondisi ini, maka “sebaiknya segera periksakan kehamilanmu segera setelah testpack. Serta untuk mendeteksi kantong kehamilan, apakah kantong hamil terdapat dalam kandungan atau tidak,” anjurnya.

Bagaimana Gejala dari Kehamilan Ektopik?

apa itu kehamilan ektopik
Foto: www.freepik.com

Umumnya, “gejala awal hamil di luar kandungan adalah berupa flek atau perdarahan minimal yang disertai dengan nyeri perut bawah atau kram. Sementara ketika pemeriksaan USG, maka tidak ditemukan adanya kantong hamil di dalam rahim, meski pada tes kehamilan menunjukkan positif hamil,” terangnya.

Selain itu, terdapat gejala lanjutan bila saluran telur tidak mampu lagi menampung kehamilan yang terus berkembang. “Saluran telur tersebut dapat pecah atau sobek, sehingga menimbulkan gejala nyeri yang sangat hebat,” katanya.

“Serta terjadi perdarahan yang banyak dalam rongga panggul yang dapat menyebabkan syok (pingsan) sehingga mengancam jiwa dan (kehamilan ektopik) merupakan kondisi darurat atau emergency,” tambah Dokter Lucy.

Bagaimana Mendiagnosis Kehamilan Ektopik?

apa itu kehamilan ektopik
Foto: www.shutterstock.com

Untuk mendiagnosis kehamilan ektopik, hal ini bisa dilakukan “dengan USG transvaginal yang merupakan langkah terbaik untuk mendeteksi kantong kehamilan. Pada kehamilan luar kandungan, tidak terdapat kantong kehamilan dalam rahim atau bisa saja ditemukan kantong kehamilan palsu,” ujarnya.

Lalu bagaimana cara membedakannya? “Dengan melihat struktur yang terdapat dalam kantong tersebut. Pada kondisi lanjut, maka bisa ditemukan 'massa kompleks' dan cairan bebas di area luar rahim,” jawabnya.

“Ketika tidak ditemukan kehamilan dalam rahim, di mana pada kondisi ini biasanya telah terjadi robekan pada dinding tuba dan perdarahan dalam rongga panggul,” imbuh Spesialis Kandungan dan Kebidanan ini.

Kemudian, apakah mungkin bisa melahirkan bayi dengan selamat meski mengalami kehamilan luar kandungan?

“Untuk kehamilan tuba, tidak memungkinan untuk melahirkan bayi dengan selamat. Karena diameter tuba (saluran telur) sangat kecil, dan kemampuan meregangnya terbatas hingga maksimal usia kehamilan 10-11 minggu,” jawabnya.

Sementara untuk kehamilan abdominal atau “kehamilan ektopik di mana janin tumbuh di rongga perut, masih memungkinkan bayi berkembang apabila plasenta berimplantasi pada area dengan suplai pembuluh darah yang banyak. Namun hal ini sangat jarang terjadi dan sangat berisiko terhadap kondisi gawat darurat,” tambahnya.

Bagaimana Cara Menangani Kehamilan Luar Kandungan?

Foto: www.freepik.com

Untuk menangani kehamilan luar kandungan, hal ini bisa dilakukan melalui beberapa cara. Di antaranya adalah dengan “pemberian obat untuk menghentikan perkembangan janin yang masih memungkinkan pada kehamilan ektopik dengan kondisi yang stabil atau belum pecah,” terangnya.

Selain itu, bisa juga dilakukan “bedah laparaskopi, yang merupakan pilihan dari tindakan terbaik untuk mengidentifikasi sumber perdarahan. Serta untuk mengevakuasi kehamilan luar kandungan,” lanjut Dokter Lucy.

Dengan bedah laparaskopi, “penyembuhan luka operasi akan lebih cepat (pulih) dibandingkan prosedur bedah konvensional,” katanya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan tentunya perlu segera diatasi. Hal ini bisa dilakukan dengan mengunjungi dokter spesialis obstetri & ginekologi.

Selain itu, ketika pernah mengalami kondisi ini pada kehamilan sebelumnya, maka Dokter Lucy menuturkan bahwa terdapat “risiko berulang sebesar 10-20% pada kehamilan berikutnya,” tuturnya.

Namun, “meski risiko berulang hanya 10-20%, tetapi penyebab dan faktor risiko terjadinya kehamilan luar kandungan perlu dinvestigasi. Serta penting untuk melakukan pemeriksaan kehamilan sedini mungkin,” anjurnya.

Dokter Lucy juga menambahkan bahwa “mengobati keputihan dan penyakit infeksi panggul merupakan salah satu upaya pencegahan (kehamilan ektopik),” imbuhnya.