Bagaimana Memenuhi Kebutuhan Protein Jika Seseorang Alergi Protein?

alergi protein
Foto: www.gettyimages.com

Protein merupakan salah satu makronutrien yang penting untuk tubuh. Meski begitu, terdapat sebagian orang yang justru mengalami alergi ketika mengonsumsi nutrisi tersebut. Lantas, bagaimana seseorang memenuhi kebutuhan proteinnya jika ia memiliki alergi protein?

Jika kamu penasaran dengan jawabannya, jangan khawatir karena LIMONE  telah menghubungi dr. Mutia Winanda, M.Gizi, Sp.GK, Spesialis Gizi Klinik dari RSUD Meuraxa Banda Aceh yang akan membahas terkait alergi nutrisi yang satu ini dan cara mengatasinya.

Apa Itu Alergi Protein?

alergi protein
Foto: www.freepik.com

“Alergi protein adalah reaksi hipersensitivitas sistem kekebalan tubuh terhadap protein yang berasal dari makanan. Terdapat beberapa tipe dari reaksi alergi yang ada, mulai dari gejala ringan seperti hanya gatal atau ruam pada kulit, hingga yang paling berat yakni syok anafilaksis,” jelasnya.

Alergi jenis ini biasanya dapat terjadi ketika mengonsumsi makanan yang mengandung protein tertentu yang menjadi pemicu alerginya.

Akan tetapi, “bisa juga terjadi melalui jalur lain. Misalnya dari suntikan vaksin atau obat tertentu yang mengandung protein. Serta bisa juga terjadi saat adanya kontak kulit dengan protein yang terdapat pada hewan, tumbuhan, atau benda-benda tertentu,” paparnya.

Menurut Dokter Mutia, “alergi protein akan menjadi kondisi yang berbahaya jika reaksi alergi yang muncul adalah reaksi yang berat seperti syok anafilaksis, yang bisa mengancam nyawa,” ujarnya.

Makanan Apa Saja yang Bisa Menyebabkan Alergi Protein?

Foto: www.freepik.com

Dokter Mutia mengatakan bahwa pada dasarnya makanan yang mengandung protein (alergen) akan memicu reaksi alergi pada orang yang memiliki alergi protein. Namun, “reaksi yang muncul akan tergantung pada tingkat sensitivitas tubuh terhadap alergennya,” ucapnya.

Terdapat beberapa makanan yang sering memicu alergi, yakni:

  • Susu
  • Telur
  • Makanan laut
  • Kacang-kacangan

“Makanan-makanan tersebut dapat menimbulkan reaksi alergi, karena alergen yang terdapat dalam makanan tersebut akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan. Sehingga merangsang tubuh untuk melepaskan sel-sel antibodi, yang disebut dengan immunoglobulin-E (IgE),” ungkap Spesialis Gizi Klinik yang satu ini.

Immuglobulin-E kemudian akan menuju sel-sel yang melepaskan bahan kimia seperti histamin ke dalam aliran darah. “Histamin inilah yang menimbulkan tanda dan gejala alergi seperti gatal, hidung berair, bersin, muntah atau diare dan syok anafilaksis. Alergen yang terdapat pada telur adalah ovomucoid, pada susu adalah casein, dan pada kacang adalah vicilin,” paparnya.

Apa Saja Jenis-jenis Alergi Protein?

alergi protein
Foto: www.freepik.com

Berdasarkan penyebabnya, alergi protein dibagi menjadi 2 yakni, “yang diperantai oleh IgE dan ada yang tidak diperantai oleh IgE atau disebut dengan non-IgE. Pada alergi non-IgE gejala yang muncul akan lebih lambat tetapi tidak sampai menimbulkan reaksi yang berat seperti syok anafilaksis,” kata Dokter Mutia.

Alergi protein yang disebabkan oleh susu, telur, seafood, dan kacang-kacangan, biasanya diperantai oleh IgE. Sementara, “non IgE itu lebih sulit untuk dikenali karena reaksinya lambat,” tambahnya.

Lantas, bagaimana seseorang memenuhi kebutuhan protein jika ia memiliki alergi protein?

“Untuk memenuhi kebutuhan protein pada orang yang mengalami alergi protein, tetap dapat dilakukan dengan cara mengonsumsi bahan makanan sumber yang tidak termasuk pemicu. Bahan-bahan yang bukan pemicu reaksi alergi dapat dikonsumsi secara bervariasi agar dapat memenuhi kebutuhan asam amino esensial,” jawabnya.

Bagaimana Gejala dari Alergi Protein?

Foto: www.xframe.io

Terdapat beberapa gejala yang bisa dirasakan, yakni:

Gejala ringan

Ketika mengalami alergi protein dengan gejala yang ringan, maka kamu dapat merasakan:

  • Gatal
  • Ruam kemerahan pada kulit
  • Bengkak pada bibir atau mata
  • Hidung berair
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Sakit perut

Gejala berat

Sementara jika terjadi gejala berat, hal ini dapat ditandai dengan:

  • Sulit bernapas karena adanya pembengkakan pada saluran napas
  • Denyut nadi cepat
  • Tekanan darah menurun
  • Pingsan

Tanda-tanda tersebut disebut dengan syok anafilaksis yang merupakan gejala alergi yang paling berat.

Biasanya, “alergi memang lebih sering terjadi pada anak-anak. Namun seiring dengan bertambahnya usia maka biasanya akan berkurang. Tetapi bisa juga onset alergi terjadi pada orang yang sudah dewasa,” katanya.

“Paparan alergen dari makanan bisa saja tidak langsung menimbulkan reaksi alergi saat itu juga, namun setelah paparan berulang-ulang kali baru terjadi reaksi alergi. Ini yang biasa terjadi pada orang dewasa,” jelasnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Alergi Protein?

alergi protein
Foto: www.freepik.com

Untuk mengatasi alergi protein, hal ini tentunya dapat dilakukan “dengan menghindari alergen yang menjadi pemicunya. Sebaiknya terlebih dahulu melakukan pemeriksaan alergi untuk memastikan makanan apa saja yang dapat memicu alergi,” sarannya.

Sementara untuk alergi dengan gejala yang ringan, maka bisa hilang dalam waktu kurang dari 24 jam. “Jika yang muncul reaksi ringan, bisa diatasi dengan obat-obatan antihistamin. Namun sebaiknya tetap di bawah pengawasan dokter,” tambah Dokter Mutia.

Akan tetapi, apakah bisa mencegah munculnya alergi jenis ini?

“Reaksi alergi dapat dicegah dengan menghindari pemicunya. Orang dengan alergi sebaiknya memiliki catatan yang berisi makanan apa saja yang dapat memicu reaksi alerginya. Pastikan juga selalu membaca label keterangan pada kemasan makanan sebelum mengonsumsinya,” ujarnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Seseorang dengan alergi protein sebaiknya mengetahui dengan pasti terkait bahan makanan apa saja yang dapat memicu alerginya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemeriksaan dokter.

“Dengan demikian, bisa dicari alternatif pengganti dari bahan makanan pemicu tersebut agar tetap dapat memenuhi kebutuhan proteinnya,” anjur Dokter Mutia.

Namun, Spesialis Gizi Klinik ini juga menganjurkan untuk mengunjungi dokter jika reaksi alergi yang dirasakan dapat cukup mengganggu kualitas hidup sehari-hari, “misalnya reaksi alergi yang muncul menyebabkan seseorang tidak dapat beraktivitas,” ujarnya.

Sementara, “jika reaksi alergi yang terjadi termasuk alergi yang berat seperti kesulitan bernapas atau penurunan kesadaran, maka sebaiknya langsung menuju unit gawat darurat terdekat untuk mendapat pertolongan,” sarannya.