Benarkah Anak Bungsu Lebih Manja? Ini Kata Psikolog Anak

anak bungsu adalah
Foto: www.canva.com

Menurut sebagian orang, hal yang paling identik bagi anak bungsu adalah sikapnya yang manja. Hal ini menyebabkan munculnya sindrom anak bungsu yang dapat berdampak bagi kehidupan buah hati.

Dewinta Fertila, S.Psi, M.Psi, Psikolog, seorang Psikolog Anak dan Keluarga dari Biro Psikologi Magnaka dan psikologianak.id, yang menjelaskan bahwa menurut KBBI, anak bungsu adalah anak yang termuda dari sebuah keluarga.

“Jadi anak bungsu itu adalah anak paling kecil yang berada dalam suatu keluarga yang terdiri dari suami istri,” katanya.

Benarkah Urutan Kelahiran Bisa Berdampak pada Kepribadian Anak?

Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, kehidupan seorang anak bisa dipengaruhi oleh berbagai hal.

“Menurut seorang psikiater bernama Alfred Adler, kehidupan anak tidak hanya dipengaruhi oleh ayah, ibu, atau orang dewasa di sekeliling anak, namun kehadiran atau ketidakhadiran kakak dan adik juga turut memengaruhi seorang anak,” katanya.

“Artinya, kepribadian anak akan terbentuk secara kompleks karena menyangkut bagaimana peran lingkungan sosial anak, serta bagaimana penghayatan anak terhadap perilaku lingkungan tersebut,” lanjutnya.

Kepribadian sendiri bukanlah hal yang bersifat internal saja, tetapi merupakan gaya hidup seseorang yang bisa mengacu ke dalam tiga hal, yaitu:

  • Bagaimana seorang individu menjalani kehidupannya
  • Bagaimana ia menghadapi permasalahan hidup
  • Serta bagaimana ia menjalin relasi interpersonalnya

Dewinta kembali memaparkan bahwa urutan kelahiran bisa saja berdampak pada kepribadian anak, namun tidak berarti memiliki keterkaitan langsung.

“Ada dinamika dan perbedaan antara sesama anak sulung, anak tengah, anak bungsu, bahkan sesama anak tunggal terkait dengan pola asuh, lingkungan sosial, serta bagaimana ia memaknai lingkungan sosial tersebut,” tuturnya.

Hal yang perlu diperhatikan terhadap gaya hidup seorang anak adalah dalam tiga situasi masa kanak-kanak, yang kemudian membuat buah hati tidak berkembang secara optimal di masa yang akan datang, serta bisa membuat anak merasa inferior atau merasa tidak mampu terhadap dirinya sendiri.

Berikut situasi yang harus diperhatikan:

1. Kondisi anak yang masa kecilnya sering sakit

Beberapa anak mungkin mengalami sakit yang cukup parah sewaktu kecil.

“Mereka bisa berpotensi menjadi anak yang self-centered karena terbiasa mendapatkan perhatian dan perawatan menyeluruh dari orang tua dan orang dewasa di sekitarnya, serta tidak terbiasa melihat atau memperhatikan orang lain,” ungkapnya.

Perlu diperhatikan, bahwa tidak semua buah hati akan menjadi anak yang cuek atau mementingkan diri sendiri. Jika ditangani dengan baik dan berada di dalam lingkungan sosial yang bersifat mendukung, maka kepribadian anak bisa berubah.

2. Anak yang manja

Kebanyakan anak yang manja memang terbiasa untuk mendapatkan semua yang diinginkan. “Bahkan semua keinginannya selalu diberikan, tanpa perlu berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan olehnya,” tutur Dewinta.

“Tidak jarang, secara sengaja memang anak tersebut dimanjakan oleh orang tuanya. Sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk berjuang mendapatkan apa yang diinginkan olehnya,” lanjut Psikolog Anak ini.

3. Anak yang diabaikan atau mengalami kekerasan

Selain itu, anak yang diabaikan atau mengalami kekerasan juga harus diperhatikan.

“Anak-anak ini tumbuh dalam kondisi yang terbiasa merasakan dirinya tidak berharga, pendapatnya tidak pernah didengarkan, dan apa pun yang dilakukan harus mengikuti apa yang telah diatur oleh orang tua,” katanya.

Bahkan ada juga yang dibiarkan ‘berkembang sendiri’ atau sebaliknya, dibesarkan dengan pola pengasuhan otoriter.

Bagaimana Karakter Seorang Anak Bungsu?

anak bungsu adalah
Foto: www.canva.com

Karena lingkungan sosial dan penghayatan anak terhadap perilaku orang yang berada di sekelilingnya, maka anak bungsu biasanya memiliki karakter yang bisa dikatakan berbeda dengan saudaranya.

“Anak bungsu terbiasa menjadi anak paling kecil dan anak yang harus dibimbing oleh yang lebih besar, tidak hanya oleh orang tua tetapi juga oleh kakak-kakaknya. Hal ini membuat anak bungsu harus berjuang untuk bisa membuktikan dirinya sebaik anggota keluarga lain (kakak-kakaknya),” papar Dewinta.

Terdapat dua karakter anak bungsu, yakni:

1. Menjadi anak yang paling bisa diandalkan

Bagi anak bungsu, menjadi anak yang paling bisa diandalkan dibandingkan dengan anak lain dalam keluarga merupakan sebuah kesuksesan. “Karena ia berusaha untuk sebaik yang lain atau lebih baik dari saudaranya,” ujar Psikolog Anak ini.

Biasanya anak yang seperti ini memiliki beberapa kelebihan, seperti mempunyai banyak ide, lebih ceria, dan mudah berinteraksi dengan orang lain termasuk dengan orang yang berusia lebih tua.

Selain itu, anak bungsu juga memiliki impian dan rencana yang besar, dekat dengan orang tua, menyenangkan, percaya diri, dan beberapa ada yang bersifat perfeksionis.

2. Menjadi anak yang tidak bisa melakukan apa pun

Namun, karakter lain dari anak bungsu adalah tidak bisa melakukan apa pun dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. “Hal ini disebabkan karena buah hati tidak terbiasa untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri,” tuturnya.

Sehingga nantinya ia menjadi anak yang sangat bergantung dengan pendapat orang lain, sering ragu atau sulit mengambil keputusan karena terbiasa harus mendapatkan persetujuan dari orang lain, manja.

Selain itu, ada kemungkinan juga dia sulit untuk bertanggung jawab dalam kehidupannya, baik secara akademik, finansial, pekerjaan, atau aspek kehidupan lain.

Mengapa Anak Bungsu Sering Dicap sebagai Anak Manja?

anak bungsu adalah
Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, tidak semua anak bungsu memiliki sikap yang manja dan tidak dewasa. Ada juga yang justru mempunyai ambisi dan rencana-rencana besar dalam hidupnya.

“Hal ini akan sangat berpengaruh dengan bagaimana lingkungan keluarga sebagai lingkungan sosial pertama dalam memperlakukan anak bungsu tersebut,” ujarnya.

“Jika keluarga terbiasa untuk mendampinginya dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi, maka ia tidak akan berkembang menjadi anak yang manja,” ungkap Psikolog Klinis Anak ini.

Anak bungsu yang dimanjakan, akan sulit untuk berkembang menjadi dewasa dan independen (mandiri).

Hal ini disebabkan karena kesempatannya untuk menyelesaikan permasalahannya telah direnggut oleh orang dewasa, dan ia diberikan kemudahan sehingga hanya tinggal menjalaninya saja.

“Syarat menjadi dewasa ini sendiri adalah ketika seseorang dapat mengambil keputusan tertentu dari berbagai alternatif pemecahan masalah yang dimiliki,” imbuhnya.

“Ketika orang tua memanjakan anak, maka buah hati tidak mengembangkan kemampuan penyelesaian masalah, tidak mengalami trial error untuk menyelesaikan masalah, sehingga tidak terbiasa untuk salah,” paparnya.

Hal ini bisa dialami oleh anak bungsu karena dianggap masih kecil, tidak tahu apa-apa, dan bahkan tidak didengarkan pendapatnya.

Bagaimana dengan Pengertian ‘Sindrom Anak Bungsu’?

Foto: www.freepik.com

Sesungguhnya, sindrom anak bungsu adalah lebih dilihat sebagai dampak negatif dari memanjakan anak yang terkait dengan pengasuhan di dalam keluarga.

“Jadi bukan merupakan kumpulan simtom-simtom yang mengarah pada diagnosa gangguan perkembangan anak atau pun penyakit tertentu yang jelas secara ilmiah,” terangnya.

Istilah sindrom anak bungsu dengan bijak harus dilihat lebih ke arah judgement yang diberikan karena anak bungsu kerap kali dimanjakan dan dibedakan dari beberapa saudaranya.

“Hal ini sebenarnya tidaklah bersifat pasti,” tegasnya.

“Karena pada beberapa budaya, yang lebih dimanjakan bisa saja anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, atau anak perempuan yang sangat dinantikan kehadirannya, sehingga tidak hanya anak bungsu saja. Ini sangat bergantung pada perbedaan budaya atau karakteristik keluarga,” imbuhnya.

Namun benang merahnya adalah kondisi di mana orang tua yang memanjakan anak. Karena pemanjaan itu memiliki efek yang tidak baik terhadap perkembangan anak kedepannya, terkait kemandirian dan kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya.

Mengapa Buah Hati Bisa Mengalami Sindrom Anak Bungsu?

anak bungsu adalah
Foto: www.rawpixel.com

Sindrom anak bungsu adalah di mana orang tua yang memanjakan anak. “Hal ini bisa terjadi karena sering kali orang tua merasa ‘tidak tega’ jika melihat anak kesayangannya mengalami permasalahan, sehingga langsung memberikan apa yang diinginkan oleh anak,” ujar Dewinta.

Pengalaman hidup orang tua sebelumnya yang serba sulit secara ekonomi juga sering kali menjadi pembenaran orang tua untuk tidak ingin anak-anaknya merasakan kesulitan yang sama.

“Ini membuat orang tua akan memanjakan anak dengan memenuhi semua hal yang diinginkan oleh buah hati,” ujarnya.

“Bahkan sangat berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak, biasanya kebutuhan yang bersifat fisik seperti membelikan mainan yang diminta anak, makanan, mengerjakan PR, mengambilkan buku yang ketinggalan di rumah, mengantarkan bekal, dan lainnya,” paparnya.

Selain itu, terdapat penyebab lain yang bisa terjadi yakni dikarenakan karena urusan pekerjaan dan kesibukan orang tua.

“Sehingga untuk menggantikan waktu yang hilang itu, orang tua kemudian memberikan apa pun yang diinginkan oleh anak, menuruti, bahkan sangat merasa bersalah ketika harus menolak keinginan anak,” lanjutnya.

Bagaimana Ciri-ciri Buah Hati yang Mengalami Sindrom Anak Bungsu?

Foto: www.canva.com

Dewinta menjelaskan bahwa anak yang dimanjakan biasanya akan terlihat dari beberapa hal, yakni:

  • Tidak pernah serius ketika mengerjakan sesuatu
  • Tidak sabaran
  • Mudah marah dan sulit menerima kata tidak, bahkan saat usianya sudah bukan anak-anak
  • Mudah putus asa ketika menghadapi permasalahan
  • Gampang menyerah
  • Tidak bisa menanggung permasalahan

Lantas, apakah hal ini bisa berdampak pada kehidupan anak?

“Perilaku manja pasti akan berdampak ke depannya pada perilaku anak. Seperti sulit untuk memilih jurusan yang diinginkan ketika kuliah, bahkan putus kuliah karena merasa bosan, atau tidak mengikuti perkuliahan yang dianggap berat,” jawabnya.

Selain itu, bisa juga membuatnya terus mengalami cekcok dalam rumah tangga karena tidak terbiasa mengatasi persoalan-persoalan yang dialaminya.

Ini merupakan bentuk-bentuk permasalahan yang terjadi pada anak yang terbiasa dimanja pada umumnya, atau anak bungsu yang sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya.

Bagaimana agar Buah Hati Tidak Mengalami Sindrom Anak Bungsu?

Foto: www.freepik.com

Dewinta memaparkan bahwa sebenarnya anak bungsu memiliki potensi yang tidak dimiliki oleh saudara-saudaranya, yaitu kedekatan dengan orang tua. Apalagi jika ia memiliki usia yang terpaut jauh dengan saudaranya.

“Jika dilihat secara jeli oleh orang tua, ini menjadi saat yang tepat untuk memberikan bentuk komunikasi yang mendukung pada anak. Mendengarkan pendapatnya, serta meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman tentang harapan orang tua, pengalaman hidup, atau bertukar pikiran dan bercerita,” katanya.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua Jika Buah Hati Mengalami Sindrom Anak Bungsu?

anak bungsu adalah
Foto: www.canva.com

Ketika buah hati telah mengalami sindrom anak bungsu, orang tua perlu mengetahui terlebih dahulu apa alasan mereka memanjakan anak bungsu ini.

“Kemudian menyadari bahwa kemudahan yang diberikan pada anak ini dapat merenggut kesempatannya untuk mengembangkan kemampuan penyelesaian masalah,” sarannya.

“Perlu adanya komitmen kuat dari seluruh anggota keluarga untuk mulai memberikan perlakuan yang lebih mendukung kepada anak, dan percaya bahwa anak bungsu memiliki kemampuan untuk bisa mandiri dalam kehidupannya, seperti saudara yang lain,” tambahnya.

Cobalah untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi anak agar bisa mengekspresikan kemampuan yang dimiliki. Berikan dukungan terhadap hal-hal positif dan selalu ingatkan diri agar selalu berdiskusi dan mendengarkan pendapat anak.

Adakah Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua dalam Menerapkan Pola Asuh?

Foto: www.freepik.com

Menurut Dewinta, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menerapkan pola asuh anak, yakni:

Berikan kesempatan pada anak

“Jangan mengambil alih kesempatan anak untuk menyelesaikan sendiri permasalahannya. Berikan petunjuk tahap demi tahap jika diperlukan, berbesar hatilah dengan cara anak menyelesaikan masalahnya,” saran Dewinta.

Ungkapkan dengan santun

Cobalah untuk menyampaikan keberatan atau protes terhadap perilaku anak dengan cara yang santun.

Kemudian dengarkan alasannya dan perbaiki secara terus-menerus terkait komunikasi dengan anak. Sehingga buah hati bisa menyampaikan apa pun yang ia pikirkan dan rasakan tentang banyak hal.

“Ketika dewasa, anak tetap menganggap pendapat orang tua menjadi pertimbangannya dalam memutuskan apa pun. Sehingga ia bisa memutuskan sendiri setiap keputusan dalam hidupnya,” tambahnya.

Hindari beberapa hal

Psikolog Klinis Anak ini juga menyarankan agar orang tua menghindari beberapa hal. Seperti memanjakan anak, menyepelekan, dan melakukan kekerasan baik verbal maupun fisik, karena anak adalah peniru ulung.

“Contohkan perilaku yang baik kepada anak, dan teruslah bersabar sebagai orang tua,” anjurnya.

Selalu meningkatkan diri

Dewinta juga menyarankan agar tidak segan untuk meningkatkan diri tentang pengasuhan anak. Terapkan sesuai dengan norma dan karakteristik keluarga.

“Serta, tidak segan untuk meminta pertolongan profesional ketika diperlukan. Karena membesarkan dan mendidik anak butuh kerjasama dari banyak pihak,” tuturnya.

Kesimpulan

anak bungsu adalah
Foto: www.pexels.com

Psikolog Klinis Anak ini mengungkapkan bahwa anak bungsu memiliki hak yang sama dengan anak lainnya.

“Perlakukanlah dengan respek dan jalin kedekatan emosional dengan anak. Seringlah untuk memberi kesempatan pada anak untuk memutuskan hal-hal yang kecil terlebih dahulu, sebagai latihan untuk memutuskan hal-hal yang besar dalam kehidupannya kelak,” sarannya.

“Perlu diingat, memanjakan anak dengan fasilitas dan selalu menjadi orang yang menyelesaikan semua permasalahan anak, akan membebani orang tua ketika anak menjadi dewasa,” tuturnya.

Sementara untuk anak bungsu, disarankan untuk selalu mencari cara agar bisa menjadi versi terbaik dari diri.

“Melatih diri untuk menyelesaikan permasalahan apa pun dapat berpengaruh pada bagaimana kamu menjalani kehidupan. Serta menghadapi permasalahan hidup dan bagaimana menjalin relasi interpersonal,” anjurnya.